Eiji Bando, Mantan Pitcher Dragons yang Populer di Layar Kaca, Wafat di Usia 86
Baca dalam 60 detik
- Eiji Bando, mantan pitcher Chunichi Dragons yang sukses sebagai pembawa acara TV, meninggal karena gagal jantung kronis pada usia 86 tahun.
- Ia mencatat rekor 83 strikeout dalam enam pertandingan turnamen sekolah menengah sebelum berkarier 11 musim di Nippon Professional Baseball.
- Kepergian Bando meninggalkan warisan sebagai figur langka yang menginspirasi transisi dari atlet profesional ke dunia hiburan di Jepang.

Eiji Bando, mantan pelempar Chunichi Dragons yang kemudian menjelma menjadi salah satu tokoh televisi paling dikenal di Jepang, mengembuskan napas terakhir akibat gagal jantung kronis pada Senin (26/7) di usia 86 tahun. Kabar duka ini disampaikan pihak keluarga kepada media setempat, menutup lembaran panjang karier yang membentang dari lapangan bisbol hingga panggung hiburan.
Lahir di wilayah Manchuria yang saat itu berada di bawah kekuasaan Jepang semasa Perang Dunia II, Bando kembali ke tanah air dan dibesarkan di prefektur asal ayahnya, Tokushima, Jepang barat. Masa kecil yang diwarnai gejolak perang tak menghalangi bakatnya dalam olahraga. Di bangku sekolah menengah, ia menjadi andalan Tokushima Commercial High School dan berhasil mengantarkan timnya menjadi runner-up turnamen nasional musim panas di Stadion Koshien—sebuah prestasi yang diabadikan dalam sejarah bisbol sekolah Jepang.
Salah satu momen paling epik dalam karier amatir Bando terjadi pada perempat final melawan Uozu High School, saat ia melempar 18 inning tambahan dan mencatatkan 25 strikeout. Secara keseluruhan, dalam enam pertandingan turnamen, ia mengumpulkan 83 strikeout—sebuah rekor yang menunjukkan dominasinya sebagai ace pitcher. Prestasi ini menjadi fondasi langkahnya menuju kancah profesional.
Bergabung dengan Dragons pada 1959, Bando memulai karier profesional sebagai starter sebelum beralih peran menjadi reliever di pertengahan kariernya yang berlangsung 11 tahun. Sebagai pelempar tangan kanan, ia mencatat rekor 77-65 dengan ERA 2,89 dalam 435 penampilan. Meski statistiknya tergolong solid, popularitasnya justru meledak setelah gantung sepatu. Bando sukses bertransisi menjadi personality televisi, tampil di berbagai kuis dan variety show, serta kerap diundang sebagai komentator bisbol. Wajahnya yang ramah dan gaya bicaranya yang humoris membuatnya dicintai pemirsa lintas generasi.
Di Indonesia, kisah Bando mengingatkan pada figur-figur olahragawan yang merambah dunia hiburan, seperti legenda bulu tangkis atau pesepak bola yang menjadi pembawa acara. Transisi semacam itu masih jarang terjadi di Tanah Air, namun selalu menarik perhatian publik. Kepergian Bando tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan penggemar bisbol Jepang, tetapi juga menjadi pengingat bahwa atlet bisa memiliki karier kedua yang tak kalah gemilang. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah generasi atlet masa depan mampu mengikuti jejak multifaset ala Eiji Bando?



