Zack Snyder Bongkar Proses 20 Tahun 'The Last Photograph' dan Kontroversi Kekerasan
Baca dalam 60 detik
- The Last Photograph akhirnya rampung setelah dua dekade tertunda, disyuting hanya 32 hari di sela jadwal Snyder.
- Snyder membela diri atas kritik kekerasan terhadap perempuan, menyebut kekerasan di filmnya setara dan tanpa pandang bulu.
- Film ini tayang perdana di TIFF, menandai babak baru karier Snyder di luar jagat superhero.

Setelah hampir dua dekade tertunda, Zack Snyder akhirnya merilis The Last Photograph, sebuah thriller perang yang tayang perdana di Toronto International Film Festival (TIFF). Proyek ini sempat terhenti berkali-kali karena kesibukan Snyder menggarap film-film besar seperti 300, Man of Steel, dan Batman v Superman: Dawn of Justice. Kini, penonton dapat menyaksikannya, meski proses kreatifnya penuh liku.
Dalam wawancara dengan Variety, Snyder mengungkap bahwa penundaan justru disebabkan oleh proyek-proyek lain yang ia kerjakan. "Ini sudah seperti dua dekade. Bukan karena kami tidak melakukan apa-apa, tapi justru hal-hal yang kami kerjakan lebih banyak menghambat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ide film ini sudah ada bahkan sebelum 300 digarap. Kesempatan baru muncul ketika ada celah dalam jadwal, dan Snyder harus memilih antara menggarap Illusions (adaptasi novel Richard Bach) atau The Last Photograph. Pilihannya jatuh pada yang terakhir, dengan waktu produksi sangat sempit.
Proses syuting The Last Photograph hanya memakan 32 hari. Snyder memuji timnya yang mampu bekerja cepat dengan anggaran terbatas. "Yang paling saya kreditkan adalah tim dan kemampuan kami sendiri untuk menyelesaikan ini dengan cepat tanpa banyak biaya," katanya. Film ini mengisahkan seorang mantan agen DEA yang mencari keponakannya yang hilang di pegunungan Amerika Selatan.
Meski serius, Snyder mengaku tidak bisa lepas dari gaya melodramatis yang ia sebut sebagai "kitsch versi seni tertinggi". "Saya selalu sadar bahwa ini hanya film tentang sesuatu. Saya tidak pernah tidak berpikir bahwa penonton sedang menonton dua aktor berbicara tentang hal yang tidak pernah terjadi," ujarnya. Ia menegaskan bahwa meski filmnya gelap, ia tetap menyuntikkan kesadaran diri sebagai pembuat film.
Film ini menuai kritik karena menampilkan kekerasan brutal terhadap perempuan. Menanggapi hal itu, Snyder berargumen bahwa kekerasan dalam filmnya setara antara pria dan wanita. "Kekerasan terhadap perempuan dan pria sama saja, tidak ada yang dihindarkanโpria, wanita, anak-anak, semua," tegasnya. Ia menganalogikan keadilan dalam film seperti badai yang menghantam tanpa pandang bulu. "Moralitas tidak bisa dipaksakan; maknanya adalah kekerasan tidak menyelesaikan apa pun," tambahnya.
"Saya selalu sadar bahwa ini hanya film tentang sesuatu. Saya tidak pernah tidak berpikir bahwa penonton sedang menonton dua aktor berbicara tentang hal yang tidak pernah terjadi." โ Zack Snyder
Bagi industri film Indonesia, pendekatan Snyder yang berani dan kontroversial bisa menjadi cermin. Di tengah pasar yang didominasi genre horor dan komedi romantis, film-film dengan visi kuat seperti The Last Photograph menunjukkan bahwa konsistensi gaya dan keberanian mengambil risiko tetap memiliki tempat. Namun, sensitivitas budaya dan regulasi sensor di Indonesia perlu diperhitungkan. Film dengan kekerasan eksplisit sering kali harus melewati pemangkasan ketat dari Lembaga Sensor Film (LSF) sebelum tayang di bioskop.
Ke depan, apakah The Last Photograph akan menemukan penontonnya di Indonesia? Dengan rating dewasa dan tema berat, film ini mungkin hanya menjangkau segmen terbatas. Namun, bagi sinefil dan penggemar Snyder, karya ini menawarkan perspektif berbeda dari biasanya. Apakah kritik kekerasan akan meredam antusiasme, atau justru sebaliknya? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: Snyder telah membuktikan bahwa visinya tak pernah setengah hati.



