Thitikul Puncaki Peringkat Pertama AIG Women's Open, Rebut 7 Birdie Tanpa Bogey
Baca dalam 60 detik
- Presco Plc mengumumkan dividen interim N10 per saham meski laba bersih turun 7,3% secara tahunan.
- Kinerja tertekan oleh pendapatan yang stagnan, biaya operasional membengkak, dan tarif pajak efektif yang lebih tinggi.
- Penurunan laba per saham mencapai 20,5% akibat peningkatan jumlah saham beredar, mengindikasikan tantangan profitabilitas jangka pendek.

Pebalap Thailand, Jeeno Thitikul, mengawali AIG Women's Open dengan performa gemilang. Ia memimpin klasemen setelah putaran pertama di Royal Lytham & St Anne's dengan skor tujuh-under 64, tanpa satu pun bogey. Hasil ini menjadi modal berharga bagi Thitikul yang belum pernah meraih gelar mayor sepanjang kariernya.
Thitikul, yang kini berusia 23 tahun, telah mengoleksi 11 finis sepuluh besar di turnamen mayor namun belum sekalipun menjadi juara. Dalam putaran pertama, ia mencatat tujuh birdie, termasuk tiga birdie beruntun di sembilan hole depan. ''Memenangkan satu [mayor] tidak berarti saya akan memiliki karier yang benar-benar sukses,'' ujar Thitikul. ''Saya lebih memilih menjadi pemain yang konsisten daripada menang sekali lalu menghilang.''
Di posisi kedua bersama, terdapat dua nama: Haeran Ryu dari Korea Selatan dan Shiho Kuwaki dari Jepang, sama-sama dengan skor lima-under. Ryu, yang baru memenangkan Kejuaraan Evian dua pekan lalu, sedang memburu sejarah sebagai wanita kelima yang meraih tiga gelar mayor dalam satu tahun kalender. Sementara Kuwaki tampil solid dengan pukulan akurat.
Dari kubu tuan rumah, Lottie Woad dan Charley Hull sama-sama mencatat dua-under. Woad, yang baru berusia 22 tahun, menyelesaikan putaran tanpa bogey dan merasa percaya diri. ''Permulaan yang bagus. Tidak ada bogey, itu selalu menjadi putaran yang baik di sini. Saya banyak memukul fairway dan green,'' katanya. Hull, yang sudah lima kali menjadi runner-up di turnamen mayor, mengaku grogi di tee pertama namun mampu menyelamatkan par dari bunker di hole 18. ''Saya melewatkan beberapa putt yang seharusnya masuk, tapi saya merasa tetap bertahan dengan baik mengingat betapa gugupnya saya,'' tuturnya.
Nasib buruk justru dialami Nelly Korda, pebalap nomor satu dunia. Ia mencatat dua-over 73 dengan empat bogey. Korda, yang memenangkan dua gelar mayor awal tahun ini dan berpeluang meraih Grand Slam karier, harus berjuang untuk lolos cut hari Jumat. Tahun lalu, ia finis di posisi kedua di turnamen ini. Sementara juara bertahan Miyu Yamashita hanya mampu satu-over, dan Lydia Ko berada di posisi even par.
Konteks Indonesia: Meski tidak ada wakil Indonesia di turnamen ini, AIG Women's Open tetap menjadi sorotan bagi penggemar golf Tanah Air. Golf semakin populer di Indonesia, dengan banyak pemain amatir yang mengikuti perkembangan turnamen major. Prestasi Thitikul, pebalap Asia Tenggara, bisa menjadi inspirasi bagi atlet golf Indonesia yang bercita-cita menembus level dunia.
Satu cerita menarik datang dari Georgia Hall, pebalap Inggris yang menjadi juara mayor wanita terakhir dari Britania Raya (2018). Setelah melahirkan lima bulan lalu, ia kembali bertanding namun mengalami kesulitan di putaran pertama dengan skor lima-over. Meski begitu, kehadirannya disambut hangat oleh publik Royal Lytham.
Ke depan, persaingan di akhir pekan diprediksi semakin ketat. Thitikul harus menjaga konsistensi jika ingin mengakhiri puasa gelar mayor, sementara Ryu terus membayangi. Pertanyaan besarnya: akankah Nelly Korda mampu bangkit dan memperpanjang peluangnya mencatat sejarah Grand Slam? Atau justru pebalap Asia yang akan mendominasi papan atas?



