Amazon Cetak Laba Melonjak 244% di Kuartal II 2026, Sinyal Kuat Dominasi AI
Baca dalam 60 detik
- Laba per saham Amazon melesat 244% menjadi US$5,78, jauh di atas estimasi analis yang hanya US$2,30.
- AWS mencatat pertumbuhan tercepat dalam 18 kuartal, didorong lonjakan layanan AI dan chip dengan run rate masing-masing di atas US$25 miliar.
- Manajemen memproyeksikan pertumbuhan dobel digit pada kuartal berikutnya, meski sedikit di bawah konsensus pasar.

Amazon menutup kuartal kedua 2026 dengan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar. Raksasa e-commerce dan cloud computing ini membukukan laba per saham US$5,78, melonjak 244% dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara pendapatan naik 20% menjadi US$200,6 miliar. Angka-angka itu jauh di atas proyeksi analis yang memperkirakan laba US$2,30 per saham dan pendapatan US$197 miliar.
Pertumbuhan yang solid ini ditopang oleh permintaan yang kuat di seluruh segmen bisnis. Divisi iklan menjadi bintang dengan pertumbuhan 26% year-on-year, sementara AWS, unit komputasi awan, mencatatkan akselerasi tercepat dalam 18 kuartal terakhir. Dorongan utama berasal dari adopsi layanan kecerdasan buatan (AI) dan chip khusus yang masing-masing telah mencapai run rate pendapatan tahunan di atas US$25 miliar.
Di sisi operasional, Amazon juga menunjukkan efisiensi yang lebih baik. Layanan pengiriman untuk anggota Prime memecahkan rekor kecepatan, dengan pengiriman same-day atau overnight meningkat lebih dari 40% pada paruh pertama tahun ini. Disiplin biaya yang ketat turut mendorong ekspansi margin yang signifikan, meskipun arus kas dari operasi meningkat.
Namun, ada catatan penting: posisi likuiditas perusahaan melemah akibat belanja modal besar-besaran di bidang AI. Amazon terus menggenjot investasi infrastruktur, termasuk pengembangan AWS DevOps Agent dan peluncuran infrastruktur serverless untuk AI yang dapat diskalakan sesuai permintaan. Langkah ini sejalan dengan strategi jangka panjang untuk memanfaatkan gelombang AI, meskipun berdampak pada kas perusahaan.
Manajemen memandu pertumbuhan pendapatan dobel digit untuk kuartal berikutnya, meskipun proyeksi ini sedikit di bawah konsensus pasar. Hal ini mencerminkan kehati-hatian di tengah belanja modal yang masif, namun juga menunjukkan keyakinan pada permintaan jangka panjang. Saham Amazon saat ini diperdagangkan pada price-to-earnings forward 21,3, di bawah rata-rata historisnya, yang menurut analis mencerminkan diskon menarik mengingat posisi kepemimpinan pasar dan leverage operasional.
Bagi Indonesia, kinerja Amazon ini menjadi sinyal penting bagi ekosistem digital dan industri e-commerce nasional. Pertumbuhan AWS yang pesat mengindikasikan semakin tingginya adopsi cloud dan AI di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Perusahaan-perusahaan lokal yang bergantung pada infrastruktur cloud untuk layanan mereka berpotensi merasakan dampak positif dari inovasi yang terus digenjot Amazon. Namun, dominasi AWS juga menimbulkan pertanyaan tentang ketahanan penyedia layanan cloud domestik dan regulasi data yang semakin relevan di tengah percepatan transformasi digital.
โInvestasi agresif di AI adalah taruhan besar Amazon untuk menciptakan keunggulan kompetitif jangka panjang. Dengan valuasi yang masih di bawah rata-rata historis, pasar tampaknya belum sepenuhnya mengapresiasi potensi ini,โ ujar seorang analis teknologi yang memantau pergerakan saham Amazon.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah belanja modal yang deras ini akan terus menghasilkan imbal hasil yang sepadan, terutama ketika pesaing seperti Microsoft dan Google juga berlomba di ranah AI. Bagi investor, keputusan Amazon untuk memprioritaskan pertumbuhan di atas likuiditas jangka pendek adalah sinyal berani yang bisa menentukan arah industri cloud global. Akankah langkah ini mengukuhkan dominasi Amazon, atau justru menjadi beban ketika pasar mulai menuntut profitabilitas yang lebih konsisten? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa kuartal mendatang.



