Binance Catat Rekor: Aset bStocks Tembus US$500 Juta dalam Tujuh Pekan
Baca dalam 60 detik
- Layanan sekuritas tokenisasi Binance, bStocks, mengumpulkan aset senilai lebih dari US$500 juta hanya dalam 49 hari sejak diluncurkan.
- Mayoritas pengguna bStocks adalah generasi Z dan kripto-native, dengan 58% volume perdagangan saham terjadi di luar jam bursa AS.
- Ekspansi cepat bStocks menandakan pergeseran minat investor global menuju akses pasar 24/7, yang berpotensi memengaruhi strategi platform investasi di Asia Tenggara.

Binance mengumumkan bahwa produk sekuritas tokenisasi mereka, bStocks, telah menembus angka US$500 juta dalam aset yang dikelola (AUM) hanya tujuh pekan setelah resmi beroperasi. Capaian ini menegaskan permintaan yang kian besar terhadap instrumen keuangan berbasis blockchain yang memungkinkan perdagangan saham tanpa batas waktu.
Sejak diluncurkan pada 11 Juni 2026, bStocks berkembang pesat dari lima ticker menjadi lebih dari 46 daftar saham. Layanan ini menawarkan akses 24/7 ke sekuritas tokenisasi serta konversi instan dan gratis antara bStock dan saham dasarnya. Menurut data Binance, 41,5% pengguna bStocks memulai perjalanan investasi mereka di pasar tradisional melalui produk ini, sementara generasi Z mendominasi aktivitas perdagangan dengan porsi 44%.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan perilaku investor yang menginginkan fleksibilitas dan keterjangkauan. Setelah bursa AS tutup, bStocks menyumbang 58% dari volume perdagangan terkait ekuitas di Binance. Bahkan, pada akhir pekan terakhir saja, volume transaksi bStocks mencapai US$2 miliar. Angka-angka ini menunjukkan bahwa investor tidak lagi terikat pada jam bursa konvensional, melainkan mencari platform yang mampu mengakomodasi aktivitas perdagangan kapan saja.
Menurut Shunyet Jan, Head of Exchange & Trading di Binance, tokenisasi saham membuka pintu bagi generasi baru investor. Ia menekankan bahwa pengguna kini menuntut akses sesuai keinginan mereka, tanpa hambatan geografis atau waktu. "Kami melihat semakin banyak pengguna mengeksplorasi keuangan tradisional melalui pengalaman yang tanpa batas, selalu tersedia, dan terintegrasi dengan aset digital yang mereka miliki," ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan strategi Binance untuk menjembatani dunia kripto dan pasar modal tradisional.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini memberikan sinyal penting. Meskipun regulasi sekuritas tokenisasi di Indonesia masih dalam tahap kajian oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), minat investor lokal terhadap aset kripto dan instrumen keuangan digital terus meningkat. Kehadiran bStocks dapat menjadi katalis bagi diskusi tentang adopsi teknologi blockchain di pasar modal domestik, terutama dalam hal efisiensi dan aksesibilitas. Namun, investor Indonesia perlu mencermati aspek legal dan perlindungan konsumen sebelum terjun ke produk serupa.
Binance juga mengintegrasikan bStocks dengan ekosistem investasinya yang mencakup spot, ekuitas, dan perpetual futures. Saat ini, 58,5% pemegang bStocks juga aktif di instrumen lain, menunjukkan bahwa produk ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari strategi diversifikasi portofolio. Penambahan saham-saham besar seperti Apple, Amazon, Goldman Sachs, dan PayPal memperkuat daya tarik bStocks bagi investor yang ingin terpapar pasar global.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah model tokenisasi saham akan menjadi standar baru dalam industri keuangan, atau hanya fenomena sementara yang dipicu oleh kondisi pasar saat ini. Dengan pertumbuhan yang begitu cepat, Binance tampaknya berada di garis depan inovasi ini. Namun, tantangan regulasi dan persaingan dari bursa tradisional yang mulai mengadopsi teknologi serupa akan menjadi ujian bagi keberlanjutan bStocks.



