Likuiditas Perbankan Nigeria Terkoreksi 38% Akibat OMO, Suku Bunga Pasar Uang Bervariasi
Baca dalam 60 detik
- Penarikan likuiditas melalui lelang OMO menyebabkan saldo kas perbankan Nigeria turun drastis dari N6,52 triliun menjadi N4,04 triliun.
- Meskipun likuiditas menyusut, suku bunga Overnight Rate justru turun tipis 6 bps ke 22,13%, menunjukkan distribusi dana yang merata di antara bank.
- Imbal hasil Treasury Bills naik 2 bps ke 18,01% karena permintaan investor melemah, mengindikasikan sentimen bearish di pasar surat utang.

Pasar uang Nigeria mencatat pergerakan suku bunga yang beragam pada Rabu (12/6) setelah likuiditas sistem keuangan menyusut hingga 38 persen dalam sehari akibat penyelesaian lelang surat berharga Bank Sentral Nigeria (CBN) melalui mekanisme Open Market Operation (OMO). Penurunan tajam ini menjadi sinyal bahwa bank sentral terus mengencangkan kebijakan moneter untuk menekan inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar naira.
Data dari AIICO Capital Limited menunjukkan saldo likuiditas sistem keuangan anjlok dari N6,52 triliun menjadi N4,04 triliun. Analis pasar mengaitkan penurunan ini dengan dua faktor utama: penyelesaian lelang OMO yang mencapai N3,47 triliun dan penurunan penempatan Standing Deposit Facility (SDF) sebesar N640,64 miliar. Total arus keluar dana tercatat N2,48 triliun, setelah memperhitungkan pembayaran kupon obligasi senilai N211,62 miliar, menurut laporan Herwood Capital Limited.
Meskipun likuiditas menipis, suku bunga jangka pendek justru menunjukkan sinyal yang kontras. Overnight Rate (OVN) turun 6 basis poin menjadi 22,13%, sementara Nigerian Overnight Foreign Rate (NOFR) dan Open Repo Rate (OPR) bertahan di level 22,00%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun total uang beredar di sistem berkurang, distribusi dana antar bank masih merata sehingga tidak memicu lonjakan biaya pinjaman harian. Namun, Cowry Asset Limited mencatat bahwa Nigerian Interbank Offered Rates (NIBOR) untuk tenor semalam justru naik 9 bps ke 22,30%, menandakan adanya tekanan di segmen antarbank tertentu.
Di pasar surat utang primer, imbal hasil rata-rata Treasury Bills (T-bills) naik 2 bps menjadi 18,01%, mencerminkan melemahnya permintaan investor. Kenaikan imbal hasil ini menandai sentimen bearish di pasar pendapatan tetap, di mana investor cenderung meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang surat utang pemerintah. Meski demikian, analis memperkirakan suku bunga akan bertahan di level saat ini dalam waktu dekat, didukung oleh likuiditas yang masih cukup, kecuali CBN kembali menggelar lelang OMO yang dapat mengubah dinamika pasar.
Bagi pelaku pasar Indonesia, perkembangan di Nigeria ini relevan sebagai studi kasus dampak kebijakan moneter agresif terhadap likuiditas perbankan dan suku bunga. Bank Indonesia juga kerap menggunakan instrumen serupa, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan operasi pasar terbuka, untuk menyerap kelebihan likuiditas dan menstabilkan rupiah. Jika CBN terus mengandalkan OMO untuk mengerem inflasi, tekanan likuiditas dapat berlanjut dan mempengaruhi yield obligasi, mirip dengan yang terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia saat BI menaikkan suku bunga acuan.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada langkah CBN selanjutnya. Apakah bank sentral akan kembali melelang OMO dalam waktu dekat atau memilih instrumen lain untuk mengelola likuiditas? Keputusan ini akan menentukan arah suku bunga jangka pendek dan imbal hasil surat utang, yang pada akhirnya berdampak pada biaya pendanaan perbankan dan daya tarik investasi portofolio asing di Nigeria.



