Kaus Jimin BTS Laku Rp1,7 Miliar di Lelang Amal Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Kaus yang dikenakan Jimin BTS saat pertunjukan paruh waktu final Piala Dunia 2026 terjual seharga US$110.000, menjadi barang termahal dalam lelang amal Christie’s.
- Total dana terkumpul mencapai US$652.630 dari 24 negara, dengan sumbangan BTS sendiri mencapai 46% atau US$300.300 dari tujuh item yang dilelang.
- Seluruh hasil lelang disalurkan ke FIFA Global Citizen Education Fund untuk mendukung akses pendidikan anak-anak di seluruh dunia.

Kaus yang dikenakan Jimin, anggota grup K-pop BTS, saat pertunjukan paruh waktu final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, East Rutherford, terjual dengan harga fantastis US$110.000 atau sekitar Rp1,7 miliar dalam lelang amal yang digelar Christie’s. Angka tersebut menjadikannya barang dengan nilai tertinggi dalam ajang One Goal: An Auction to Benefit the FIFA Global Citizen Education Fund.
Lelang online yang berlangsung selama tujuh hari hingga 29 Juli 2026 itu berhasil mengumpulkan dana sebesar US$652.630 dari para penawar yang tersebar di 24 negara. Menariknya, kontribusi BTS mendominasi hampir setengah dari total tersebut. Tujuh item yang dikenakan anggota BTS selama pertunjukan mereka—termasuk kaus Jimin, syal V, jaket Jungkook, celana Suga, sarung tangan J-Hope, sepatu bot RM, dan ikat pinggang Jin—secara kolektif menghasilkan US$300.300 atau 46 persen dari seluruh dana yang terkumpul.
Christie’s sebelumnya memperkirakan harga masing-masing barang BTS hanya berkisar antara US$1.000 hingga US$5.000. Namun, antusiasme penggemar melampaui ekspektasi. Syal V dan jaket Jungkook masing-masing terjual US$46.200, celana Suga US$33.000, sarung tangan J-Hope US$28.600, sepatu bot RM US$19.800, dan ikat pinggang Jin US$16.500. Satu-satunya barang lain yang menyamai harga kaus Jimin adalah bola resmi pertandingan final Piala Dunia 2026 yang juga laku US$110.000.
Selain BTS, memorabilia dari selebritas lain juga menarik minat tinggi. Jersey Argentina yang ditandatangani Lionel Messi dan dihadiahkan kepada Shakira terjual US$66.000, sarung tangan tanpa jari Madonna dari pembuka pertunjukan paruh waktu laku US$41.800, dan sepatu kets Skylrk yang dikenakan Justin Bieber saat penampilan akustiknya mencapai US$26.400. Seluruh dana yang terkumpul akan disalurkan langsung ke FIFA Global Citizen Education Fund, sebuah program yang bertujuan meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak di berbagai negara.
Kesuksesan lelang ini kembali menegaskan daya tarik global BTS yang tak tertandingi, terutama di kalangan penggemar setia mereka, ARMY. Namun, di sisi lain, grup asal Korea Selatan ini baru saja membuat keputusan mengejutkan dengan memboikot ajang Grammy Awards tahun depan. Dalam pernyataan bersama yang diunggah di media sosial, ketujuh anggota BTS—RM, Jimin, V, Suga, Jungkook, Jin, dan J-Hope—menyatakan tidak akan mengirimkan lagu-lagu dari album terbaru mereka, ARIRANG, untuk dinominasikan. Mereka mengkritik kategori baru Asian Pop yang mewajibkan penggunaan “bahasa Asia secara bermakna”, dengan alasan musik seharusnya tidak dibatasi oleh wilayah atau bahasa.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat lagu Swim—yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris—sempat menjadi nomor satu di AS dan diprediksi kuat bersaing di kategori Song of the Year. Namun, karena tidak memenuhi syarat bahasa Asia, lagu tersebut otomatis tidak bisa masuk kategori Asian Pop. Menanggapi kontroversi ini, CEO Recording Academy Harvey Mason Jr. menyatakan rasa hormatnya terhadap keputusan BTS, namun menegaskan bahwa kategori baru tersebut dibuat untuk merayakan, bukan memisahkan, seniman Asia. “Saya sedih mendengar BTS memilih untuk tidak berpartisipasi, tapi sebagai kreator musik, saya memahami dan menghormati keputusan mereka,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Fenomena BTS—baik dalam lelang amal maupun kontroversi Grammy—menunjukkan bagaimana pengaruh mereka melampaui sekadar industri musik. Di Indonesia, basis penggemar BTS yang sangat besar turut mendorong tren konsumsi budaya Korea dan partisipasi dalam kegiatan amal global. Ke depan, apakah langkah BTS memboikot Grammy akan memicu perubahan dalam kebijakan penghargaan musik internasional? Atau justru memperkuat posisi mereka sebagai ikon yang tak gentar melawan batasan industri?



