AS Siap Turun Tangan di Pasar Yen: Sinyal Intervensi Menguat, Rupiah Ikut Berpotensi Terimbas?
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keuangan AS dikabarkan memberi sinyal ke sejumlah bank untuk bersiap menghadapi kemungkinan intervensi di pasar yen, menyusul langkah Jepang menopang mata uangnya.
- Langkah ini menandai keterlibatan langsung AS dalam stabilisasi yen, yang terakhir terjadi pada 2011, dan memicu spekulasi meningkatnya koordinasi global di pasar valas.
- Bagi Indonesia, gejolak yen dan potensi intervensi AS dapat mempengaruhi arus modal dan nilai tukar rupiah, sehingga pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ini.

Kementerian Keuangan Amerika Serikat dikabarkan telah memberi tahu sejumlah bank bahwa mereka mungkin akan turun tangan di pasar yen Jepang pada Jumat (31/7) dan meminta bank-bank tersebut untuk "bersiap menghadapi aksi lanjutan". Sinyal ini, yang disampaikan melalui Federal Reserve Bank of New York, muncul sehari setelah otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menopang yen, yang mendorong penguatan mingguan terbesar mata uang tersebut sejak Februari dan menariknya dari level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS.
Kabar tentang potensi intervensi dari AS ini langsung mendorong yen menguat ke level 159,09 per dolar pada Jumat, setelah sebelumnya sempat menyentuh 163,65 pada Kamis. Meski metode intervensi yang akan dilakukan belum jelas, langkah ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap yen telah memicu respons yang lebih luas dari otoritas moneter global. Sejak 2013, Federal Reserve telah mempertahankan jalur swap likuiditas dolar dengan Bank of Japan dan empat bank sentral utama lainnya, yang dapat menjadi salah satu saluran intervensi.
Diplomat mata uang senior Jepang, Atsushi Mimura, menolak berkomentar mengenai intervensi, namun mengisyaratkan adanya keterlibatan AS dalam upaya membendung pelemahan yen, termasuk melalui apa yang disebut "rate checks"—permintaan kepada dealer untuk mendapatkan kuotasi indikatif dolar/yen yang dianggap sebagai pendahulu intervensi. Mimura menambahkan bahwa dukungan AS "melampaui dukungan psikologis". Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa koordinasi antara Tokyo dan Washington dalam isu mata uang semakin erat.
Lee Hardman, ahli strategi mata uang di MUFG London, menilai laporan Reuters tentang pemberitahuan Treasury kepada bank-bank tersebut "sesuai dengan pandangan pasar bahwa New York Fed telah melakukan rate checks, sehingga menambah kegelisahan pelaku pasar bahwa intervensi lebih lanjut bisa terjadi". Menurutnya, hal ini mendukung gagasan bahwa risiko intervensi memang nyata di atas meja. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam unggahan di media sosial X menyatakan bahwa Treasury memiliki "hubungan yang kuat dan koordinasi yang erat" dengan otoritas Jepang, namun tidak mengonfirmasi persiapan intervensi.
Bessent sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox Business Network pada Kamis, menyebut yen "tampak sangat undervalued" dan menilai kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi akan membantu fundamental ekonomi Jepang. Ia juga menekankan bahwa "volatilitas berlebihan pada yen tidak sehat" dan yen telah "melampaui secara substansial apa yang disebut harga keseimbangan". Pernyataan ini menegaskan posisi AS yang mendukung stabilitas yen, meski tidak secara eksplisit mengonfirmasi rencana intervensi.
Intervensi langsung AS untuk menopang yen terakhir kali terjadi pada 2011, saat G7 melakukan aksi terkoordinasi untuk menstabilkan mata uang Jepang setelah gempa bumi dan tsunami dahsyat. Sejak itu, AS lebih banyak menggunakan instrumen swap dan diplomasi. Namun, kali ini sinyal intervensi datang di tengah ketegangan global yang meningkat, termasuk kebijakan moneter AS yang ketat dan perlambatan ekonomi China. Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi penting. Sebagai negara dengan fundamental ekonomi yang serupa—bergantung pada ekspor dan memiliki utang luar negeri dalam dolar—gejolak yen dapat memicu dampak rambatan ke nilai tukar rupiah. Jika intervensi AS berhasil menstabilkan yen, hal ini dapat mengurangi tekanan pada mata uang Asia lainnya, termasuk rupiah. Namun, jika intervensi gagal dan ketidakpastian berlanjut, arus modal asing bisa keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kepala ekonom sebuah bank investasi di Jakarta, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa "sinyal intervensi AS ini menunjukkan bahwa negara maju mulai khawatir terhadap penguatan dolar yang berlebihan. Bagi Indonesia, ini bisa menjadi angin segar jika berujung pada pelemahan dolar, tetapi juga bisa menjadi bumerang jika memicu ketidakstabilan pasar keuangan global." Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia perlu tetap waspada dan menjaga cadangan devisa untuk mengantisipasi gejolak.
Ke depan, pertemuan G20 yang akan digelar di Asheville, North Carolina, pada akhir Agustus menjadi ajang penting bagi para menteri keuangan dan gubernur bank sentral untuk membahas koordinasi kebijakan moneter. Bessent sendiri menyatakan akan bertemu dengan Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda di sela-sela pertemuan tersebut. Pertanyaannya, apakah koordinasi ini akan melahirkan mekanisme intervensi yang lebih terlembaga, atau hanya sekadar respons ad hoc terhadap tekanan pasar? Jawabannya akan menentukan arah pergerakan yen, dolar, dan mata uang Asia lainnya dalam beberapa bulan mendatang.



