Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia: Kamboja Latih Ratusan Anak Berenang Demi Selamatkan Nyawa
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 500 orang, termasuk 300 anak, ikut serta dalam peringatan Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia di Siem Reap, Kamboja, dengan fokus pada edukasi keselamatan air.
- Tenggelam menjadi penyebab utama kematian anak usia 5-14 tahun di Kamboja, dan secara global merenggut 300.000 jiwa per tahun, mayoritas di negara berpenghasilan rendah.
- Program pelatihan renang dan CPR yang digelar diharapkan dapat direplikasi di negara berkembang lain, termasuk Indonesia, yang memiliki tantangan serupa.

Lebih dari 500 warga, termasuk 300 anak-anak, memadati kawasan Run Ta Ek di Siem Reap pada 27 Juli lalu untuk memperingati Hari Pencegahan Tenggelam Sedunia. Acara yang digagas oleh Hile Teuk Kampuchea (HTK) bersama Unicef Cambodia dan Kementerian Dalam Negeri Kamboja ini menjadi ajang kampanye masif pencegahan tenggelam pada anakโmasalah yang kerap luput dari perhatian publik di negara berkembang.
Mengusung tema global "United to Turn the Tide", kegiatan ini menghadirkan demonstrasi penyelamatan langsung, pelatihan penggunaan alat keselamatan, serta edukasi keselamatan air bagi anak-anak dan orang tua. Perwakilan dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, sekolah, dan mitra pembangunan turut hadir, menegaskan bahwa tenggelam sejatinya bisa dicegah melalui pendidikan, pengawasan, dan keterampilan keselamatan air yang memadai.
HTK, organisasi lokal yang fokus pada keselamatan air, memberikan pelajaran berenang, edukasi keselamatan air, dan pelatihan resusitasi jantung paru (CPR) secara langsung. Anak-anak dan orang tua dibekali keterampilan praktis yang dapat menyelamatkan nyawa dalam situasi darurat. Acara ini merupakan bagian dari kampanye pencegahan tenggelam anak Unicef di Kamboja yang didukung oleh Royal National Lifeboat Institution (RNLI) dan Fondation Princesse Charlene de Monaco.
Peringatan tahun ini bertepatan dengan wisuda 60 anak dari program renang dan keselamatan air HTK yang berlangsung selama 10 hari. Program tersebut membekali anak-anak dengan kemampuan berenang dasar, pengetahuan keselamatan air, serta teknik bertahan hidup untuk mengurangi risiko tenggelam. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tenggelam masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar yang sebenarnya bisa dicegah, terutama di negara-negara miskin dan berkembang.
Bagi Indonesia, data serupa juga memprihatinkan. Kementerian Kesehatan mencatat ribuan kasus tenggelam setiap tahun, terutama di daerah pedesaan dengan akses terbatas ke kolam renang dan edukasi keselamatan air. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan lembaga internasional seperti yang dilakukan Kamboja bisa menjadi model bagi Indonesia untuk memperkuat program pencegahan tenggelam, termasuk melalui kurikulum renang di sekolah atau pelatihan CPR bagi masyarakat.
HTK mendorong peserta untuk menyebarkan pesan keselamatan air ke keluarga dan komunitas mereka. Semakin luas akses terhadap pelajaran berenang, edukasi keselamatan air, dan keterampilan penyelamatan, semakin besar peluang untuk mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari. Pertanyaannya kini: apakah negara-negara seperti Indonesia siap mengadopsi pendekatan serupa untuk melindungi generasi mudanya dari bahaya tenggelam?



