Paul McCartney Raih Nominasi Perdana Mercury Prize di Usia 84: Album The Boys of Dungeon Lane Masuk Daftar Pendek
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan China di Afrika Selatan beralih dari proyek konstruksi besar ke investasi jangka panjang di sektor manufaktur dan energi terbarukan.
- Pembangkit listrik tenaga surya Redstone dan pabrik perakitan SANY menjadi contoh nyata transisi ini, menciptakan ribuan lapangan kerja lokal.
- Pergeseran ini didorong oleh perlambatan ekonomi domestik China dan meningkatnya permintaan akan solusi energi serta peralatan pertambangan di Afrika.

Sir Paul McCartney akhirnya mencatatkan namanya dalam daftar nominasi Mercury Prize untuk pertama kalinya sepanjang kariernya. Album solo terbarunya, The Boys of Dungeon Lane, masuk dalam 12 Album of the Year yang diumumkan Kamis (30/7/2026) melalui BBC Radio 6 Music.
Di usia 84 tahun, McCartney menjadi salah satu nama yang paling menarik perhatian dalam pengumuman yang dibawakan oleh presenter Jamz Supernova. Nominasi ini menjadi semacam pengakuan atas konsistensi sang mantan personel The Beatles dalam berkarya, terutama setelah album tersebut dipuji karena produksi inventif dan penulisan lagu yang reflektif.
Daftar pendek tahun ini memadukan ikon lama dan wajah baru. Selain McCartney, terdapat Dave dengan The Boy Who Played the Harp, Florence + The Machine (Everybody Scream), RAYE (THIS MUSIC MAY CONTAIN HOPE.), Olivia Dean (The Art of Loving), Nia Archives (Emotional Junglist), dan Suede (Antidepressants). Pelengkap daftar adalah Dove Ellis, JADE, Knats, Kojey Radical, serta proyek kolaboratif War Child Records bertajuk HELP(2).
Bagi pengamat musik, masuknya McCartney ke dalam jajaran nominasi Mercury Prize menandai pelebaran cakrawala ajang yang kerap identik dengan musik alternatif dan independen. Beberapa tahun terakhir, panitia memang menunjukkan kecenderungan untuk merangkul nama-nama besar yang selama ini luput dari perhatian penghargaan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga relevansi Mercury Prize di tengap dinamika industri musik global.
Bagi Indonesia, penghargaan semacam Mercury Prize boleh jadi tidak setenar Grammy atau Brit Awards, namun popularitasnya di kalangan pecinta musik independen terus meningkat. Beberapa musisi Indonesia yang bergerak di jalur alternatif kerap menjadikan nominasi Mercury sebagai tolok ukur kualitas lirik dan eksperimentasi musik. Kehadiran McCartney di daftar pendek bisa memperkuat daya tarik ajang ini di mata penggemar musik Tanah Air yang haus akan inovasi.
Acara puncak akan digelar di Newcastle's Utilita Arena pada 22 Oktober, dengan sejumlah artis nomine dijadwalkan tampil sebelum pemenang diumumkan. Tiket sudah tersedia melalui AXS, sementara BBC Music akan menyiarkan liputan di berbagai platformnya. Setelah sukses edisi tahun lalu yang dimenangkan oleh Sam Fender, ajang ini kembali dipercaya sebagai barometer kreativitas musik Inggris.
Pertanyaan besarnya, mampukah sang legenda mengalahkan generasi baru yang tengah naik daun? Atau justru kehadiran McCartney akan menjadi katalis bagi Mercury Prize untuk terus merayakan keberagaman lintas generasi? Semua akan terjawab pada malam Oktober nanti.



