Peneliti Jepang Temukan 'Benih' Alzheimer pada Varian Protein Amiloid
Baca dalam 60 detik
- Tim riset Jepang mengidentifikasi varian protein beta-amiloid yang bertindak sebagai katalisator penumpukan plak otak pada penyakit Alzheimer.
- Temuan 'Peak 1 A-beta' ini menjelaskan mekanisme seeding yang memicu agregasi protein, membedakannya dari varian lain yang lebih lambat membentuk plak.
- Hasil studi membuka peluang pengembangan metode deteksi dini dan terapi yang menargetkan proses seeding untuk menghambat progresivitas Alzheimer.

Sebuah tim peneliti di Jepang berhasil mengidentifikasi varian protein beta-amiloid yang berperan sebagai 'benih' dalam proses akumulasi plak di otak penderita Alzheimer โ temuan yang membawa harapan baru untuk diagnosis dan terapi dini penyakit neurodegeneratif yang hingga kini belum ada obatnya.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Neuroscience itu mengungkap bahwa varian yang disebut 'Peak 1 A-beta' memiliki kemampuan luar biasa untuk membentuk inti agregasi. Berbeda dengan beta-amiloid biasa yang membutuhkan waktu lama untuk menggumpal, varian ini mempercepat reaksi berantai pembentukan plak senilis โ ciri khas patologis Alzheimer. Temuan ini menjawab misteri mengapa pada sebagian orang penyakit berkembang lebih cepat meskipun kadar amiloid totalnya tidak terlalu tinggi.
Metode yang digunakan tim dari Universitas Tokyo dan RIKEN Center for Brain Science melibatkan teknik spektrometri massa resolusi tinggi untuk membandingkan komposisi amiloid dari cairan serebrospinal pasien Alzheimer stadium awal dan individu sehat. 'Peak 1 A-beta' muncul secara signifikan lebih banyak pada kelompok pasien, dan uji laboratorium menunjukkan protein ini menginisiasi agregasi dalam hitungan jam, bukan hari.
Konteks Indonesia menjadi relevan mengingat laju penuaan penduduk yang cepat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah lansia Indonesia diproyeksikan mencapai 48 juta jiwa pada 2035. Dengan prevalensi Alzheimer yang meningkat eksponensial seiring usia, temuan ini bisa menjadi andalan baru. Saat ini diagnosis Alzheimer di Indonesia masih mengandalkan tes kognitif dan pencitraan otak yang mahal. Dengan mengetahui 'benih' spesifik, pengembangan tes darah berbasis deteksi 'Peak 1 A-beta' menjadi lebih mungkin dan lebih terjangkau.
โIni seperti menemukan pemicu pertama dalam reaksi berantai. Jika kita bisa menetralkan 'benih' ini, kita mungkin bisa menghentikan penyakit sebelum plak terbentuk luas,โ ujar Dr. Keiko Tanaka, peneliti utama studi tersebut, dalam konferensi pers daring.
Namun, tantangan masih membentang. Varian ini hanya ditemukan pada subjek penelitian Asia Timur; belum diketahui apakah prevalensinya sama pada populasi Indonesia yang beragam etnis. Selain itu, obat yang menargetkan seeding amiloid masih dalam tahap awal. Meski demikian, sejumlah perusahaan bioteknologi Jepang telah menyatakan minat untuk memulai uji pra-klinis inhibitor 'Peak 1 A-beta' dalam dua tahun ke depan.
Pertanyaan besar yang kini mengemuka: akankah Indonesia siap mengadopsi teknologi diagnostik dan terapi baru ini? Dengan kolaborasi riset internasional dan investasi dalam infrastruktur kesehatan lansia, celah antara penemuan laboratorium dan manfaat klinis di Tanah Air bisa diperkecil. Satu hal pasti: Alzheimer bukan lagi sekadar penyakit tak terhindarkan dari usia tua, melainkan target yang bisa diintervensi sejak tahap paling awal.



