Anak Mogok Sekolah, Ibu Jepang Pilih Berhenti Bekerja: Survei Ungkap Beban Ganda yang Tak Seimbang
Baca dalam 60 detik
- Survei Key Design terhadap 1.234 orang tua di Jepang menunjukkan 19,9% ibu mengundurkan diri dari pekerjaan karena anak tidak sekolah, sementara ayah hanya 0,7%.
- Lebih dari separuh responden mengalami penurunan pendapatan, dan hampir 80% mengaku pengeluaran membengkak untuk biaya sekolah alternatif dan medis.
- Temuan ini memicu pertanyaan tentang kebijakan dukungan keluarga di Indonesia, di mana fenomena serupa berpotensi meningkat pasca-pandemi.

Sebuah survei terbaru di Jepang mengungkap ketimpangan mencolok: ketika anak memutuskan tidak bersekolah, ibu jauh lebih mungkin kehilangan pekerjaan dibanding ayah. Data yang dirilis organisasi nirlaba Key Design menunjukkan 19,9% ibu mengaku berhenti bekerja, sementara angka ayah hanya 0,7% โ sebuah jurang yang mencerminkan beban ganda yang masih ditimpakan pada perempuan.
Survei yang dilakukan April hingga Mei lalu ini menjaring 1.234 respons orang tua dari 46 prefektur. Hasilnya, 95,4% responden menyatakan kesulitan menjalankan peran ganda sebagai pengasuh dan pekerja. Lebih mengkhawatirkan, 84,1% pernah berpikir untuk meninggalkan pekerjaan mereka. Fenomena ini tidak berdiri sendiri; ia berkaitan erat dengan kultur kerja Jepang yang kaku dan minim fleksibilitas, terutama bagi ibu yang kerap menjadi penanggung jawab utama pendidikan anak.
Dampak finansialnya pun nyata. Separuh responden (50,3%) melaporkan pendapatan rumah tangga menurun akibat perubahan pola kerja atau pengunduran diri. Sementara itu, 79,7% justru mengaku pengeluaran membengkak โ untuk sekolah alternatif, biaya medis, dan kebutuhan lain yang muncul sebagai konsekuensi anak tidak bersekolah. Kombinasi ini menciptakan tekanan ekonomi berlapis yang sulit dipulihkan.
Di balik angka, ada kisah emosional yang jarang terdengar. Seorang orang tua mengaku, "Saya merasa kosong, seperti ditinggalkan oleh masyarakat." Yang lain berkata, "Saya ingin tetap bekerja, tapi kondisi anak membuat saya tidak mungkin meninggalkannya sendirian." Kesaksian ini menunjukkan bahwa keputusan berhenti kerja bukan pilihan bebas, melainkan jalan buntu yang dipaksakan keadaan.
Yuhei Dobashi dari Key Design menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar masalah individu. "Meninggalkan pekerjaan karena anak tidak sekolah seharusnya dipandang sebagai tantangan bagi masyarakat," ujarnya. Ia mendesak perusahaan dan masyarakat luas untuk memperdalam pemahaman terhadap orang tua yang anaknya tidak hadir di sekolah. Tanpa dukungan sistemik, siklus kerugian ekonomi dan psikologis akan terus berulang.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan. Meski skala dan konteksnya berbeda, fenomena anak tidak sekolah (dropout atau school refusal) juga meningkat pasca-pandemi. Banyak ibu di Indonesia yang terpaksa mengorbankan karier demi mendampingi anak, sementara kebijakan cuti dan fleksibilitas kerja masih terbatas. Survei ini menjadi pengingat bahwa beban pengasuhan tidak boleh jatuh hanya pada satu gender.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka: akankah perusahaan di Asia, termasuk Indonesia, mulai merancang kebijakan ramah keluarga yang tidak menghukum orang tua yang anaknya bermasalah dengan sekolah? Atau justru semakin banyak ibu yang terpaksa memilih antara karier dan anak? Jawabannya akan menentukan wajah ketenagakerjaan dan kesejahteraan keluarga di kawasan ini.



