Konsorsium Prancis dan Park Square Capital Kuasai Hak Komersial WRC, FIA Sebut 'Kesepakatan Abad Ini'
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium Cosmobilis dan Park Square Capital resmi mengambil alih hak komersial WRC dan ERC dari Red Bull dan KW25, dengan Eric Boullier sebagai CEO baru.
- Presiden FIA menyebut investasi ini sebagai 'kesepakatan abad ini' dan menandai era baru investasi besar untuk reli, dengan fokus pada keberlanjutan dan teknologi.
- Kesepakatan ini diprediksi bernilai di bawah 500 juta euro dan diharapkan mendorong pertumbuhan global WRC, termasuk potensi pasar Asia dan Indonesia.

Konsorsium yang dipimpin grup otomotif Prancis Cosmobilis dan perusahaan investasi kredit swasta Park Square Capital resmi mengakuisisi hak komersial Kejuaraan Reli Dunia (WRC) dan Kejuaraan Reli Eropa (ERC). Langkah ini langsung disambut Federasi Otomotif Internasional (FIA) sebagai tonggak bersejarah yang akan membawa investasi belum pernah terjadi sebelumnya ke dunia reli.
Kesepakatan jangka panjang ini mencakup pengambilalihan penuh WRC Promoter GmbH yang berbasis di Munich, Jerman. Sebelumnya, hak komersial dipegang oleh Red Bull dan perusahaan investasi Jerman KW25. Dengan transisi ini, Eric Boullier, mantan bos tim Formula Satu Lotus dan direktur balap McLaren, ditunjuk sebagai chief executive WRC Promoter.
Presiden FIA Mohammed Ben Sulayem menyebut kesepakatan ini sebagai "kesepakatan abad ini" untuk reli. "Investasi ini menandakan keyakinan pada masa depan olahraga kami karena popularitas globalnya terus tumbuh," ujarnya dalam pernyataan resmi. Meski nilai transaksi tidak diungkapkan, FIA menegaskan ini adalah kesepakatan terbesar dalam sejarah kedua kejuaraan tersebut dan menjadi momen penting bagi WRC.
Park Square Capital, yang mengelola aset lebih dari US$22 miliar, akan menyuntikkan modal dan dukungan strategis. Sumber internal menyebutkan nilai pembelian WRC Promoter diperkirakan di bawah 500 juta euro atau sekitar Rp8,5 triliun. Boullier menegaskan targetnya jelas: menjadikan WRC dan ERC sebagai merek global kelas dunia yang selaras dengan tantangan teknologi dan lingkungan saat ini.
Bagi Indonesia, kabar ini membuka peluang besar. Dengan hadirnya investor baru yang agresif, WRC berpotensi memperluas pasar ke Asia Tenggara. Indonesia, yang memiliki sejarah panjang dalam ajang reli Asia Pasifik, bisa menjadi kandidat kuat untuk menjadi tuan rumah salah satu seri WRC di masa depan. Apalagi, regulasi teknis generasi baru dijadwalkan mulai berlaku pada 2027, yang bisa menarik lebih banyak pabrikan dan sponsor dari kawasan ini.
Para analis menilai langkah ini sebagai sinyal positif bagi olahraga otomotif global. Kombinasi antara pengalaman Boullier di Formula Satu dan kekuatan finansial Park Square Capital diyakini mampu membawa WRC ke level komersial yang lebih tinggi. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menarik generasi muda yang lebih tertarik pada balapan listrik dan e-sports.
Dengan perubahan kepemilikan ini, pertanyaan besarnya adalah: akankah WRC mampu bersaing dengan popularitas Formula Satu yang terus meroket? Atau justru reli akan menemukan ceruknya sendiri dengan pendekatan yang lebih dekat ke alam dan tantangan teknis? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal pasti: reli dunia memasuki babak baru yang penuh ambisi.



