El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027, BMKG Catat Lonjakan Titik Panas
Baca dalam 60 detik
- BMKG mencatat lebih dari 5.000 titik panas hingga 29 Juli 2026, melonjak tajam dibanding tahun El Nino sebelumnya.
- Kemarau ekstrem diprediksi memuncak Agustus-September, dengan risiko kebakaran hutan tertinggi di Sumatra dan Kalimantan.
- CPC Amerika Serikat memberi probabilitas 81 persen terjadinya El Nino 'sangat kuat' pada akhir 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal 2027.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa fenomena El Nino yang tengah melanda Indonesia diprediksi akan bertahan hingga awal 2027. Pernyataan ini disampaikan menyusul terdeteksinya lebih dari 5.000 titik panas hingga 29 Juli 2026, sebuah lonjakan signifikan dibandingkan tahun-tahun El Nino sebelumnya seperti 2015, 2019, dan 2023.
Kepala BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, dalam konferensi pers daring, Kamis (30/7), mengungkapkan bahwa provinsi dengan titik panas terbanyak adalah Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa 54,5 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga pertengahan Juli, dengan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus.
Fenomena ini bukan sekadar catatan meteorologis; ia membawa konsekuensi serius bagi ketahanan pangan dan lingkungan. Kementerian Pertanian sebelumnya telah mengimbau para petani untuk menyesuaikan jadwal tanam, sementara BMKG mengingatkan bahwa periode kritis kebakaran hutan dan lahan akan berlangsung hingga September. Wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi sorotan utama karena kerentanan lahannya yang tinggi.
Data BMKG menunjukkan kekeringan ekstrem telah melanda berbagai daerah, dengan periode tanpa hujan terlama mencapai 80 hari di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Sebanyak 1.366 lokasi mengalami hari kering 21โ30 hari, 943 lokasi dengan 31โ60 hari tanpa hujan berturut-turut, dan 70 lokasi bahkan mencatat kondisi kering lebih dari 60 hari. Angka-angka ini menggambarkan betapa luasnya dampak yang sudah dirasakan masyarakat.
Untuk memitigasi risiko, BMKG telah melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah. Namun, upaya ini dinilai belum cukup tanpa pengawasan ketat di lapangan. "Periode kritis kebakaran hutan dan lahan diperkirakan terjadi dari Juli hingga September 2026, sehingga pemantauan dan pengawasan yang intensif di daerah berisiko tinggi sangat penting untuk mencegah penyebaran titik panas dan kerusakan lingkungan yang lebih luas," tegas Sopaheluwakan.
Di tingkat global, Pusat Prediksi Iklim Amerika Serikat (CPC) memperkirakan peluang 81 persen terjadinya El Nino "sangat kuat" antara Oktober dan Desember 2026, yang akan menempatkannya di jajaran peristiwa terbesar sejak 1950. Definisi "sangat kuat" adalah anomali suhu 2,0 derajat Celsius atau lebih di atas nilai indeks. Lebih lanjut, CPC memberi probabilitas 97 persen bahwa fenomena ini akan bertahan hingga awal musim semi 2027.
Bagi Indonesia, implikasi dari prediksi ini sangat luas. Sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung ekonomi banyak daerah, menghadapi ancaman gagal panen. Sementara itu, kebakaran hutan yang kerap menyertai El Nino tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga memicu kabut asap lintas batas yang mengganggu kesehatan dan penerbangan. Pemerintah daerah diharapkan segera menyiapkan langkah antisipasi, termasuk memastikan ketersediaan air bersih dan pangan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa siap Indonesia menghadapi skenario terburuk El Nino yang berkepanjangan. Dengan probabilitas yang tinggi dari lembaga internasional, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi kunci untuk meminimalkan dampak sosial-ekonomi. Apakah langkah-langkah mitigasi yang ada saat ini cukup cepat dan tepat sasaran? Waktu yang akan menjawab, tetapi kesiapan sejak dini adalah keniscayaan.



