Gangguan Ingatan Siswi Usai MBG di Karo: Dinas Pendidikan Sumut Turun Tangan
Baca dalam 60 detik
- Febiona Purba (16) diduga alami keracunan usai santap MBG di Karo, kini mengalami amnesia parsial dan bicara seperti anak kecil.
- Dinas Pendidikan Sumut memastikan koordinasi dengan sekolah dan RS Adam Malik untuk pemeriksaan EEG guna memulihkan kondisinya.
- Kasus ini menyoroti celah pengawasan keamanan pangan program MBG yang tengah diperluas ke seluruh Indonesia.

Seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Febiona Purba (16), diduga mengalami gangguan ingatan serius setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini memicu keprihatinan publik dan mendorong Dinas Pendidikan setempat untuk turun tangan memastikan pemulihan serta kejelasan medis bagi korban.
Febiona, yang sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit, mulai menunjukkan gejala kejang dan kehilangan ingatan sesaat setelah kembali ke rumah. Orang tuanya, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengungkapkan bahwa putrinya kerap tidak mengenali keluarga dan teman sekelasnya, bahkan berbicara dengan nada kekanak-kanakan. "Setelah pulang dari RS Umum, dia masih normal. Tapi di rumah, dia kejang dan kami bawa ke RS Haji. Di situlah dia mulai bicara seperti anak-anak," ujarnya.
Menurut Elvinus, pihak rumah sakit baru menjelaskan dugaan keterkaitan gangguan otak dengan racun setelah Febiona dipindahkan dari ruang PICU. Ia menyayangkan tidak adanya pemberitahuan lebih awal mengenai kondisi tersebut. "Kami baru tahu saat di RS Haji, katanya otaknya terkena racun. Padahal dari PICU seharusnya sudah ada info," keluhnya.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumatera Utara Wilayah IV, Zulkarnain Barus, menyatakan telah menerima laporan dari kepala sekolah dan memastikan Febiona akan dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik Medan untuk menjalani elektroensefalografi (EEG). "Kami sangat prihatin. Kami akan fasilitasi agar dia bisa segera kembali bersekolah setelah kondisinya pulih," katanya. Pihaknya juga meminta sekolah untuk terus berkoordinasi dengan orang tua.
Kasus ini menjadi sorotan karena program MBG yang digalakkan pemerintah bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, namun insiden keracunan seperti ini menimbulkan pertanyaan tentang standar keamanan pangan di tingkat sekolah. Pengamat kebijakan pendidikan menilai perlu ada audit ketat terhadap rantai pasok dan pengolahan makanan MBG, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas.
Bagi orang tua di Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat untuk lebih waspada terhadap gejala aneh pada anak setelah mengonsumsi makanan program sekolah. Sementara itu, Dinas Pendidikan berjanji akan mendampingi proses pemulihan Febiona hingga tuntas.
Pertanyaan yang masih menggantung: apakah ini kasus isolasi atau ada indikasi masalah sistemik dalam implementasi MBG di Sumatera Utara? Jawabannya akan menentukan kepercayaan publik terhadap program prioritas nasional ini.



