Studi BRT Tuas South: Singapura Jajaki Bus Berkapasitas Tinggi, Potensi Diterapkan di Seluruh Negeri
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) tengah mengkaji sistem Bus Rapid Transit (BRT) untuk kawasan industri Tuas South, dengan opsi bus berkapasitas lebih besar.
- Jika terbukti efektif, sistem ini berpotensi menjadi solusi transportasi publik yang lebih murah dan fleksibel dibandingkan MRT, serta dapat direplikasi di wilayah lain Singapura.
- Studi ini juga akan mengevaluasi berbagai model BRT dari kota-kota dunia, termasuk Shanghai, Seoul, dan Curitiba, untuk menentukan desain yang paling sesuai.

Otoritas Transportasi Darat Singapura (LTA) tengah menguji coba sistem Bus Rapid Transit (BRT) untuk kawasan industri Tuas South, dengan rencana menggunakan bus berkapasitas tinggi yang dapat menjadi tulang punggung mobilitas pekerja di area tersebut. Jika terbukti berhasil, sistem ini berpotensi diperluas ke seluruh penjuru negeri, menawarkan alternatif transportasi yang lebih efisien dibandingkan bus konvensional namun lebih ekonomis daripada MRT.
LTA mengumumkan pada Jumat (31/7) bahwa BRT di Tuas South diharapkan mampu memberikan koneksi yang lebih cepat dan andal bagi para pekerja menuju stasiun MRT yang ada maupun yang akan dibangun. Sistem ini dikategorikan sebagai "moda transportasi kapasitas menengah", yang mampu mengangkut lebih banyak penumpang dibandingkan bus biasa, namun tetap di bawah kapasitas MRT. Keunggulan utama BRT terletak pada penggunaan jalur khusus dan prioritas sinyal lalu lintas, yang memungkinkan bus melaju lebih cepat dan tepat waktu.
Menurut LTA, BRT menawarkan kapasitas lebih tinggi terutama pada jam sibuk, namun membutuhkan infrastruktur yang lebih sedikit dibandingkan MRT atau LRT. "Ini menjadikan BRT solusi yang hemat biaya dan dapat diskalakan untuk koridor dengan kepadatan menengah seperti Tuas South," demikian pernyataan resmi LTA. Menteri Transportasi Singapura, Jeffrey Siow, saat mengunjungi Pusat Uji Rel Singapura pada hari yang sama, menyatakan bahwa jika BRT terbukti layak di Tuas, sistem ini bisa menjadi moda transportasi yang menjanjikan dan hemat biaya, tidak hanya untuk Tuas tetapi juga untuk seluruh Singapura. Ia menambahkan bahwa BRT berada di antara bus dan kereta sebagai "moda tengah".
Menariknya, meskipun BRT biasanya membutuhkan infrastruktur khusus seperti rel, listrik, dan sinyal, kota-kota seperti Shanghai dan Seoul telah mengoperasikan sistem ini tanpa infrastruktur tersebut. Varian ini dinilai lebih fleksibel, lebih murah, dan lebih cepat diterapkan. LTA kini mempelajari berbagai sistem BRT di dunia untuk menentukan model yang paling tepat bagi Tuas South. Beberapa sistem menggunakan bus dengan panjang bervariasi, mulai dari bus tunggal hingga bus gandeng dua bagian dan bus tiga bagian. Contohnya dapat ditemukan di Shanghai, Seoul, Curitiba (Brasil), Istanbul, dan Brisbane. Sementara itu, varian BRT mirip trem menggunakan kendaraan lebih panjang dengan kabin pengemudi di kedua ujung, dilengkapi panduan virtual dan sistem otomasi, seperti yang ada di Zhuzhou dan Yibin, Tiongkok.
Kedua tipe BRT umumnya beroperasi di jalur khusus dengan prioritas sinyal. Beberapa sistem juga menerapkan pembayaran tiket di stasiun, bukan di dalam bus, serta peron yang sejajar dengan lantai kendaraan untuk mempercepat naik-turun penumpang dan meningkatkan kenyamanan. LTA akan mengkaji manfaat dan biaya dari berbagai opsi BRT untuk Tuas South, serta menilai kesesuaiannya untuk implementasi jangka panjang.
"Varian ini lebih fleksibel, lebih murah, dan lebih cepat diterapkan," ujar Menteri Jeffrey Siow mengenai BRT tanpa infrastruktur khusus.
Bagi Indonesia, kajian ini menawarkan pelajaran berharga. Dengan kemacetan yang semakin parah di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, konsep BRT yang fleksibel dan hemat biaya dapat menjadi alternatif yang menarik. Sistem BRT di Jakarta (TransJakarta) sudah menjadi contoh, namun pengembangan lebih lanjut dengan teknologi bus berkapasitas tinggi dan jalur khusus yang lebih terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi. Selain itu, adopsi sistem pembayaran di stasiun dan platform yang sejajar dengan lantai bus dapat mengurangi waktu tunggu dan meningkatkan pengalaman penumpang, sebagaimana dicontohkan dalam studi LTA.
Ke depan, keputusan LTA akan menjadi barometer bagi adopsi BRT di kawasan Asia Tenggara. Jika Singapura berhasil mengimplementasikan BRT di Tuas South dan memperluasnya secara nasional, negara-negara tetangga, termasuk Indonesia, dapat menjadikannya sebagai model. Pertanyaan yang muncul: akankah Indonesia berani mengambil langkah serupa untuk mengatasi kemacetan perkotaan dengan solusi yang lebih adaptif dan terjangkau?



