Lansia Pria Rentan Bunuh Diri: Krisis Sunyi di Balik Purnatugas
Baca dalam 60 detik
- Tiga perempat kasus bunuh diri warga senior Singapura pada 2024 melibatkan pria, dengan total 90 dari 120 kematian.
- Para ahli menilai kombinasi pensiun, penurunan kesehatan, dan jaringan sosial yang menyempit menjadi pemicu utama, diperparah keengganan mencari bantuan.
- Intervensi berbasis aktivitas dan keterlibatan keluarga menjadi kunci pencegahan, seiring proyeksi penuaan populasi yang terus meningkat.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Singapura, terdapat krisis sunyi yang jarang tersorot: pria lanjut usia. Data terbaru dari Samaritans of Singapore (SOS) mengungkap fakta mengejutkan—dari 120 warga berusia 60 tahun ke atas yang meninggal karena bunuh diri sepanjang 2024, 90 di antaranya adalah pria. Angka ini setara tiga perempat total kasus, menegaskan bahwa lansia pria menjadi kelompok paling rentan yang kerap terabaikan dalam diskursus kesehatan mental.
Fenomena ini bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan kisah nyata seperti yang dialami Joseph, seorang pria yang kehilangan ayahnya yang berusia 85 tahun. Sang ayah, yang pensiun dan menjalani rutinitas monoton—berenang pagi lalu menonton televisi—kerap mengeluh bahwa hidup di Singapura terasa hampa. "Dia terus bilang tidak ada yang bisa dilakukan," kenang Joseph. Kisah ini menggambarkan betapa transisi kehidupan seperti pensiun, penurunan kesehatan, dan menyempitnya lingkaran sosial dapat menjadi kombinasi mematikan bagi lansia pria.
Para ahli menilai akar masalahnya sering kali berakar pada konstruksi peran gender. Profesor Paulin Straughan dari Singapore Management University menjelaskan bahwa banyak pria memusatkan hidupnya pada pekerjaan, sehingga identitas diri mereka melekat erat pada karier. "Mereka terlalu fokus pada pekerjaan hingga tidak menyisakan waktu untuk membangun jaringan sosial," ujarnya. Akibatnya, saat pensiun tiba, mereka kehilangan rutinitas, struktur, dan identitas yang selama ini menjadi pegangan. Hal serupa diungkapkan Dr. Helen Ko, ahli gerontologi dari Singapore University of Social Sciences, yang menyoroti bahwa banyak pria dibesarkan dengan tanggung jawab sebagai pencari nafkah utama, sehingga berhenti bekerja dapat meruntuhkan harga diri mereka.
Namun, pensiun tidak harus berarti kehilangan tujuan hidup. Loh Yan Zhu dari Tsao Foundation mendorong para lansia untuk bertransformasi dari penyedia materi menjadi penyedia emosional bagi keluarga. "Mereka mungkin tidak lagi menopang keuangan rumah tangga, tetapi tetap memiliki peran penting dalam memberi semangat dan mempererat ikatan keluarga," katanya. Meski demikian, tantangan kesehatan fisik kerap menjadi faktor pemberat. Dr. Surej John dari Khoo Teck Puat Hospital menegaskan bahwa penyakit kronis, disabilitas, dan kehilangan kemandirian dapat mengikis rasa tujuan hidup, terutama saat bercampur dengan depresi atau kesepian.
Kesepian menjadi momok yang tak terlihat. Banyak lansia pria memiliki jaringan sosial yang sempit, sering kali hanya terhubung melalui tempat kerja. Setelah pensiun, koneksi itu memudar. Charlene Heng, wakil direktur SOS, menyoroti bahwa perempuan cenderung lebih terhubung secara sosial dan lebih mau mencari bantuan. "Pria berbicara bahu-membahu, bukan tatap muka," kata Dr. Ko, menjelaskan bahwa pria lebih nyaman membangun relasi melalui aktivitas bersama. Karena itu, program berbasis kegiatan seperti bengkel perbaikan sepeda atau pertukangan kayu dinilai lebih efektif daripada kelompok dukungan tradisional. Jennie Wan dari Montfort Care menambahkan, "Keterlibatan meningkat signifikan ketika pria merasa berkontribusi, bukan sekadar menerima bantuan."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi alarm dini. Dengan populasi lansia yang diproyeksikan mencapai 19,9% pada 2045, risiko serupa mengintai. Budaya patriarki yang kuat dan stigma kesehatan mental yang masih tinggi membuat lansia pria di Indonesia berpotensi mengalami nasib yang sama. Keluarga sering kali menganggap keengganan bersosialisasi sebagai hal wajar, padahal bisa jadi itu adalah sinyal depresi. Dr. Lim Boon Leng dari Gleneagles Hospital mengingatkan bahwa ucapan seperti "Saya tidak mau jadi beban" bisa menjadi ekspresi pikiran bunuh diri, bukan sekadar keluhan fisik.
Deteksi dini menjadi krusial. Gejala depresi pada lansia kerap tak lazim—bisa berupa kehilangan nafsu makan, sulit tidur, atau pikun yang sebenarnya adalah "pseudodementia". Dr. Nur Farhan Alami mencontohkan pasiennya yang tiba-tiba lupa jalan pulang setelah bertahun-tahun melewatinya; ternyata ia mengalami depresi berat akibat tekanan di tempat kerja. "Setiap konsultasi medis adalah peluang untuk menilai kesehatan emosional," tegas Dr. John. Keluarga juga perlu lebih jeli: pertanyaan langsung dan penuh perhatian bisa menjadi penyelamat.
Ke depan, pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis komunitas menjadi keniscayaan. Apakah Indonesia siap menghadapi gelombang penuaan penduduk dengan strategi pencegahan yang memadai? Atau akankah kita membiarkan para sesepuh berjuang sendiri dalam kesunyian? Jawabannya menentukan masa depan kesehatan mental bangsa.



