Intervensi Yen yang Tak Lazim: AS Jual Euro demi Perkuat Mata Uang Jepang
Baca dalam 60 detik
- Pasar valas diguncang aksi intervensi bersama AS-Jepang yang tidak biasa, dengan Treasury AS dikabarkan menjual euro untuk membeli yen.
- Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa Washington ingin membantu Tokyo tanpa melemahkan dolar, mengingat inflasi AS yang masih tinggi.
- Ke depannya, pelaku pasar mencermati apakah bank sentral besar lain, seperti ECB, akan ikut serta dalam koordinasi untuk memperkuat yen.

Langkah intervensi mata uang yang dilakukan Amerika Serikat dan Jepang pekan lalu memunculkan dinamika baru yang jarang terjadi di pasar valuta asing: Treasury AS dikabarkan menjual euro untuk membeli yen, bukan menjual dolar. Aksi yang disebut analis sebagai langkah "sangat tidak biasa—bahkan mungkin belum pernah terjadi" ini menjadi sorotan utama para pelaku pasar yang tengah mencermati arah kebijakan moneter global.
Jepang mengonfirmasi pada Senin (3/8) bahwa mereka melakukan intervensi pembelian yen pada Jumat pekan lalu bersama dengan Departemen Treasury AS. Namun, berdasarkan laporan Reuters yang mengutip dua sumber pasar, Treasury AS tidak menjual dolar, melainkan menjual euro untuk membeli yen—sebuah taktik yang sebelumnya dilaporkan oleh Financial Times. Analis HSBC menyebut langkah ini sebagai langkah yang "sangat tidak biasa—mungkin belum pernah terjadi sebelumnya".
Keputusan AS untuk menggunakan euro sebagai alat intervensi dinilai sebagai upaya untuk membantu Jepang memperkuat yen tanpa menimbulkan persepsi bahwa Washington menginginkan dolar yang lebih lemah. Hal ini penting mengingat inflasi AS yang masih berada di atas target. "Mengingat saat ini AS memiliki inflasi di atas target, dolar yang lebih lemah bukanlah hal yang terbaik bagi mereka," ujar Lee Hardman, analis mata uang senior di MUFG, seperti dikutip Reuters. Pelemahan dolar yang meluas dapat memicu kenaikan inflasi lebih lanjut dan memberikan alasan bagi Federal Reserve yang terpecah untuk menaikkan suku bunga.
Intervensi ini terjadi di tengah tekanan besar terhadap yen yang sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun di kisaran 164 per dolar. Setelah aksi intervensi, yen berhasil menguat ke sekitar 157 per dolar dan mencatat kenaikan mingguan hampir 4 persen—terbesar dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, euro yang sempat berada di level 187,4 yen pada Kamis, anjlok hingga menembus di bawah 180 yen pada Senin, atau melemah lebih dari 4 persen. Pergerakan ini dengan cepat merambat ke pasangan mata uang lainnya karena bank dan trader menyesuaikan harga untuk euro/yen, dolar/yen, dan euro/dolar.
Pilihan AS untuk menjual euro daripada dolar juga disorot oleh analis Barclays. "Pilihan mata uang intervensi oleh Treasury AS menghindari sinyal keinginan untuk pelemahan dolar yang luas, menurut kami, menjaga operasi ini tetap berfokus pada yen," tulis mereka dalam catatan riset. Namun, langkah ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai dampaknya terhadap euro dan koordinasi bank sentral global. Bank Sentral Eropa (ECB) menolak berkomentar mengenai laporan penjualan euro oleh AS, meskipun sumber yang mengetahui peristiwa tersebut mengatakan ECB telah berhubungan dengan Fed terkait masalah ini. Treasury AS dan New York Fed juga enggan memberikan tanggapan.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang perlu dicermati. Penguatan yen yang signifikan dapat memengaruhi arus modal di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Jika yen menguat, investor Jepang yang selama ini aktif berinvestasi di pasar obligasi dan saham Indonesia mungkin akan menilai ulang portofolio mereka. Selain itu, pelemahan euro dapat berdampak pada daya saing ekspor Indonesia ke Eropa, meskipun efeknya mungkin tidak langsung. Bank Indonesia perlu mewaspadai potensi volatilitas di pasar keuangan domestik akibat perubahan sentimen global ini.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah koordinasi ini akan meluas. Reuters melaporkan pekan lalu bahwa Korea Selatan juga berkoordinasi dengan Jepang saat menjual dolar dan membeli won. Analis HSBC menilai bahwa akan jauh lebih signifikan jika ECB ikut menjual euro/yen, karena hal itu akan terlihat seperti kesepakatan mata uang di antara ekonomi besar untuk memperkuat yen. "Itu akan menjadi peristiwa dengan probabilitas rendah, tetapi dampaknya tinggi," ujar mereka. Jika skenario itu terjadi, pasar valas global bisa mengalami guncangan yang lebih besar. Namun, dengan keterbatasan cadangan euro yang dimiliki AS, dampak langsung terhadap euro mungkin terbatas. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan menjadi preseden baru dalam intervensi mata uang global, atau hanya sekadar taktik sesaat?



