Tekanan Biaya dan Ketergantungan Apple Mendera Qualcomm, Saham Terkoreksi
Baca dalam 60 detik
- Qualcomm memperingatkan kenaikan biaya memori dan penurunan pendapatan dari Apple, menyebabkan sahamnya turun 5% dalam perdagangan pra-pasar.
- Lonjakan belanja infrastruktur AI memperketat rantai pasok semikonduktor, memaksa Qualcomm menaikkan harga pelanggan hingga dua digit.
- Prospek laba kuartal saat ini di bawah ekspektasi analis, sementara diversifikasi ke pusat data masih membutuhkan waktu untuk memberikan kontribusi signifikan.

Saham Qualcomm terperosok sekitar 5% dalam perdagangan pra-pasar pada Kamis (30/7) setelah raksasa semikonduktor itu memberikan sinyal suram: kenaikan biaya memori dan penurunan pendapatan dari Apple mengancam pertumbuhan laba jangka pendek. Peringatan ini memicu kekhawatiran investor bahwa margin keuntungan perusahaan akan terus tertekan di tengah perubahan lanskap rantai pasok global.
Lonjakan belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) telah memperketat rantai pasokan semikonduktor, mendorong kenaikan biaya memori, wafer, pengemasan, dan pengujian. Qualcomm berencana mengalihkan beban ini kepada pelanggan melalui kenaikan harga dua digit. Namun, analis Bernstein menilai langkah tersebut belum tentu efektif. "Kenaikan biaya dan pengeluaran yang lebih tinggi secara signifikan mempengaruhi margin, dan meskipun perusahaan mencoba menaikkan harga untuk mengompensasi, rencana ekspansi pusat data yang akan datang tampaknya akan lebih dari sekadar mengimbangi aksi harga itu," ujar mereka dalam catatan riset.
Qualcomm mengakui bahwa manfaat dari kenaikan harga baru akan terlihat secara bertahap dalam beberapa kuartal mendatang. Margin akan tetap tertekan dalam waktu dekat seiring berakhirnya kontrak lama dan dimulainya siklus produk baru. Untuk kuartal saat ini, perusahaan memproyeksikan laba per saham yang disesuaikan berada di kisaran $2,05 hingga $2,25, jauh di bawah estimasi rata-rata analis yang dihimpun LSEG sebesar $2,36.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Qualcomm mengungkapkan bahwa pangsa modemnya di iPhone generasi mendatang akan jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 20%. Ini menandakan bahwa bisnis Apple akan menyusut lebih cepat dari antisipasi. Ketergantungan pada Apple selama ini menjadi salah satu pilar pendapatan Qualcomm, dan pelemahan ini menimbulkan tanda tanya besar tentang strategi diversifikasi perusahaan.
Di sisi lain, Qualcomm tetap optimistis terhadap ekspansi AI dan pusat data. Perusahaan memperkirakan pertumbuhan pendapatan non-ponsel akan meningkat menjadi lebih dari 60% pada tahun fiskal 2027, naik dari 24% pada tahun fiskal 2026. Namun, analis TD Cowen mengingatkan bahwa cerita diversifikasi ini membutuhkan waktu untuk terwujud. "Program pusat data awal membawa margin yang lebih rendah," kata mereka.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak produsen perangkat elektronik dan operator telekomunikasi di tanah air yang menggunakan chip Qualcomm. Kenaikan harga komponen dapat berdampak pada harga ponsel pintar dan perangkat IoT di pasar domestik. Selain itu, jika Qualcomm semakin fokus ke pusat data, hal ini bisa membuka peluang bagi perusahaan teknologi Indonesia yang tengah mengembangkan infrastruktur cloud dan AI.
Dengan valuasi saham yang saat ini berada di 14,31 kali laba yang diharapkanโjauh di bawah Nvidia (17,49 kali) dan Intel (43,85 kali)โQualcomm tampak lebih murah, namun prospek jangka pendek yang suram membuat investor wait and see. Pertanyaan besarnya: mampukah Qualcomm menyeimbangkan tekanan biaya dan penurunan bisnis Apple dengan pertumbuhan AI yang menjanjikan, atau justru akan kehilangan pijakan di kedua sisi?



