Laga Bersejarah Como di Liga Champions: Kursi Direksi Diberikan untuk Suporter Senior
Baca dalam 60 detik
- Manajemen Como 1907 mengorbankan hak tiket pribadi mereka demi mengakomodasi penggemar tertua di partai debut Liga Champions melawan RB Leipzig.
- Kebijakan ini muncul setelah kapasitas stadion berkurang 1.000 kursi akibat aturan UEFA, memperparah kelangkaan tiket yang sudah tinggi.
- Langkah ini menjadi simbol penghormatan terhadap kesetiaan suporter yang telah menanti 119 tahun, sekaligus memperkuat ikatan emosional klub dengan komunitasnya.

Menjelang partai perdana mereka di Liga Champions, Como 1907 mengambil keputusan yang jarang terjadi di pentas sepak bola Eropa: jajaran direksi klub secara sukarela melepaskan hak tiket pribadi mereka demi memberi tempat bagi para pendukung setia yang telah menanti puluhan tahun. Aksi ini diumumkan langsung oleh presiden klub, Mirwan Suwarso, melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (5/11/2025), dan langsung menuai sorotan publik.
Como, yang baru pertama kali tampil di kompetisi antarklub tertinggi Eropa sepanjang 119 tahun sejarahnya, akan menjamu RB Leipzig di Stadio Giuseppe Sinigaglia, Kamis (6/11/2025) malam WIB. Tiket pertandingan tersebut ludes terjual dalam hitungan jam, jauh melampaui daya tampung stadion yang berada di tepi Danau Como itu. Padahal, venue berkapasitas sekitar 12.000 penonton itu harus kehilangan 1.000 kursi tambahan akibat persyaratan operasional dan penyiaran yang ditetapkan UEFA.
Dalam pernyataannya, Suwarso—pengusaha asal Indonesia yang memegang kendali klub sejak 2019—mengakui bahwa tidak semua penggemar bisa tertampung. "Dengan kapasitas yang berkurang dan jumlah tiket yang terbatas, kami tidak dapat mengakomodasi semua orang yang ingin hadir," tulisnya. Namun, ia menegaskan bahwa sejumlah eksekutif klub memilih untuk mengorbankan kursi mereka demi suporter yang lahir pada 1950 atau lebih awal, yang dianggap telah menemani Como melewati berbagai era dan divisi.
Kebijakan ini bukan sekadar gestur simbolis. Como sendiri tengah menikmati kebangkitan luar biasa setelah dua kali bangkrut dalam dua dekade terakhir. Mereka mengakhiri puasa 21 tahun tanpa tampil di Serie A pada 2024, setelah melalui tiga kali promosi dalam enam musim. Di bawah asuhan Cesc Fabregas—mantan gelandang Arsenal, Chelsea, dan Barcelona—Como finis keempat musim lalu dan mengamankan tiket ke Liga Champions untuk pertama kalinya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, langkah Suwarso ini dinilai sebagai upaya memperkuat ikatan emosional antara klub dan komunitas lokalnya. "Ini menunjukkan bahwa Como tidak melupakan akar sejarahnya," ujar seorang analis sepak bola Italia yang enggan disebutkan namanya. "Di tengah komersialisasi sepak bola modern, gestur seperti ini menjadi pengingat bahwa suporter adalah jantung klub."
Keputusan ini juga beresonansi kuat di Indonesia, mengingat Suwarso adalah salah satu tokoh bisnis Tanah Air yang sukses mengorbitkan klub Eropa. Keberhasilannya membawa Como ke Liga Champions menjadi kebanggaan tersendiri, sekaligus membuktikan bahwa manajemen dari Asia mampu bersaing di level tertinggi. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, aksi ini bisa menjadi inspirasi tentang pentingnya menghargai loyalitas, baik di dalam maupun luar lapangan.
Setelah menjamu Leipzig, Como masih harus menjalani tujuh laga berat melawan Feyenoord, Manchester United, Lens, AEK Athens, Real Betis, Paris St-Germain, dan Barcelona. Pertanyaan besarnya: apakah kebijakan mulia ini akan menjadi tradisi klub, atau hanya sekadar gebrakan awal untuk membangun citra positif di pentas Eropa? Yang jelas, Como telah memenangkan hati banyak orang bahkan sebelum bola pertama ditendang.



