Harga Minyak Turun Tipis, tapi Risiko Geopolitik Timur Tengah Masih Menghantui Pasar
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah dunia melemah tipis pada Jumat (31/7) meskipun ketegangan di Timur Tengah masih tinggi, karena pasokan melalui Selat Hormuz mulai lancar.
- Brent dan WTI tercatat naik sekitar 20 persen secara bulanan, didorong kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik AS-Iran dan blokade Houthi.
- Potensi eskalasi konflik dan gangguan jalur laut tetap menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi, meski ada tanda-tanda perbaikan pasokan.

Harga minyak mentah dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (31/7), meskipun masih berada di jalur kenaikan bulanan sekitar 20 persen. Pelemahan ini terjadi di tengah tanda-tanda peningkatan aliran pasokan melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya menjadi titik fokus kekhawatiran pasar akibat konflik AS-Iran.
Brent futures turun 1,03 dolar AS (1,2 persen) menjadi 88 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,50 dolar AS (1,8 persen) ke level 82,09 dolar AS. Secara bulanan, kedua acuan harga ini masih mencatatkan kenaikan signifikan, mencerminkan kekhawatiran pasar yang belum sepenuhnya mereda.
Analis komoditas senior ANZ, Daniel Hynes, menilai bahwa tekanan jual saat ini lebih disebabkan oleh optimisme peningkatan pasokan di Selat Hormuz, yang mengimbangi ketegangan geopolitik yang masih berlanjut. Selat tersebut biasanya membawa sekitar seperlima dari total pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dunia, sehingga pergerakannya sangat memengaruhi harga.
Sejak dimulainya perang AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari, Selat Hormuz nyaris diblokade, memicu lonjakan harga minyak. Namun, belakangan ini arus lalu lintas tanker mulai lancar kembali, meskipun risiko keamanan masih tinggi. Hal ini mendorong biaya pengiriman dan premi asuransi naik, yang pada akhirnya menambah premi risiko geopolitik dalam harga minyak.
Di sisi lain, Arab Saudi berupaya memimpin koalisi pertahanan maritim untuk mengamankan Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Kementerian Pertahanan Saudi menyebut 14 negara, termasuk Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki, mendukung inisiatif ini. Langkah ini merupakan respons atas deklarasi blokade angkatan laut oleh milisi Houthi yang beraliansi dengan Iran terhadap Arab Saudi, yang mengancam jalur ekspor minyak alternatif melalui Laut Merah.
Analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menggarisbawahi bahwa meskipun harga sempat turun dari level tertinggi, tren pasar secara umum masih konstruktif. โSementara harga mereda dari level tertinggi, tren yang lebih luas tetap konstruktif,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian politik dan potensi eskalasi konflik masih menjadi penopang utama harga.
Bagi Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap anggaran energi dan inflasi. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan beban subsidi energi. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam menyusun kebijakan harga BBM dan mencari alternatif energi.
Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan negosiasi AS-Iran serta efektivitas koalisi maritim yang dipimpin Saudi. Pertanyaannya, apakah stabilitas pasokan yang mulai terlihat ini dapat bertahan di tengah ketegangan yang masih membara? Jika konflik meluas, bukan tidak mungkin harga minyak kembali menembus level tertinggi, membawa dampak yang lebih besar bagi perekonomian global dan domestik.



