Andrew Garfield Buka Suara soal Drama di Balik Film 'Artificial' yang Sempat Ditinggal Amazon
Baca dalam 60 detik
- Film 'Artificial' garapan Luca Guadagnino akhirnya menemukan rumah baru di Neon setelah Amazon MGM mundur di tengah kontroversi.
- Andrew Garfield mengaku justru tertarik dengan dinamika industri film yang membuat proyek ini sempat terkatung-katung.
- Kepindahan distributor ini menandai pergeseran strategi studio besar di tengah meningkatnya sensitivitas politik di Hollywood.

Andrew Garfield akhirnya angkat bicara mengenai lika-liku produksi film "Artificial" yang sempat ditinggalkan Amazon MGM Studios. Dalam wawancara terbarunya, aktor 42 tahun itu mengaku justru merasa tertarik dengan drama di balik layar yang menyelimuti proyek garapan sutradara Luca Guadagnino tersebut.
Film yang mengangkat kisah kontroversial di balik OpenAI ini sempat kehilangan distributor setelah Amazon MGM memutuskan mundur, hanya beberapa bulan setelah menjalin investasi senilai 50 miliar dolar AS dengan perusahaan kecerdasan buatan itu. Kini, hak distribusi telah diambil alih oleh Neon, studio independen yang dikenal berani mengambil risiko dengan film-film arthouse.
Garfield, yang berperan sebagai CEO OpenAI Sam Altman, menegaskan bahwa dirinya sangat antusias dengan kepindahan ini. "Saya sangat bersyukur kepada Amazon karena telah memproduksi film ini bersama kami, dan juga membantu menemukan rumah baru," ujarnya kepada The Hollywood Reporter. Ia menambahkan bahwa Neon adalah "studio yang berani dengan film-film yang berani", sehingga dirinya merasa cocok untuk bermitra dengan mereka.
Keputusan Amazon MGM untuk melepas film ini memang mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, sejumlah studio besar seperti Netflix, Focus, dan Warner Bros. dikabarkan menolak untuk mengambil alih proyek ini. Sumber-sumber di Hollywood menyebutkan bahwa alasan politik menjadi salah satu pertimbangan utama, mengingat isu kecerdasan buatan yang semakin sensitif di Amerika Serikat.
Dalam pernyataan resminya, Amazon MGM menyatakan bahwa film ini "akan lebih baik jika dirilis oleh studio lain". Mereka juga menegaskan rasa hormat yang tinggi terhadap Guadagnino dan berharap dapat terus bekerja sama di masa depan. Sementara itu, produser David Heyman, yang terlibat sejak proyek ini diumumkan pada Juni 2025, memuji Guadagnino sebagai "pembuat film yang unik" dengan bakat dan sensitivitas yang luar biasa.
Film "Artificial" digambarkan sebagai "drama komedi yang berlatar dunia kecerdasan buatan". Kisahnya berfokus pada peristiwa nyata ketika Sam Altman dipecat dari OpenAI pada November 2023, kemudian dipekerjakan kembali hanya dalam beberapa hari setelah adanya tekanan dari karyawan dan investor. Selain Garfield, film ini juga dibintangi oleh Cooper Koch, Chris O'Dowd, Yura Borisov, Monica Barbaro, Jason Schwartzman, Cooper Hoffman, Ike Barinholtz, dan Billie Lourd. Yura Borisov akan memerankan Ilya Sutskever, salah satu pendiri OpenAI yang memimpin upaya pemecatan Altman, sementara Monica Barbaro berperan sebagai CTO Mira Murati. Naskahnya ditulis oleh Simon Rich, yang dikenal lewat karyanya di Saturday Night Live.
Bagi penonton Indonesia, drama di balik film ini menjadi cermin bagaimana industri hiburan global mulai terpengaruh oleh dinamika politik dan ekonomi yang semakin kompleks. Keputusan Amazon MGM untuk mundur, yang diikuti oleh penolakan studio-studio besar lainnya, menunjukkan bahwa isu kecerdasan buatan bukan lagi sekadar topik teknologi, melainkan juga medan pertarungan ideologi. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran global tentang regulasi AI, yang juga menjadi perhatian di Indonesia melalui upaya pemerintah dalam menyusun etika kecerdasan buatan.
Dengan Neon sebagai distributor baru, "Artificial" diharapkan dapat menjangkau penonton yang lebih luas, terutama mereka yang mengikuti perkembangan industri AI. Namun, belum ada tanggal rilis resmi yang diumumkan. Pertanyaannya, apakah film ini akan mampu menyajikan kisah di balik salah satu momen paling dramatis di Silicon Valley tanpa menimbulkan kontroversi baru? Atau justru sebaliknya, semakin memicu perdebatan publik tentang peran teknologi dalam kehidupan manusia?



