Wall Street Terkoreksi, Eropa Terbelah: Sinyal Hawkish The Fed Guncang Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Indeks utama AS anjlok setelah The Fed mempertahankan suku bunga, namun tiga anggota FOMC menyatakan dukungan untuk kenaikan, mendorong imbal hasil Treasury 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007.
- Pasar Eropa terbelah: FTSE 100 menguat berkat sektor energi, sementara Euro Stoxx 50 tertekan oleh aksi jual saham mewah dan chip setelah laporan pendapatan Hermès mengecewakan.
- Asia ikut tertekan, kecuali Nikkei yang naik berkat laba korporasi kuat; bursa Indonesia berpotensi terimbas pelemahan komoditas dan ketidakpastian suku bunga global.

Wall Street mengalami tekanan jual signifikan pada Rabu (19/2) setelah The Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, namun tiga anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan suara berbeda yang mengindikasikan dukungan terhadap kebijakan yang lebih ketat. Keputusan ini memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak 2007, sekaligus memicu aksi jual besar-besaran di sektor teknologi dan semikonduktor.
Indeks S&P 500 tercatat ambles 1,52%, Nasdaq Composite merosot 1,74%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 2,19%. Saham-saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI) menjadi yang paling terpukul, seiring kekhawatiran investor bahwa suku bunga tinggi dalam waktu lama akan menekan valuasi sektor pertumbuhan. Menurut analis First National Bank (FNB), keputusan The Fed yang dianggap “hawkish hold” ini memicu rotasi keluar dari saham teknologi ke aset yang lebih aman.
Sementara itu, bursa Eropa menunjukkan pergerakan yang terbelah. FTSE 100 di London berhasil ditutup menguat 0,34% mendekati rekor tertinggi, ditopang oleh kenaikan saham Shell dan BP seiring penguatan harga minyak mentah Brent. Sebaliknya, Euro Stoxx 50 justru melemah 0,6% setelah saham Hermès anjlok 11% akibat laporan penjualan produk kulit yang mengecewakan. Sentimen negatif juga dipicu oleh laporan bahwa Presiden AS Donald Trump mengancam aksi militer terhadap Iran, meningkatkan ketegangan geopolitik.
Di Asia, mayoritas bursa dibuka melemah mengikuti tekanan dari Wall Street. Kospi Korea Selatan turun 0,87%, ASX 200 Australia melemah 0,82%, dan Hang Seng Hong Kong tergelincir tipis 0,03%. Saham Zhongji Innolight anjlok pada debutnya di Hong Kong, sementara saham semikonduktor China tertekan oleh kekhawatiran valuasi. Namun, Nikkei 225 Jepang berhasil membalikkan tren dengan naik 0,72% berkat laba kuat dari Advantest dan sejumlah perusahaan lain.
Di dalam negeri, bursa Afrika Selatan (JSE) justru ditutup menguat pada Rabu, dengan Indeks All-Share naik 0,49% ke 110.440 poin, didorong oleh sektor industri dan teknologi. Saham Naspers dan Prosus masing-masing melonjak 3,92% dan 2,61%, sementara Valterra Platinum melesat 9% setelah membagikan dividen interim di atas estimasi analis. Namun, sektor keuangan melemah tipis 0,11% karena aksi jual asing terhadap obligasi Afrika Selatan berlanjut.
Bagi Indonesia, dinamika pasar global ini memberikan sinyal waspada. Pelemahan harga komoditas seperti emas dan platinum pagi ini berpotensi menekan saham-saham tambang di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat memicu arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang selama ini bergantung pada aliran dana asing. Investor domestik perlu mencermati keputusan Bank Indonesia dalam merespons pergerakan The Fed, terutama terkait stabilitas nilai tukar rupiah.
Ke depan, pasar akan fokus pada data inflasi AS dan pidato pejabat The Fed untuk mengonfirmasi arah kebijakan moneter. Jika tekanan hawkish berlanjut, koreksi di pasar saham global berpotensi berlanjut, dan Indonesia harus siap menghadapi volatilitas jangka pendek. Pertanyaan kuncinya: akankah Bank Indonesia mempertahankan sikap akomodatif atau justru mengikuti langkah The Fed untuk menahan tekanan inflasi?



