Malaysia Targetkan Produksi Vaksin Sendiri pada 2028, Kurangi Ketergantungan Impor
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia menargetkan vaksin manusia pertama buatan dalam negeri rampung pada 2028, bekerja sama dengan mitra China dan PT Pharmaniaga.
- Vaksin PCV13 yang menyasar pneumonia dan meningitis akan diproduksi melalui alih teknologi, menekan belanja impor vaksin yang mencapai US$275,4 juta pada 2022.
- Langkah ini menjadi sinyal bagi Indonesia untuk mempercepat kemandirian vaksin guna menghadapi krisis kesehatan di masa depan.

Malaysia berencana memproduksi vaksin manusia pertama buatan dalam negeri pada tahun 2028, sebuah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan impor yang nilainya mencapai ratusan juta dolar setiap tahun. Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi Malaysia, Chang Lih Kang, mengungkapkan bahwa vaksin awal yang akan dikembangkan adalah vaksin konjugat pneumokokus 13-valen (PCV13), yang digunakan untuk mencegah pneumonia, meningitis, sepsis, dan infeksi darah.
Vaksin PCV13 ini akan diproduksi melalui mekanisme alih teknologi dari perusahaan China yang tidak disebutkan namanya, kemudian dikerjakan oleh produsen farmasi lokal, Pharmaniaga Bhd. Chang menegaskan bahwa pandemi Covid-19 telah membuka mata pemerintah akan risiko tidak memiliki kapasitas domestik dalam teknologi esensial seperti vaksin. “Kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan masa depan menjadi prioritas utama,” ujarnya dalam wawancara dengan The Star.
Malaysia saat ini masih mengimpor vaksin dari Amerika Serikat, Belgia, Korea Selatan, Jepang, Prancis, Thailand, India, dan Indonesia. Kondisi serupa juga dialami Indonesia, yang pada 2023 masih bergantung pada impor bahan baku vaksin hingga 90 persen. Inisiatif Malaysia ini dapat menjadi pemicu bagi negara tetangga untuk memperkuat industri farmasi dalam negeri, terutama setelah pengalaman pahit saat vaksin Covid-19 langka di awal pandemi.
Selain PCV13, Malaysia juga tengah mengembangkan vaksin heksavalen untuk anak-anak, yang menggabungkan enam antigen dalam satu dosis—melindungi dari difteri, tetanus, pertusis, polio, Haemophilus influenzae tipe B, dan hepatitis B. Saat ini, vaksin kombinasi tersebut sudah diberikan gratis di klinik pemerintah Malaysia pada usia 2, 3, 5, dan 18 bulan. Jika berhasil diproduksi lokal, biaya produksi diperkirakan bisa ditekan, mengingat harga vaksin impor untuk dewasa cukup mahal.
Keberhasilan proyek ini akan bergantung pada konsistensi alih teknologi dan kepastian mitra China. Chang optimistis target 2028 bisa tercapai lebih awal, namun analis mengingatkan bahwa produksi vaksin membutuhkan waktu uji klinis dan sertifikasi yang ketat. Pertanyaan selanjutnya: mampukah Malaysia—dan Indonesia—mengulang sukses beberapa negara seperti India dan Brasil yang sudah mandiri vaksin? Ataukah ketergantungan impor akan terus menjadi tantangan struktural Asia Tenggara?



