Nirmal Purja Hilang Tertimbun Longsor di Broad Peak: Ekspedisi 10 Pendaki Putus Kontak
Baca dalam 60 detik
- Pendaki legendaris asal Nepal, Nirmal Purja, bersama sembilan rekannya dilaporkan hilang setelah longsoran salju menerjang Broad Peak di Pakistan.
- Tim penyelamat dikerahkan dengan helikopter militer, namun hingga kini seluruh kru ekspedisi belum dapat dihubungi.
- Insiden ini menyoroti tingginya risiko pendakian gunung berketinggian 8.000 meter, yang kerap menguji batas fisik dan mental para pendaki.

Longsoran salju yang menerjang Broad Peak (8.047 meter) di kawasan Karakoram, Pakistan utara, pada Kamis malam (31/7) memutus kontak dengan sepuluh pendaki yang dipimpin oleh Nirmal Purja, salah satu nama paling disegani di dunia pendakian. Alpine Club of Pakistan (ACP) mengonfirmasi bahwa tim yang dipimpin Purja tidak dapat dihubungi sejak insiden tersebut, memicu operasi pencarian besar-besaran yang melibatkan helikopter militer.
Ekspedisi ini terdiri dari warga negara beragam: lima pendaki Nepal, satu warga Pakistan, satu warga Oman, satu warga Amerika Serikat, satu warga China, dan satu warga asing lainnya. ACP menyebut laporan awal menunjukkan longsoran menimpa tim saat mereka berada di rute pendakian, namun detail lokasi pasti masih belum terkonfirmasi. Tim penyelamat yang diterjunkan dengan dua helikopter Angkatan Darat Pakistan membawa personel dan peralatan khusus untuk menjangkau area terdampak.
Nirmal Purja, 43 tahun, bukan nama asing di dunia pendakian. Pria yang pernah bertugas di Brigade Gurkha Inggris dan Royal Marines ini memegang rekor pendakian 14 puncak tertinggi dunia (eight-thousanders) dalam waktu enam bulan enam hari pada 2019. Dua tahun kemudian, ia memimpin pendakian musim dingin pertama K2 bersama sembilan pendaki Nepal. Pekan ini, Purja menulis di media sosial bahwa ia tengah mengejar rekor baru: menjadi orang pertama yang menaklukkan 14 puncak tersebut dua kali tanpa bantuan oksigen tambahan.
Dalam unggahan terakhirnya sebelum longsor, Purja menulis, "Broad Peak, aku hanya meminta jalan yang aman untuk naik dan turun. Aku tidak menganggap remeh gunung mana pun. Tidak satu pun. Begitu kaki meninggalkan basecamp, itu 100 persen. Selalu begitu. Akan selalu begitu." Pernyataan itu mencerminkan filosofi pendakiannya yang selalu menekankan kesiapan penuh dan rasa hormat terhadap alam.
Broad Peak sendiri dikenal sebagai salah satu gunung tertinggi ke-12 di dunia dan termasuk pendakian paling teknis di antara semua puncak di atas 8.000 meter. Kombinasi cuaca ekstrem, medan es yang labil, dan risiko longsor menjadikan gunung ini ujian berat bagi para pendaki profesional sekalipun. Insiden ini kembali mengingatkan bahwa meski teknologi dan persiapan telah maju, gunung tetap menyimpan bahaya yang tak terduga.
Bagi Indonesia, berita ini memiliki resonansi tersendiri. Meski tidak ada pendaki Indonesia dalam ekspedisi tersebut, komunitas pendaki Tanah Air cukup aktif di kawasan Himalaya dan Karakoram. Beberapa pendaki Indonesia tercatat pernah menaklukkan puncak-puncak tinggi seperti Everest dan Carstensz Pyramid. Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan dan manajemen risiko dalam ekspedisi berketinggian ekstrem, terutama di tengah tren peningkatan jumlah pendaki amatir yang mencoba tantangan serupa.
ACP menyatakan operasi pencarian masih berlangsung hingga Jumat pagi. Namun, kondisi cuaca di Karakoram yang tidak menentu sering kali menjadi kendala utama dalam misi penyelamatan. Para ahli memperkirakan peluang bertahan hidup korban longsor di ketinggian tersebut sangat tipis, terutama jika mereka terjebak di area dengan suhu ekstrem dan pasokan oksigen terbatas. Pertanyaan yang kini menggantung: apakah tim penyelamat dapat menjangkau lokasi tepat waktu, dan akankah insiden ini mendorong evaluasi ulang protokol keselamatan pendakian di kawasan tersebut?



