Kredit Swasta AS Tetap Tangguh di Tengah Lonjakan Gagal Bayar dan Penarikan Dana
Baca dalam 60 detik
- Ares Management mencatat penggalangan dana rekor $36 miliar pada kuartal II, menandakan keyakinan investor institusional terhadap aset kredit swasta.
- Tingkat gagal bayar kredit swasta AS menyentuh rekor 6,0% pada Juni, dengan sektor industri manufaktur paling terdampak (10,4%).
- Permintaan penebusan dari dana ritel melonjak hingga 38,1% dari nilai aset bersih, memicu kekhawatiran likuiditas dan mendorong pertumbuhan pasar sekunder.

Di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi global, industri kredit swasta Amerika Serikat justru menunjukkan daya tahan yang mengesankan. Ares Management, salah satu pemain terbesar di sektor ini, berhasil mengumpulkan dana segar senilai $36 miliar sepanjang kuartal kedua tahun iniโrekor tertinggi dalam sejarah perusahaan. Angka tersebut mencerminkan optimisme investor institusional yang masih percaya pada kinerja aset alternatif, meskipun risiko gagal bayar dan tekanan likuiditas mulai mengemuka.
Laporan keuangan yang dirilis pekan ini memperlihatkan dua wajah industri yang kontras. Di satu sisi, raksasa seperti Ares Capital dan Blue Owl Capital melaporkan pendapatan inti yang stabil, bahkan tumbuh. Ares Capital, perusahaan pengembangan bisnis (BDC) terbesar yang tercatat di bursa, mencatat laba inti 47 sen per saham, sejalan dengan estimasi konsensus LSEG. Perusahaan juga mempertahankan dividen kuartalannya dan memiliki likuiditas sekitar $6 miliar hingga 23 Juli. Blue Owl Capital, pesaing utamanya, membukukan aset kelolaan $319 miliar pada akhir Juni, naik 12% secara tahunan, dengan pendapatan distribusi yang tumbuh 9%.
Namun, di balik kinerja gemilang tersebut, ada tanda-tanda keretakan yang tidak bisa diabaikan. Fitch Ratings mencatat tingkat gagal bayar kredit swasta AS mencapai rekor 6,0% dalam dua belas bulan hingga Juni, naik dari 5,7% pada kuartal sebelumnya. Sektor industri dan manufaktur menjadi yang paling tertekan dengan tingkat gagal bayar 10,4%, disusul layanan kesehatan di angka 9,4%. Ini adalah sinyal bahwa kualitas aset di sebagian portofolio mulai memburuk, terutama di sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi.
Di sisi lain, dana kredit swasta yang berfokus pada investor ritel menghadapi gelombang permintaan penebusan yang jauh melampaui batas normal. Jefferies mencatat arus masuk kredit swasta turun sekitar 25% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal kedua, permintaan penebusan mencapai 38,1% dari nilai aset bersih di Blue Owl Technology Income Corp, 18,9% di Blue Owl Credit Income Corp, dan 16,8% di Apollo Debt Solutions. Sebagian besar dana hanya mampu membeli kembali saham setara 5% dari nilai aset bersih, sehingga banyak investor harus menunggu giliran pada periode berikutnya. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya 'bank run' versi dana tertutup, yang bisa memaksa manajer menjual aset dengan harga diskon.
Menariknya, tekanan likuiditas ini justru melahirkan peluang baru di pasar sekunder. Evercore memperkirakan volume transaksi sekunder kredit swasta global mencapai $20,4 miliar pada paruh pertama 2026, melonjak 122% secara tahunan dan melampaui total transaksi sepanjang 2025. Sebagian besar transaksi (83%) berbentuk GP-led deals, di mana manajer dana menawarkan investor opsi untuk menjual atau menggulung kepemilikan mereka ke kendaraan baru. Ini menjadi katup pengaman bagi investor yang ingin keluar, sekaligus cara bagi manajer untuk mempertahankan aset berkualitas.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan meski tidak langsung berdampak. Pasar kredit swasta global yang semakin tertekan dapat mempengaruhi minat investor asing terhadap aset berisiko di negara berkembang, termasuk obligasi korporasi dan proyek infrastruktur. Di sisi lain, tren GP-led deals dan pasar sekunder yang tumbuh bisa menjadi model bagi pengelola dana lokal dalam menyediakan opsi likuiditas bagi investor. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu mencermati dinamika ini sebagai bahan evaluasi regulasi untuk produk investasi alternatif yang mulai diminati di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah industri kredit swasta mampu bertahan menghadapi gelombang penebusan yang terus berlanjut. Beberapa analis memperkirakan tekanan akan mereda jika suku bunga mulai turun dan aktivitas merger-akuisisi kembali menggeliat. Namun, jika kondisi ekonomi memburuk, risiko gagal bayar bisa semakin meluas, menguji ketahanan model bisnis yang selama ini dianggap kebal krisis. Apakah para manajer dana akan semakin kreatif dalam mengelola likuiditas, atau justru terpaksa menjual aset dengan harga murah? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, industri ini sedang memasuki fase ujian yang sesungguhnya.



