Perjanjian Dagang Singapura-MERCOSUR Berlaku untuk Brasil: Peluang Baru bagi Ekspansi Bisnis Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- Perjanjian perdagangan bebas antara Singapura dan blok MERCOSUR resmi berlaku untuk Brasil, menandai tonggak baru hubungan ekonomi Singapura dengan Amerika Latin.
- Pakta ini menghapus tarif impor hingga 96% produk dalam 15 tahun, membuka akses pasar bagi perusahaan Singapura dan memperkuat posisi Singapura sebagai hub perdagangan regional.
- Bagi Indonesia, perjanjian ini menjadi sinyal pentingnya diversifikasi pasar dan rantai pasok pangan, sekaligus peluang belajar dari strategi Singapura dalam menjalin perjanjian dagang strategis.

Perjanjian perdagangan bebas antara Singapura dan MERCOSUR, blok ekonomi Amerika Selatan, resmi berlaku untuk Brasil pada Sabtu (1/8). Langkah ini tidak hanya memperkuat hubungan dagang bilateral, tetapi juga membuka babak baru integrasi ekonomi antara Asia Tenggara dan Amerika Latin, dengan potensi dampak yang meluas hingga ke kawasan.
Kesepakatan yang ditandatangani pada 2025 ini merupakan perjanjian dagang ke-29 yang dimiliki Singapura dan yang pertama dengan negara-negara pendiri MERCOSURโArgentina, Brasil, Paraguay, dan Uruguay. Dengan gabungan produk domestik bruto (PDB) mendekati US$3 triliun dan populasi lebih dari 295 juta jiwa, MERCOSUR menjadi mitra dagang yang signifikan. Sebelumnya, perjanjian ini telah berlaku untuk Paraguay dan Uruguay, sementara Argentina masih dalam proses ratifikasi.
Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura menyebut perkembangan ini sebagai tonggak penting dalam keterlibatan ekonomi Singapura dengan Amerika Latin. Momentum ini semakin bermakna karena Singapura dan Brasil bersiap merayakan 60 tahun hubungan diplomatik pada 2027. Brasil, sebagai ekonomi terbesar di MERCOSUR, merupakan salah satu mitra dagang utama Singapura di kawasan tersebut, dan sebaliknya, Singapura adalah mitra dagang terbesar Brasil di Asia Tenggara.
Perjanjian ini dirancang untuk mengurangi hambatan perdagangan, memperkuat iklim investasi, dan meningkatkan kerja sama di bidang digitalisasi, pengadaan pemerintah, pembangunan berkelanjutan, fasilitasi perdagangan, serta ketahanan pangan. Salah satu poin kuncinya adalah penghapusan tarif impor untuk sekitar 96% produk dalam jangka waktu hingga 15 tahun, dengan lebih dari seperempat jalur tarif langsung dibebaskan begitu perjanjian berlaku.
Bagi pelaku bisnis Singapura, perjanjian ini membuka peluang baru di sektor manufaktur, infrastruktur, energi, agri-komoditas, perhotelan, dan solusi digital. Wakil Perdana Menteri Singapura, Gan Kim Yong, melalui unggahan Instagram-nya, menegaskan bahwa perjanjian ini memungkinkan perusahaan Singapura untuk mendapatkan akses pasar yang lebih baik, berekspansi, dan menciptakan lapangan kerja berkualitas di dalam negeri. Senada, Wakil Presiden Sea, Junjie Zhou, menilai bahwa penurunan hambatan perdagangan dan penguatan kerja sama digital akan membantu usaha kecil dan menengah (UKM) menjangkau pelanggan baru di lintas batas.
Dari sisi ketahanan pangan, perjanjian ini menjadi instrumen strategis bagi Singapura untuk diversifikasi sumber impor. Brasil dan negara-negara Amerika Latin lainnya adalah eksportir utama produk pertanian seperti daging, buah, sayuran, dan 'superfoods'. Dengan akses tarif yang lebih baik, Singapura dapat meningkatkan impor bahan pangan dari kawasan ini, mengurangi ketergantungan pada sumber-sumber tradisional. CEO Seatrium, Chris Ong, menyambut baik implementasi perjanjian ini, menyebut Brasil sebagai pasar strategis yang telah lama digeluti perusahaannya, dan menilai bahwa perjanjian ini menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk investasi jangka panjang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Diversifikasi pasar ekspor dan impor, terutama untuk komoditas pangan, menjadi kunci ketahanan ekonomi. Indonesia dapat mengamati bagaimana Singapura memanfaatkan perjanjian dagang untuk memperkuat posisinya sebagai hub regional, sambil tetap menjaga kepentingan domestik. Ke depan, pertanyaannya adalah: akankah Indonesia mengambil langkah serupa dengan menjalin perjanjian dagang strategis dengan blok-blok ekonomi besar, atau justru memperkuat kerja sama intra-ASEAN untuk menghadapi dinamika perdagangan global yang semakin kompleks?



