Serangan Drone di Kapal LNG AS Mendongkrak Harga Minyak, AS Perluas Sanksi Iran
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah Brent dan WTI naik setelah serangan drone di kapal tanker LNG milik AS di Mesir memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
- AS mengancam respons keras dan menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, termasuk terhadap perusahaan pelayaran dan kapal tanker minyak.
- Kenaikan harga juga didorong oleh penurunan stok minyak AS yang lebih besar dari perkiraan serta keputusan The Fed menahan suku bunga.

Harga minyak mentah dunia kembali melonjak setelah serangan drone menghantam kapal tanker penyimpanan gas alam cair (LNG) milik Amerika Serikat di pelabuhan Damietta, Mesir. Insiden yang terjadi pada Rabu (28/7) itu memicu spekulasi bahwa konflik di Timur Tengah akan semakin meluas dan mengancam rantai pasok energi global.
Brent crude untuk pengiriman Oktober naik 0,9 persen menjadi 88,89 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,4 persen ke 84,69 dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberikan respons "sangat keras" terhadap serangan yang menimpa kapal berbendera AS tersebut.
Menurut firma keamanan maritim Inggris Ambrey, drone menghantam kapal penyimpanan terapung Energos Winter yang kemudian api merembet ke kapal lain, Gaslog Salem. Meski Kementerian Perminyakan Mesir mengonfirmasi adanya kebakaran di pelabuhan, mereka tidak menyebutkan serangan drone. Sementara itu, perusahaan jasa pelabuhan Inchcape melaporkan dua kapal tanker gas terbakar di lokasi yang sama.
Ketegangan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengancam akan menutup Selat Hormuz selama ancaman AS masih berlangsung. Selat tersebut merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia, dan setiap gangguan di sana berpotensi memicu lonjakan harga lebih lanjut. Di sisi lain, Komando Pusat AS (CENTCOM) meluncurkan "gelombang serangan intensif" terhadap target-target Iran sebagai balasan atas percobaan serangan rudal terhadap aset AS di kawasan.
Departemen Keuangan AS melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) pada Rabu mengumumkan sanksi baru yang menargetkan jaringan yang terkait dengan Iran. Sepuluh perusahaan dan tujuh kapal tanker minyak masuk dalam daftar hitam, termasuk Hormoz Safe Maritime Services dan Persian Gulf Maritime Insurance Company yang berbasis di Iran. Perusahaan-perusahaan tersebut terdaftar di Hong Kong, China, dan Kepulauan Marshall, sementara kapal tanker beroperasi di bawah berbagai bendera.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini menjadi sinyal waspada. Sebagai negara pengimpor minyak bersih, setiap kenaikan harga minyak dunia akan membebani anggaran subsidi energi dan berpotensi mendorong inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak lanjutan terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri, terutama jika ketegangan di Timur Tengah berlarut-larut. Selain itu, ancaman penutupan Selat Hormuz juga dapat mengganggu pasokan minyak mentah ke kilang-kilang domestik yang sebagian masih bergantung pada impor dari kawasan Teluk.
Sentimen positif juga datang dari keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, mengindikasikan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi AS. Ditambah laporan Energy Information Administration (EIA) yang menunjukkan penurunan stok minyak mentah AS sebesar 7,2 juta barelโjauh di atas ekspektasi pasarโsemakin memperkuat ekspektasi permintaan yang kuat.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada respons lebih lanjut dari AS dan Iran. Apakah serangan balasan akan memicu eskalasi yang lebih luas, atau justru membuka ruang negosiasi? Yang jelas, setiap perkembangan di kawasan akan langsung tercermin dalam pergerakan harga minyak, dan Indonesia harus siap menghadapi gejolak yang mungkin timbul.



