Tragedi di Perbatasan: Sembilan Pengungsi Rohingya Hilang Usai Perahu Terbalik di Sungai Naf
Baca dalam 60 detik
- Sebuah perahu yang membawa pengungsi Rohingya tenggelam di Sungai Naf, memicu pencarian terhadap sembilan orang yang belum ditemukan.
- Insiden ini menyoroti meningkatnya risiko pelayaran laut bagi etnis Rohingya di tengah konflik di Rakhine dan berkurangnya bantuan kemanusiaan.
- Peristiwa ini kembali mengingatkan akan kebutuhan mendesak akan solusi regional dan dukungan internasional untuk krisis pengungsi yang berkepanjangan.

Setidaknya sembilan pengungsi Rohingya dilaporkan hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Sungai Naf, jalur air yang memisahkan Bangladesh dan Myanmar, pada Jumat (1/8). Peristiwa ini menjadi babak terbaru dari rangkaian panjang tragedi pelayaran yang dialami etnis yang kerap disebut sebagai komunitas tanpa kewarganegaraan itu.
Menurut keterangan kepolisian setempat, para pengungsi tersebut diduga tengah berusaha melarikan diri dari pertempuran sengit di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, antara militer dan Arakan Army, kelompok pemberontak etnis minoritas. Mereka nekat menyeberangi sungai yang dikenal memiliki arus kuat demi mencari keamanan, namun nahas, perahu mereka tak mampu bertahan menghadapi gelombang dan angin kencang.
Nelayan lokal Bangladesh yang kebetulan berada di sekitar lokasi kejadian berhasil mengevakuasi 18 orang yang selamat. Mereka yang diselamatkan kemudian diserahkan kepada otoritas penjaga perbatasan Bangladesh untuk proses lebih lanjut. Namun, upaya pencarian terhadap sembilan korban lainnya masih terus dilakukan hingga berita ini diturunkan.
"Sembilan orang masih belum ditemukan," ujar Saiful Islam, perwira polisi yang memimpin distrik Teknaf, kepada kantor berita AFP. Sementara itu, seorang saksi mata bernama Rashid Ahmed menuturkan bahwa perahu kehilangan kendali dan akhirnya tenggelam akibat arus deras. "Kapal-kapal nelayan di sekitar langsung bergerak menolong. Dari 18 yang selamat, empat di antaranya adalah awak perahu," katanya.
Insiden ini kembali menyoroti betapa rentannya nasib pengungsi Rohingya yang telah lama hidup dalam tekanan. Sejak gelombang besar pengungsian pada 2017 menyusul operasi militer Myanmar, ratusan ribu orang telah berlindung di kamp-kamp pengungsian Cox's Bazar, Bangladesh. Namun, kondisi di kamp-kamp tersebut semakin memprihatinkan akibat pemotongan bantuan kemanusiaan yang beruntun, memicu krisis gizi dan keterbatasan akses layanan dasar.
Di sisi lain, situasi di Rakhine sendiri kian memburuk pasca kudeta militer 2021 yang memicu perang saudara. Konflik antara junta dan kelompok pemberontak seperti Arakan Army telah memperparah penderitaan warga sipil, termasuk etnis Rohingya yang kerap menjadi korban di tengah baku tembak. Banyak dari mereka akhirnya memilih jalur laut berisiko tinggi, menggunakan perahu-perahu reyot yang kerap dikendalikan jaringan penyelundup manusia, demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Bagi Indonesia, tragedi ini bukan sekadar kabar duka dari negeri tetangga. Sebagai negara yang kerap menjadi tujuan atau transit para pengungsi Rohingya, peristiwa ini menegaskan kembali pentingnya peran aktif Indonesia dalam mendorong solusi diplomatik dan kemanusiaan di kawasan. Meski Indonesia tidak memiliki perbatasan langsung dengan Myanmar, arus pengungsian Rohingya kerap menyentuh wilayah Aceh, sehingga dinamika di Rakhine dan Bangladesh memiliki dampak langsung terhadap stabilitas regional.
Para pengamat menilai bahwa krisis Rohingya membutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi keamanan, tetapi juga pembangunan ekonomi dan rekonsiliasi politik di Myanmar. Tanpa adanya perubahan signifikan di negara asal, gelombang pengungsian diperkirakan akan terus berlanjut, dan tragedi seperti di Sungai Naf akan semakin sering terjadi.
Pertanyaan yang kini menggantung: apakah komunitas internasional akan mampu bergerak cepat untuk mencegah lebih banyak korban jiwa, atau akankah Sungai Naf kembali menjadi saksi bisu derita panjang etnis Rohingya?



