Thailand Resmi Miliki Warisan Dunia ke-9: Wat Phra Mahathat Jadi Magnet Wisata Baru Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- UNESCO mengukuhkan Wat Phra Mahathat Woramahawihan sebagai Warisan Dunia, menandai situs pertama Thailand di kawasan selatan.
- Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) meluncurkan kampanye 'Living World Heritage' untuk menarik wisatawan global ke Nakhon Si Thammarat.
- Pencapaian ini berpotensi menggeser peta persaingan pariwisata regional, termasuk bagi Indonesia yang tengah menggenjot promosi destinasi budaya.

Bangkok, 1 Agustus 2026 โ Thailand resmi mencatatkan sejarah baru dalam peta warisan budaya dunia. Wat Phra Mahathat Woramahawihan, kompleks candi Buddha berusia berabad-abad di Provinsi Nakhon Si Thammarat, kini menyandang status UNESCO World Heritage Site. Penetapan ini menjadikannya situs warisan dunia kesembilan Thailand sekaligus yang pertama di wilayah selatan negara itu.
Kabar ini disambut gegap gempita oleh otoritas pariwisata setempat. Tourism Authority of Thailand (TAT) langsung bergerak cepat dengan menggandeng pemerintah provinsi serta sektor swasta untuk menggelar perayaan budaya selama dua hari, Minggu hingga Senin. Pertunjukan seni tradisional yang sarat identitas Thai ditampilkan sebagai bentuk syukur sekaligus promosi awal destinasi anyar ini.
Gubernur TAT, Thapanee Kiatphaibool, menegaskan bahwa pengakuan UNESCO akan mengubah posisi Nakhon Si Thammarat menjadi destinasi budaya global. "Kami optimistis candi ini akan menarik kunjungan wisatawan dari berbagai penjuru dunia," ujarnya dalam pernyataan resmi. TAT pun meluncurkan kampanye bertajuk "Living World Heritage" untuk mengajak wisatawan merasakan langsung denyut kehidupan budaya di sekitar situs suci tersebut.
Wat Phra Mahathat Woramahawihan bukan sekadar bangunan kuno. Candi ini merupakan pusat agama Buddha yang telah beroperasi selama berabad-abad, menjadi saksi bisu peradaban dan pusat pembelajaran agama di kawasan selatan Thailand. Arsitekturnya yang megah, dengan stupa emas setinggi 37 meter, menjadi ikon yang selama ini mungkin kurang dikenal di panggung internasional dibandingkan destinasi seperti Ayutthaya atau Chiang Mai.
Penetapan ini memiliki implikasi strategis bagi industri pariwisata Thailand. Dengan sembilan situs warisan dunia, Negeri Gajah Putih semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi budaya unggulan di Asia Tenggara. Langkah ini juga sejalan dengan strategi jangka panjang pemerintah Thailand untuk mendorong pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, tidak hanya mengandalkan pantai dan kehidupan malam.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan pentingnya diplomasi budaya dan pengelolaan situs warisan. Indonesia sendiri memiliki sembilan situs warisan dunia UNESCO, termasuk Candi Borobudur dan Prambanan. Namun, persaingan untuk menarik wisatawan mancanegara semakin ketat. Thailand dengan agresif mempromosikan warisan budayanya, sementara Indonesia masih sering menghadapi tantangan dalam hal pengelolaan dan promosi.
Para pengamat pariwisata menilai bahwa pengakuan UNESCO tidak hanya berdampak pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga pada harga diri dan identitas lokal. "Situs warisan dunia menjadi semacam 'stempel kualitas' yang diakui secara global. Ini dapat meningkatkan investasi di sektor pariwisata dan menciptakan lapangan kerja baru," kata seorang analis pariwisata di Bangkok.
Namun, tantangan ke depan tidaklah ringan. Lonjakan wisatawan yang diprediksi terjadi pasca-penetapan ini harus diimbangi dengan upaya pelestarian. TAT dan pemerintah provinsi dituntut untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian situs. Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan yang baik, sebuah situs warisan dunia justru bisa terancam oleh pariwisata massal.
Dengan kampanye "Living World Heritage", Thailand tampaknya ingin menawarkan pengalaman yang lebih mendalam daripada sekadar berfoto di depan candi. Wisatawan diajak untuk berinteraksi dengan komunitas lokal, memahami ritual keagamaan, dan merasakan atmosfer spiritual yang masih hidup. Pendekatan ini bisa menjadi pembeda yang menarik bagi segmen wisatawan yang mencari pengalaman autentik.
Ke depannya, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak wisatawan yang akan datang, tetapi bagaimana Thailand mampu menjaga agar Wat Phra Mahathat tetap lestari dan bermakna. Akankah Indonesia mengambil pelajaran dari langkah Thailand ini untuk lebih serius mempromosikan warisan budayanya sendiri? Atau justru akan tertinggal dalam persaingan pariwisata regional yang semakin sengit?



