Dolar AS Menguat di Tengah Suku Bunga Tetap The Fed dan Serangan Udara ke Iran
Baca dalam 60 detik
- Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan, sementara serangan udara AS di Iran mendorong permintaan aset safe haven yang mengangkat dolar.
- Imbal hasil obligasi AS 30 tahun menembus 5,2%, tertinggi dalam dua dekade, mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan moneter.
- Keputusan Bank of Japan pekan ini menjadi fokus berikutnya, dengan spekulasi kenaikan suku bunga lebih cepat yang bisa mempengaruhi yen dan pasar Asia.

Dolar Amerika Serikat berhasil bangkit kembali pada perdagangan Kamis setelah Federal Reserve memutuskan untuk menahan suku bunga acuan, sementara serangan udara yang dilancarkan AS di Iran memicu perburuan aset aman di kalangan investor. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama naik tipis 0,1 persen ke level 100,93, setelah sempat jatuh ke titik terendah dalam sepekan pasca pengumuman The Fed.
Keputusan The Fed untuk tidak mengubah suku bunga di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi disambut beragam oleh pasar. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers menyebut perlunya "periode pemikiran waspada," yang ditafsirkan oleh analis UBS sebagai sikap dovish. Namun, ketidakjelasan mengenai arah kebijakan ke depan justru memicu volatilitas di pasar obligasi, dengan imbal hasil obligasi 30 tahun melonjak di atas 5,2 persenโlevel tertinggi dalam hampir dua dekade.
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah setelah AS melancarkan serangan udara ke Iran memberikan dorongan tambahan bagi dolar. Mata uang safe haven seperti yen Jepang justru sedikit melemah ke kisaran 163,5 per dolar, sementara euro turun 0,1 persen ke $1,1458. Poundsterling bertahan di $1,337 menjelang keputusan suku bunga Bank of England yang diperkirakan tidak berubah.
Para pelaku pasar kini menanti data indeks harga belanja konsumen pribadi (PCE) yang akan dirilis Jumat. Ekonom memperkirakan inflasi tahunan Juni turun menjadi 3,7 persen dari 4,1 persen pada Mei, seiring moderasi harga energi selama gencatan senjata singkat antara Iran dan AS. Namun, jika data menunjukkan tekanan harga masih tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali menguat.
Dari sisi domestik, implikasi penguatan dolar terhadap Indonesia patut dicermati. Rupiah yang sempat tertekan dalam beberapa pekan terakhir berpotensi kembali menghadapi tekanan jika dolar terus menguat. Kenaikan imbal hasil obligasi AS juga bisa memicu arus modal keluar dari pasar keuangan Indonesia, mengingat investor cenderung beralih ke aset berdenominasi dolar yang lebih menarik. Bank Indonesia perlu waspada terhadap pergerakan nilai tukar dan kesiapan intervensi untuk menjaga stabilitas.
Sementara itu, perhatian pasar pekan depan akan beralih ke keputusan Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan Jumat. Meski suku bunga diperkirakan tetap di 1 persen, laporan terbaru mengindikasikan para pembuat kebijakan mempertimbangkan percepatan kenaikan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang dipicu konflik Teluk. Jika BOJ memberikan sinyal hawkish, yen bisa menguat dan memicu gejolak di pasar Asia, termasuk Indonesia.
Di pasar kripto, bitcoin naik 1,5 persen ke $64.412, sementara ether menguat 1,8 persen ke $1.917, menunjukkan minat investor terhadap aset digital tetap tinggi di tengah ketidakpastian makroekonomi. Pertanyaannya, akankah The Fed benar-benar mempertahankan sikap wait-and-see hingga akhir tahun, atau tekanan inflasi yang persistensi akan memaksa mereka bertindak lebih agresif?



