Jembatan Pongpet Pangandaran Dibangun Ulang, Buka Isolasi Warga Cijulang
Baca dalam 60 detik
- Jembatan gantung Pongpet di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang nyaris ambruk kini direnovasi oleh TNI.
- Infrastruktur berusia 32 tahun itu menjadi urat nadi penghubung dua dusun yang sebelumnya terisolasi.
- Pemulihan akses diyakini menggerakkan kembali roda ekonomi dan mobilitas pendidikan warga desa.

Jembatan Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang sebelumnya dalam kondisi nyaris ambruk, kini dibangun kembali oleh TNI. Jembatan gantung sepanjang 64 meter tersebut merupakan satu-satunya penghubung antara Dusun Cidawung dan Dusun Margajaya. Kondisi kritis infrastruktur itu sempat memutus mobilitas warga dan memicu kekhawatiran akan terisolirnya wilayah tersebut.
Jembatan yang dibangun pada 1992 itu telah melayani warga selama lebih dari tiga dekade. Namun, usia yang panjang tanpa perawatan memadai membuat strukturnya rentan. Warga terpaksa melintas dengan risiko tinggi, terutama saat musim hujan atau debit air sungai meningkat. Renovasi yang dilakukan TNI menjadi angin segar bagi penduduk yang selama ini bergantung pada akses tersebut untuk aktivitas sehari-hari.
Pembangunan kembali jembatan ini bukan sekadar proyek infrastruktur fisik. Bagi warga, jembatan adalah urat nadi yang menentukan kelangsungan ekonomi dan pendidikan. Selama jembatan dalam kondisi kritis, petani kesulitan mengangkut hasil bumi ke pasar, sementara anak-anak harus menempuh rute memutar yang lebih jauh dan berbahaya untuk mencapai sekolah. Kini, dengan akses yang kembali normal, roda perekonomian desa diharapkan berputar lebih cepat.
"Jembatan ini sangat penting bagi kami. Kalau rusak, kami seperti terputus dari dunia luar. Sekarang bisa bernapas lega," ujar seorang warga setempat.
Langkah TNI dalam merehabilitasi jembatan ini mencerminkan peran serta institusi militer dalam pembangunan infrastruktur perdesaan, terutama di daerah yang mungkin belum tersentuh program pemerintah daerah secara optimal. Pendekatan ini sering disebut sebagai operasi militer selain perang (OMSP), yang fokus pada pemberdayaan masyarakat dan percepatan pembangunan di wilayah terpencil.
Meski demikian, keberlanjutan pemeliharaan jembatan menjadi tantangan tersendiri. Tanpa sistem perawatan rutin dan anggaran yang memadai, jembatan serupa berisiko kembali rusak dalam beberapa tahun ke depan. Pemerintah Kabupaten Pangandaran perlu memastikan bahwa infrastruktur vital seperti ini masuk dalam prioritas anggaran daerah, bukan hanya mengandalkan bantuan dari pusat atau TNI.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya para pelaku usaha dan investor, perbaikan akses di daerah seperti Pangandaran membuka peluang ekonomi baru. Konektivitas yang membaik dapat mendorong arus barang, jasa, dan wisatawan ke wilayah selatan Jawa Barat. Sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata berpotensi tumbuh seiring dengan lancarnya distribusi. Namun, tanpa dukungan kebijakan yang konsisten, potensi ini bisa saja tidak terealisasi optimal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pembangunan kembali Jembatan Pongpet akan diikuti dengan strategi pemeliharaan jangka panjang dan integrasi ke dalam rencana pembangunan daerah. Jika tidak, sejarah kerusakan yang sama bisa terulang, dan warga kembali menghadapi risiko terisolasi. Pemerintah daerah dan pusat perlu duduk bersama untuk memastikan infrastruktur kritis di daerah terpencil tidak lagi menjadi proyek reaktif, melainkan bagian dari perencanaan pembangunan yang berkelanjutan.



