Tiga Pejabat The Fed Desak Kenaikan Suku Bunga: Inflasi AS Dinilai Terlalu Persisten
Baca dalam 60 detik
- Tiga anggota FOMC memilih berbeda dari keputusan mayoritas yang menahan suku bunga, menuntut kenaikan 25 basis poin untuk mencegah inflasi mengakar.
- Kekhawatiran utama adalah inflasi yang bertahan lama akan semakin sulit dan mahal untuk dikendalikan, terutama setelah lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik.
- Pasar obligasi merespons dengan kenaikan imbal hasil tertinggi sejak 2007, mencerminkan skeptisisme terhadap komitmen Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Washington, D.C. โ Tiga pejabat tinggi bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) secara terbuka menentang keputusan mayoritas yang kembali menahan suku bunga acuan pada kisaran 3,50โ3,75 persen. Mereka menilai, penundaan kenaikan suku bunga justru akan membuat inflasi semakin sulit dikendalikan dan berisiko mengakar dalam perekonomian.
Ketiga suara berbeda tersebut berasal dari presiden Federal Reserve Bank Cleveland, Beth Hammack; presiden Federal Reserve Bank Minneapolis, Neel Kashkari; dan presiden Federal Reserve Bank Dallas, Lorie Logan. Mereka menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Rabu lalu. Jumlah dissenting voters sebanyak tiga dari 12 anggota komite merupakan hal yang tidak lazim dan menjadi sinyal kuat adanya perpecahan internal dalam menghadapi laju inflasi yang masih jauh di atas target 2 persen.
โInflasi sudah terlalu tinggi untuk waktu yang terlalu lama,โ ujar Hammack dalam pernyataannya, Jumat (31/7). โSemakin lama inflasi tinggi bertahan, semakin sulit dan mahal biaya untuk menurunkannya.โ Pernyataan ini menegaskan kekhawatiran bahwa sikap wait-and-see The Fed justru akan memperbesar beban ekonomi di masa depan.
Tekanan inflasi di AS memang tidak bisa dianggap remeh. Lonjakan harga energi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik sejak Maret lalu telah mendorong inflasi ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Efeknya merembet ke berbagai sektor, menggerus daya beli rumah tangga, dan memicu kekhawatiran akan terjadinya spiral harga-upah yang sulit diputus.
Neel Kashkari, yang selama ini dikenal sebagai salah satu anggota paling dovish, justru bergabung dengan kelompok yang menginginkan pengetatan. Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya langkah bertahap sejak dini. โJika inflasi tetap tinggi, serangkaian langkah kecil akan lebih baik daripada menunggu dan akhirnya harus mengambil tindakan yang lebih agresif,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa pengetatan kebijakan secara bertahap akan memberikan ruang bagi The Fed untuk mengamati perkembangan data inflasi dan ketenagakerjaan.
Senada dengan Kashkari, Lorie Logan dari Dallas Fed menilai tingkat suku bunga saat ini belum cukup membatasi aktivitas ekonomi. Menurutnya, tanpa adanya kejutan tak terduga, inflasi berpotensi terus berada di atas target. โKomite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tidak bisa bergantung pada kejutan untuk mencapai tujuannya,โ tegas Logan. Ia mendukung tindakan moderat sekarang untuk menghindari kenaikan yang lebih tajam di kemudian hari.
Di tengah perdebatan internal ini, Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, justru menjadi sorotan. Sebelum menjabat pada Mei lalu, Warsh dikenal mendukung penurunan suku bunga, sejalan dengan keinginan Presiden Donald Trump yang menominasikannya. Namun, sejak resmi memimpin, Warsh hanya menyatakan komitmennya terhadap target inflasi 2 persen tanpa memberikan detail strategi yang akan diambil. Sikap tertutup ini memicu kekhawatiran di pasar, tercermin dari melonjaknya imbal hasil obligasi Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007.
Tekanan politik terhadap independensi The Fed juga semakin nyata. Trump, yang dikenal vokal menginginkan suku bunga rendah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, bahkan telah melancarkan penyelidikan kriminal terhadap pendahulu Warsh dan mencoba memberhentikan salah satu gubernur The Fed. Langkah-langkah ini dinilai sebagai intervensi terbesar dalam sejarah independensi bank sentral AS.
โFOMC tidak bisa mengandalkan kejutan tak terduga untuk mencapai tujuannya dan selalu dapat menyesuaikan kebijakan jika kejutan tersebut terjadi.โ โ Lorie Logan, Presiden Federal Reserve Bank Dallas
Bagi Indonesia, dinamika kebijakan moneter AS memiliki implikasi yang signifikan. Kenaikan suku bunga The Fed yang lebih cepat dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS, menekan nilai tukar rupiah, dan memicu arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Bank Indonesia pun dituntut untuk tetap waspada dan menjaga stabilitas nilai tukar serta inflasi, meskipun ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi semakin terbatas. Para pelaku pasar di Indonesia perlu mencermati sinyal-sinyal dari pertemuan The Fed berikutnya, karena keputusan yang diambil akan berdampak langsung pada pergerakan pasar obligasi dan saham di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah The Fed akan mampu menjaga kredibilitasnya di tengah tekanan politik dan perbedaan pendapat internal yang semakin tajam. Jika inflasi terus bertahan tinggi dan pasar kehilangan kepercayaan terhadap komitmen bank sentral, biaya untuk memulihkan stabilitas harga akan semakin mahal. Keputusan pada pertemuan-pertemuan mendatang akan menjadi ujian bagi Warsh dalam menyeimbangkan tekanan politik dan mandatnya untuk menjaga stabilitas ekonomi AS.



