Fauci Bungkam di Hadapan Senat AS: Hak Amandemen Kelima vs Tuntutan Transparansi Asal-Usul Covid-19
Baca dalam 60 detik
- Mantan pejabat kesehatan AS, Anthony Fauci, memilih bungkam dengan menggunakan hak konstitusionalnya saat dihadirkan paksa dalam sidang Senat yang membahas asal-usul Covid-19.
- Sidang yang dipimpin Senator Rand Paul ini mempertegas polarisasi politik di Washington, dengan Partai Republik mendesak investigasi lebih lanjut sementara Demokrat menilai ini sebagai agenda politik.
- Keputusan Fauci untuk tidak menjawab pertanyaan berpotensi memicu langkah hukum baru dan memperumit upaya transparansi global mengenai asal-usul pandemi.

Anthony Fauci, tokoh sentral penanganan pandemi Covid-19 di Amerika Serikat, memilih untuk tidak menjawab satu pun pertanyaan dalam sidang Senat yang berlangsung panas pada Rabu (30/7/2026). Dengan berulang kali mengacu pada hak Amandemen Kelima Konstitusi AS, Fauci menghindari klarifikasi terkait pendanaan penelitian virus corona di China dan tuduhan bahwa ia menyesatkan Kongres. Langkah ini langsung memicu reaksi keras dari para senator, terutama dari kubu Republik yang menuntut akuntabilitas.
Sidang yang digelar Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintahan Senat ini kembali membuka luka lama: apakah pandemi bermula dari transmisi alami hewan ke manusia atau akibat insiden di laboratorium Wuhan. Pertanyaan krusial lainnya adalah sejauh mana pengawasan pemerintah AS terhadap riset yang didanai di kota tersebut. Fauci, yang memimpin Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) selama hampir empat dekade, dihadirkan secara paksa melalui subpoena untuk memberikan kesaksian.
Ketua komite, Rand Paul dari Partai Republik, telah lama menuding Fauci menutupi bukti yang mendukung teori kebocoran laboratorium di Institut Virologi Wuhan. Dalam pernyataan pembukaannya, Fauci justru menuduh Paul memiliki obsesi pribadi untuk memenjarakannya. "Satu-satunya alasan [Paul] memanggil saya ke komite ini adalah untuk membuat saya mengatakan sesuatu yang dapat membenarkan janji-janjinya bahwa saya akan berakhir 'di balik jeruji besi'," ujar Fauci, seperti dikutip South China Morning Post.
Ketegangan semakin memuncak ketika pengacara Fauci yang mencoba berbicara justru diperintahkan keluar dari ruang sidang oleh Paul. Dana yang dipersoalkan Paul diberikan oleh Institut Kesehatan Nasional (NIH) kepada EcoHealth Alliance, organisasi nirlaba AS yang mendukung riset coronavirus kelelawar di Wuhan. Paul dan koleganya menyebut penelitian itu sebagai "gain-of-function" yang berbahaya, sementara Fauci dan NIH membantah keras bahwa riset tersebut menciptakan virus penyebab pandemi.
Di tengah perdebatan, mantan Presiden Joe Biden telah memberikan pengampunan preventif yang luas kepada Fauci sebelum meninggalkan jabatannya pada Januari 2025. Pengampunan itu mencakup pelanggaran federal potensial antara 2014 hingga 2025, tetapi tidak melindungi pernyataan palsu yang mungkin dibuat setelah tanggal tersebut. Hingga kini, Fauci belum menghadapi dakwaan apa pun terkait pandemi.
Sidang ini memperlihatkan jurang partisan yang dalam. Senator Bernie Moreno dari Ohio melontarkan pernyataan keras, "Saya berharap suatu hari nanti Anda mempertanggungjawabkan kejahatan Anda." Sementara itu, Senator Gary Peters dari Michigan mengecam sidang sebagai "puncak dari upaya bias dan selektif" untuk melegitimasi kesimpulan yang sudah ditentukan sebelumnya. Ketegangan ini mencerminkan betapa isu asal-usul Covid-19 masih menjadi medan pertarungan politik yang sensitif di AS.
"Hari ini akan menjadi puncak dari 40 tahun penyalahgunaan kekuasaan Anthony Fauci di NIH," ujar Rand Paul di akhir sidang, menegaskan niatnya untuk melanjutkan aksi di Kongres.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Washington ini memiliki relevansi tersendiri. Sebagai negara yang juga terdampak pandemi, Indonesia berkepentingan pada kejelasan asal-usul virus untuk memperkuat sistem kesehatan global. Namun, polarisasi yang terjadi justru berisiko mengaburkan fokus pada kolaborasi ilmiah. Kedutaan Besar China di Washington telah menegaskan bahwa penelusuran asal-usul Covid-19 harus berbasis sains, merujuk pada studi bersama WHO-China yang menyimpulkan kebocoran laboratorium "sangat tidak mungkin".
Ke depan, langkah Rand Paul untuk terus menekan Fauci di Kongres akan menjadi ujian bagi keseimbangan antara akuntabilitas politik dan hak konstitusional individu. Pertanyaannya, akankah upaya ini menghasilkan temuan baru yang kredibel, atau justru semakin memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap institusi kesehatan? Bagi dunia, termasuk Indonesia, jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan arah kebijakan kesehatan global di masa mendatang.



