Aonishiki Incar Promosi Yokozuna di Tengah Cedera: Mimpi Eropa di Dojo Sumo
Baca dalam 60 detik
- Pegulat asal Ukraina berusia 22 tahun itu bertekad merebut gelar juara turnamen musim gugur untuk mengunci promosi bersejarah sebagai yokozuna pertama kelahiran Eropa.
- Cedera pergelangan kaki kiri dan jempol kaki yang mengganggu persiapannya tidak menyurutkan ambisinya, meski ia sempat absen dalam latihan bersama para elite.
- Jika sukses di Tokyo, Aonishiki akan mencatatkan namanya dalam sejarah sumo, sekaligus membuka peluang bagi pegulat non-Jepang lainnya untuk menembus puncak karier.

Ozeki Aonishiki, bintang sumo asal Ukraina, memastikan bahwa rasa sakit akibat cedera yang membayangi persiapannya tidak akan menghalangi ambisinya untuk meraih promosi ke pangkat tertinggi yokozuna pada Turnamen Grand Sumo Musim Gugur yang dimulai Minggu di Ryogoku Kokugikan, Tokyo. Di usianya yang baru 22 tahun, ia membawa misi besar: menjadi yokozuna pertama yang lahir di Eropa, sebuah pencapaian yang akan mengubah lanskap olahraga tradisional Jepang ini.
Perjalanan Aonishiki sepanjang 2026 bagaikan roller coaster. Pada Januari, ia dinobatkan sebagai juara setelah baru saja dipromosikan ke pangkat ozeki. Namun, dua kekalahan beruntun akibat cedera membuatnya terdegradasi ke sekwake. Tak mau larut dalam keterpurukan, ia bangkit dengan memenangkan Piala Kaisar ketiganya di turnamen Nagoya melalui playoff tiga arah yang dramatis, sekaligus mengembalikan status ozeki-nya. Kemenangan itu, meski manis, menuntut pengorbanan fisik yang tidak sedikit.
Masalah pada pergelangan kaki kiri dan jempol kaki kirinya membuatnya tidak bisa mengikuti latihan bersama para yokozuna dan ozeki lainnya dalam sesi pelatihan Dewan Pertimbangan Yokozuna pekan lalu. Namun, Aonishiki menegaskan bahwa kondisinya tidak akan memengaruhi mental bertandingnya. “Saya tidak punya perasaan khusus tentang itu,” ujarnya. “Keinginan saya untuk mencapai yang lebih tinggi tidak berubah.” Setelah kembali berlatih dengan pegulat divisi bawah pada Selasa, ia mengaku optimistis, mengingat pengalaman serupa di turnamen sebelumnya.
Kepala istal Ajigawa, mantan sekwake Aminishiki, sempat mengungkapkan bahwa Aonishiki “tidak dalam kondisi untuk bertanding” setelah cedera jempol kaki yang dideritanya pada hari kedelapan turnamen Nagoya. Meski demikian, Aonishiki bangga mampu bertarung hingga akhir dan merebut gelar. “Saya bisa menunjukkan bahwa ini bukan hanya tentang momentum,” katanya, merujuk pada kemampuannya mengatasi rasa sakit untuk tetap tampil di puncak.
Bagi penggemar sumo di Indonesia, kisah Aonishiki mungkin terasa jauh, namun memiliki resonansi yang kuat. Di tengah dominasi pegulat Mongolia di panggung sumo, kesuksesan Aonishiki membuktikan bahwa atlet dari luar Jepang dan Asia bisa bersaing di level tertinggi. Hal ini mengingatkan pada perjuangan atlet Indonesia di kancah olahraga global, di mana dedikasi dan ketahanan mental sering menjadi pembeda. Jika Aonishiki berhasil, ia akan menjadi inspirasi bagi banyak atlet muda di Asia Tenggara yang bermimpi menembus batas-batas tradisi dan geografis.
Kemenangan di turnamen musim gugur ini akan menjadi babak baru yang luar biasa dalam karier sumo yang baru berjalan tiga tahun. Ia akan menjadi yokozuna pertama kelahiran Eropa, sebuah pencapaian yang sebelumnya dianggap mustahil. “Terkadang orang bilang ini masih terlalu dini, tapi saya tidak peduli sama sekali,” kata Aonishiki. “Ketika saya bisa berkembang, saya akan melakukannya.”
Dengan segala keterbatasan fisik yang ada, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Aonishiki mampu, melainkan seberapa cepat ia bisa mengukir sejarah. Jika ia berhasil melewati rintangan ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat lebih banyak wajah asing yang mendominasi dohyo, sekaligus membuka era baru sumo yang lebih inklusif. Namun, satu hal yang pasti: perjalanan Aonishiki masih panjang, dan setiap langkahnya akan diawasi oleh jutaan pasang mata, termasuk dari para penggemar olahraga di Indonesia yang haus akan kisah inspiratif.



