Buaya Muara yang Dianggap Punah di Pampanga Ditemukan dan Diselamatkan
Baca dalam 60 detik
- Seekor buaya muara betina berusia 15 tahun ditemukan warga di Magalang, Pampanga, dan kini berada di pusat rehabilitasi satwa liar.
- Keberadaan reptil sepanjang 3,1 meter itu di luar habitat aslinya memicu dugaan bahwa hewan tersebut sempat dipelihara secara ilegal sebelum akhirnya diserahkan.
- Peristiwa ini menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam konservasi dan penegakan hukum terhadap kepemilikan satwa dilindungi di Filipina.

Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) betina yang selama ini diyakini telah punah dari perairan Pampanga, Filipina, berhasil dievakuasi tim gabungan pada Sabtu (1/8). Reptil berusia sekitar 15 tahun itu ditemukan warga di Barangay San Agustin, Magalang, dan kini telah diamankan di pusat penyelamatan satwa liar yang terakreditasi di Clark Freeport Zone.
Kepala Kantor Lingkungan dan Sumber Daya Alam Provinsi (PENRO) Pampanga, Roger Encarnacion, mengungkapkan bahwa penemuan ini cukup mengejutkan karena buaya tersebut tidak berada di habitat aslinya, yakni perairan payau pesisir seperti di Sasmuan. Sasmuan sendiri dikenal sebagai kawasan lahan basah seluas 3.500 hektare yang masuk dalam daftar situs Ramsar kedelapan di Filipina.
Menurut Encarnacion, ada indikasi kuat bahwa buaya ini bukan berasal dari alam liar Pampanga. "Informasi sementara menunjukkan hewan ini kemungkinan datang dari tempat lain dan sempat dirawat di area tersebut, hingga akhirnya diserahkan setelah pemiliknya sadar bahwa memeliharanya dilarang," ujarnya. Dugaan ini diperkuat dengan kondisi fisik buaya yang terbilang sehat dan panjang tubuh mencapai 3,1 meter.
Proses evakuasi melibatkan Seksi Pengelolaan Satwa Liar dan Sumber Daya Air serta Seksi Perlindungan Hutan, Pengawasan, dan Intelijen dari DENR Pampanga. Buaya tersebut kemudian diserahkan ke Global Zoo and Theme Park Alliance Inc., lembaga penyelamat satwa liar yang telah memiliki perjanjian kerja sama dengan DENR untuk menampung satwa hasil sitaan atau serahan masyarakat.
Direktur Eksekutif Regional DENR untuk Luzon Tengah, Ralph Pablo, menilai keberhasilan penyelamatan ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan publik dan partisipasi komunitas dalam upaya konservasi. "Ke depan, kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa buaya dan ular bukanlah hewan peliharaan yang aman, baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri," kata Pablo.
Di luar aspek hukum, kemunculan buaya ini juga membuka kembali ingatan historis masyarakat Pampanga tentang keberadaan reptil purba tersebut. Sejarawan Pampanga, Robert Tantingco, mencatat bahwa kamus Kapampangan tahun 1732 karya Fray Diego Bergaรฑo memuat banyak istilah dan frasa yang berkaitan dengan buaya. Antropolog budaya, Prof. Joel Mallari, menambahkan bahwa wilayah Mabalacat dan Magalang dulunya memiliki desa bernama Babang Dapu (dagu buaya) dan Quematayandapu (tempat buaya dibunuh atau ditemukan mati). Bahkan, Gereja Sta. Monica di Minalin, yang merupakan harta budaya nasional, memiliki ukiran kecil berbentuk buaya sebagai bagian dari ornamennya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa meskipun buaya muara telah lama menghilang dari perairan Pampanga, jejak budayanya masih tertanam kuat. Pertanyaannya, apakah kemunculan individu ini menandakan adanya populasi tersembunyi yang belum terdeteksi, atau hanya kasus tunggal dari hewan peliharaan ilegal yang lepas? DENR masih melakukan penyelidikan lebih lanjut, sementara buaya tersebut kini menjalani perawatan di pusat rehabilitasi. Ke depan, penguatan pengawasan dan edukasi publik tentang larangan memelihara satwa liar menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa terulang.



