Gym Anjing di Singapura: Tren Kebugaran Kaninus yang Mengubah Cara Pandang Pemilik Hewan Peliharaan
Baca dalam 60 detik
- Barker & Pooch, studio kebugaran khusus anjing di Singapura, menawarkan program latihan terstruktur dengan treadmill miring dan kolam renang untuk meningkatkan kebugaran preventif.
- Didirikan oleh Stephen Cranston, studio ini berawal dari kebutuhan pribadi untuk melatih Rottweiler-nya di iklim tropis, dan kini melayani hingga 60 anjing per minggu.
- Fenomena ini mencerminkan tren global meningkatnya perhatian pada kesehatan hewan peliharaan, yang berpotensi menginspirasi pasar Indonesia yang sedang berkembang.

Di tengah hiruk-pikuk kota Singapura yang panas dan padat, sebuah studio kebugaran di Telok Kurau Road menawarkan sesuatu yang tak lazim: pusat kebugaran khusus untuk anjing. Barker & Pooch, yang berdiri sejak 2019, bukan sekadar tempat bermain atau rehabilitasi, melainkan fasilitas latihan terstruktur yang dirancang untuk menjaga kebugaran fisik anjing sebelum masalah mobilitas muncul. Dengan pendekatan berbasis ilmu olahraga, studio ini menjadi pionir di kawasan itu, menawarkan program personal yang disesuaikan dengan usia, ras, dan kondisi fisik tiap anjing.
Fasilitas ini dilengkapi treadmill miring yang dibuat khusus, kolam renang indoor, serta ruang pemulihan. Setiap anjing yang datang harus melalui asesmen awal untuk menentukan program yang tepat. Leo Lee, pelatih kepala di Barker & Pooch, menegaskan bahwa jika anjing membutuhkan perawatan medis seperti operasi atau fisioterapi, mereka akan dirujuk ke spesialis. Fokus utama studio ini adalah pencegahan, bukan pengobatan. Menurut Lee, treadmill miring sangat efektif untuk melatih kaki belakang yang sering terabaikan saat jalan-jalan biasa. "Saat anjing berdiri di permukaan datar, sekitar 60-70 persen berat tubuhnya ditopang oleh kaki depan, sehingga kaki belakang kurang terlatih," jelasnya.
Selain treadmill, kolam renang menjadi andalan lain. Stephen Cranston, pendiri dan direktur Barker & Pooch, mengungkapkan bahwa satu menit berenang setara dengan empat menit berlari. Kolam ini sengaja dijaga tetap sejuk, berbeda dengan kolam hidroterapi yang biasanya hangat. Cranston menjelaskan, "Suhu adalah masalah bagi anjing di Singapura. Mereka cepat mengalami kelelahan panas sebelum kelelahan otot, sehingga efek latihan berkurang." Dengan demikian, kolam dingin membantu anjing berlatih lebih lama dan efektif. Setelah berolahraga, anjing-anjing ini menjalani proses pemulihan berupa pendinginan, peregangan, atau pijat, untuk memastikan kondisi tubuh mereka optimal.
Kisah di balik berdirinya Barker & Pooch bermula dari pengalaman pribadi Cranston. Pria asal Irlandia Utara ini pindah ke Singapura pada 2012 bersama Rottweiler-nya, Tyson. Ia menyadari bahwa lingkungan Singapura yang datar dan panas tidak memungkinkan anjingnya berolahraga secara alami seperti di kampung halamannya. Setelah mengikuti sertifikasi kebugaran kaninus, Cranston merasa pendekatan yang ada terlalu terapi dan kurang fokus pada kebugaran preventif. Terinspirasi oleh ayahnya yang seorang pelatih, ia menerapkan filosofi: "Kamu tidak menjadi bugar dengan bermain olahraga; kamu bermain olahraga karena sudah bugar." Filosofi inilah yang menjadi dasar Barker & Pooch.
Awalnya, konsep ini sulit diterima pasar. Banyak pemilik anjing mengira studio ini adalah pusat rehabilitasi atau sekolah kepatuhan. Cranston sengaja menggunakan istilah "pelatih" bukan "pelatih anjing" untuk menghindari kesalahpahaman. Ia juga harus berjuang mencari staf yang tepat. Leo Lee, yang sebelumnya pelatih pribadi manusia, direkrut karena energinya dan kemampuannya berinteraksi dengan anjing, bukan karena pengetahuan teknisnya. Kini, Barker & Pooch melayani 50-60 anjing per minggu, mulai dari anjing pertunjukan hingga anjing pensiunan, dengan program yang bervariasi. Megan Lau, pelatih lain yang bergabung tahun ini, menambahkan bahwa setiap anjing memiliki kepribadian unik; misalnya, Shiba Inu cenderung lebih pemilih dibandingkan retriever.
Fenomena seperti Barker & Pooch mencerminkan pergeseran global dalam cara manusia memandang kesehatan hewan peliharaan. Di Indonesia, tren ini mulai terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, dengan munculnya jasa dog gym dan pelatihan kebugaran hewan. Namun, pasar masih sangat awal. Menurut data Asosiasi Dokter Hewan Indonesia, kesadaran akan kesehatan preventif hewan peliharaan masih rendah, dan sebagian besar pemilik hanya mengandalkan jalan-jalan rutin. Padahal, seperti diungkapkan Cranston, latihan terstruktur dapat memperpanjang usia aktif anjing dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Meski tidak ada jaminan bebas penyakit, fondasi kekuatan yang dibangun sejak dini membantu pemulihan jika masalah kesehatan muncul di kemudian hari.
Bagi pemilik anjing di Indonesia yang ingin meniru konsep ini, tantangan utamanya adalah iklim tropis yang mirip dengan Singapura. Suhu panas dan kelembaban tinggi membuat anjing cepat lelah, sehingga diperlukan fasilitas ber-AC dan kolam renang yang sejuk. Selain itu, edukasi tentang pentingnya kebugaran preventif masih perlu digencarkan. Cranston sendiri mengakui bahwa membangun bisnis ini bukan tanpa rintangan. "Pada awalnya, tidak ada pasar. Bahkan ada hari-hari tanpa anjing sama sekali," kenangnya. Namun, dedikasinya pada Tyson, yang kini telah tiada, membuktikan bahwa investasi pada kesehatan hewan peliharaan adalah hal yang berharga.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah tren ini akan diadopsi lebih luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan meningkatnya kelas menengah dan gaya hidup urban, permintaan akan layanan premium untuk hewan peliharaan diperkirakan tumbuh. Namun, perlu ada regulasi dan standar profesi untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan hewan. Akankah muncul Barker & Pooch versi Indonesia? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: semakin banyak pemilik yang sadar bahwa anjing mereka membutuhkan lebih dari sekadar jalan-jalan sore.



