Indonesia-Thailand Perluas Transaksi Mata Uang Lokal, Target Dagang 20 Miliar Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Jakarta dan Bangkok sepakat memperdalam kerja sama ekonomi digital dengan memperluas penggunaan mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
- Kesepakatan ini menargetkan nilai perdagangan bilateral sebesar 20 miliar dolar AS pada 2030, sekaligus memperkuat posisi kedua negara sebagai pilar ASEAN.
- Langkah ini dinilai mampu menekan biaya transaksi dan mendorong investasi, namun tantangan stabilitas nilai tukar masih menjadi pekerjaan rumah.

Pemerintah Indonesia dan Thailand resmi memperluas kerja sama ekonomi digital dengan mengedepankan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) sebagai instrumen utama perdagangan dan investasi bilateral. Kesepakatan itu diumumkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/7/2026).
Langkah ini bukan sekadar simbolisme diplomatik. Dengan LCT, pelaku usaha dari kedua negara dapat bertransaksi langsung menggunakan rupiah dan baht tanpa harus mengonversi ke dolar AS terlebih dahulu. Prabowo menilai mekanisme ini akan memangkas biaya konversi, mempercepat proses pembayaran, dan pada akhirnya meningkatkan volume perdagangan. "Di tengah transformasi ekonomi global, Indonesia dan Thailand berkomitmen memperkuat kerja sama di bidang ekonomi digital, termasuk pemanfaatan LCT untuk efisiensi," ujarnya dalam pernyataan bersama.
Komitmen ini sejalan dengan target ambisius yang dipatok kedua negara: nilai perdagangan bilateral mencapai 20 miliar dolar AS pada 2030. Angka itu nyaris dua kali lipat dari capaian saat ini yang baru sekitar 12 miliar dolar AS. Untuk merealisasikannya, Jakarta dan Bangkok juga sepakat membentuk komisi perdagangan bersama serta menyusun peta jalan kemitraan strategis yang mencakup sektor ekonomi, politik, dan keamanan.
Bagi Indonesia, perluasan LCT memiliki dimensi strategis yang lebih luas. Di tengah kampanye dedolarisasi yang digaungkan negara-negara berkembang, langkah ini memperkuat posisi rupiah di kawasan. Bank Indonesia sebelumnya telah menjalin kerja sama serupa dengan sejumlah negara, termasuk China dan Jepang. Namun, dengan Thailandโsalah satu mitra dagang terbesar di ASEANโdampaknya lebih terasa langsung bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang selama ini terbebani biaya transaksi valas.
Anutin menegaskan bahwa Indonesia dan Thailand, sebagai dua pilar utama ASEAN, harus bergerak lebih erat. "Kita harus bekerja lebih erat untuk memperluas kerja sama bilateral dan mendorong kawasan kita maju," katanya. Pernyataan itu menggarisbawahi pentingnya solidaritas kawasan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan rivalitas geopolitik yang kian memanas.
"Sebagai dua negara yang merupakan pilar utama ASEAN, kita harus bekerja lebih erat untuk memperluas kerja sama bilateral dan mendorong kawasan kita maju." โ Anutin Charnvirakul, Perdana Menteri Thailand
Meski optimisme mengiringi kesepakatan ini, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa efektivitas LCT sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar kedua mata uang. Fluktuasi rupiah dan baht yang tajam dapat menggerus manfaat efisiensi yang dijanjikan. Selain itu, infrastruktur perbankan dan regulasi lintas batas masih perlu diselaraskan agar transaksi berjalan mulus. Pertanyaannya, akankah kedua negara mampu menjaga momentum ini di tengah tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga global dan perlambatan ekonomi China? Hanya waktu yang akan membuktikan.



