Romeo Bongiovi Menolak Jadi Selebriti: 'Fokus Lokal Lebih Penting daripada Ketenaran Global'
Baca dalam 60 detik
- Putra Jon Bon Jovi, Romeo Bongiovi, mengaku tidak tertarik pada ketenaran dan memilih fokus membangun basis penggemar lokal.
- Ia menilai obsesi pada ketenaran global dapat mengaburkan visi artistik dan merusak koneksi personal dengan penggemar.
- Sikap ini muncul di tengah perdebatan 'nepo baby' yang kerap dialamatkan pada anak selebriti, meski sang ayah membantah label tersebut.

Romeo Bongiovi, putra legenda musik Jon Bon Jovi, secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya pada gagasan ketenaran dan status selebriti. Dalam wawancara terbarunya, pria 22 tahun yang membentuk band rock Lawn bersama Daniel Coppola dan Cliff Dobson pada 2024 ini justru memilih untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan penggemar di tingkat lokal, sebuah langkah yang jarang diambil musisi muda di era media sosial.
Menurut Romeo, obsesi terhadap ketenaran global sering kali menjadi bumerang bagi para musisi pemula. Ia mencontohkan beberapa rekannya yang sedang naik daun namun tetap memilih untuk menjaga skala kecil, sehingga mereka mengenal setiap penggemar secara personal. "Jika kamu terlalu fokus pada dominasi dunia, pada akhirnya kamu bisa kehilangan visi," ujarnya dalam episode terbaru The Dory Jackson Interview. Baginya, interaksi langsung dengan penggemar adalah fondasi yang lebih berharga daripada sekadar jumlah pengikut di platform digital.
Pengalaman Romeo di Miami menjadi bukti nyata pendekatannya. Meski jumlah penggemarnya di sana tidak terlalu besar, ia mengaku mengenal hampir semuanya. "Mereka adalah teman atau kemudian menjadi teman," katanya. Kini, setelah pindah ke Los Angeles, ia mengaku sedang mempersiapkan diri untuk bertemu orang-orang baru, sambil tetap memegang prinsip bahwa koneksi personal adalah kunci. Sikap ini menarik perhatian karena datang dari seseorang yang tumbuh di bawah bayang-bayang ketenaran ayahnya, Jon Bon Jovi, yang telah menjual jutaan album di seluruh dunia.
Komentar Romeo ini juga memantik diskusi tentang fenomena "nepo baby" yang kerap menghantui anak-anak selebriti. November lalu, Jon Bon Jovi dengan tegas membantah anggapan bahwa putranya hanya mengandalkan nama besar keluarga. Dalam wawancara dengan The Independent, pelantun "Livin' on a Prayer" itu memuji single pertama Lawn dan menegaskan bahwa Romeo memiliki visi sendiri yang ia hargai. "Orang-orang bicara soal nepo babies, bla bla bla, tapi aku tidak terlibat sama sekali. Dia punya visi sendiri," kata Jon.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di industri musik global, tetapi juga relevan di Indonesia. Banyak anak musisi atau artis Tanah Air yang kerap mendapat sorotan serupa, seperti putra-putri penyanyi legendaris yang mencoba membangun karier di industri hiburan. Di tengah gempuran platform digital yang menawarkan ketenaran instan, pilihan Romeo untuk tetap rendah hati dan fokus pada kualitas musik bisa menjadi pelajaran berharga. Ia membuktikan bahwa kesuksesan jangka panjang tidak selalu harus dimulai dari sorotan media, melainkan dari hubungan autentik dengan pendengar.
Namun, pertanyaannya kemudian: apakah pendekatan "lokal" ini akan bertahan ketika tekanan industri mulai meningkat? Di era di mana streaming dan media sosial mendorong musisi untuk terus eksis secara global, Romeo justru memilih jalur yang lebih organik. Apakah ini strategi yang cerdas atau sekadar idealisme anak muda? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: ia telah menetapkan standar baru dalam cara memandang ketenaran di tengah hiruk-pikuk industri musik modern.



