FIFA Batalkan Rencana Jual Saham Piala Dunia, AFC Beri Apresiasi
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengurungkan niat menjual 20 persen saham unit komersial Piala Dunia yang ditaksir meraup hingga US$4,2 miliar setelah mendapat tentangan dari sejumlah konfederasi.
- Presiden AFC, Sheikh Salman, menilai keputusan ini sebagai langkah positif, namun menekankan pentingnya transparansi dan konsultasi dalam setiap perubahan besar sepak bola global.
- Pembatalan ini membuka ruang diskusi tentang tata kelola FIFA dan masa depan pendanaan turnamen, yang berpotensi berdampak pada federasi anggota termasuk Indonesia.

FIFA akhirnya mengurungkan rencana untuk menjual sebagian saham unit bisnis yang mengelola Piala Dunia, sebuah keputusan yang disambut baik oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Langkah ini diambil setelah gelombang protes dari berbagai konfederasi regional yang merasa tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Rencana awal FIFA adalah melepas sekitar 20 persen saham kepada investor swasta dalam sebuah entitas baru yang akan mengelola turnamen-turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia. Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai US$4,2 miliar. Namun, pengumuman yang disampaikan pada Selasa lalu itu langsung memicu reaksi keras, terutama dari AFC yang mengaku tidak mendapat informasi sebelumnya.
Presiden AFC, Sheikh Salman bin Ebrahim Al-Khalifa, dalam surat terbuka yang dipublikasikan di situs resmi AFC, menyatakan bahwa pembatalan ini adalah keputusan yang tepat. Ia menekankan bahwa setiap inisiatif yang berpotensi memengaruhi sepak bola global harus dibahas bersama konfederasi, Dewan FIFA, asosiasi anggota, dan pemangku kepentingan lainnya secara transparan dan tepat waktu. "Masa depan sepak bola global harus selalu dibentuk melalui konsultasi yang layak, dialog kolektif, dan penghormatan terhadap struktur tata kelola yang telah mapan," tulisnya.
Sebelumnya, pada Kamis, Sheikh Salman sempat menyatakan bahwa cara FIFA mengajukan proposal tersebut "sangat tidak dapat diterima". Sikap tegas ini mencerminkan kekecewaan yang mendalam di kalangan konfederasi, yang merasa bahwa keputusan strategis sebesar itu seharusnya melibatkan semua pihak terkait.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, membenarkan bahwa rencana tersebut telah dibatalkan setelah FIFA "mendengarkan dengan saksama semua pandangan". Pernyataan ini menunjukkan bahwa tekanan dari berbagai pihak akhirnya membuahkan hasil, meskipun prosesnya meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana FIFA akan mengelola hubungan dengan konfederasi di masa depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi yang signifikan. Sebagai salah satu anggota AFC, PSSI tentu akan mengikuti dinamika ini dengan saksama. Keputusan FIFA untuk membatalkan rencana tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan pendanaan turnamen di masa depan, yang pada gilirannya bisa berdampak pada alokasi dana untuk pengembangan sepak bola di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, penegasan AFC tentang pentingnya transparansi dapat menjadi preseden bagi pengambilan keputusan yang lebih inklusif di tingkat global.
Meski demikian, pertanyaan besar masih menggantung: bagaimana FIFA akan mencari sumber pendanaan alternatif untuk mendukung operasional dan pengembangan turnamen? Apakah akan ada skema lain yang lebih transparan, atau justru akan muncul ketegangan baru antara FIFA dan konfederasi? Yang jelas, keputusan ini menjadi pengingat bahwa tata kelola sepak bola dunia tidak bisa dilakukan secara sepihak, dan suara dari berbagai kawasan harus selalu didengar.



