Serangan Siber Boston Scientific: Target 2026 Terancam, Industri Medis Global Waspada
Baca dalam 60 detik
- Gangguan siber pada sistem IT Boston Scientific memaksa perusahaan merevisi proyeksi pendapatan dan laba kuartal III serta tahun penuh 2026.
- Analis menilai 2026 berisiko menjadi 'tahun yang hilang' bagi Boston Scientific, dengan fokus investor beralih ke prospek 2027.
- Insiden ini menambah daftar panjang serangan siber di sektor kesehatan global, menyoroti kerentanan rantai pasok alat medis.

Boston Scientific, raksasa alat medis asal Amerika Serikat, secara resmi menarik proyeksi pendapatan dan laba yang telah disesuaikan untuk kuartal ketiga dan tahun penuh 2026. Langkah ini diambil menyusul insiden keamanan siber yang melumpuhkan sebagian operasi global perusahaan sejak akhir Agustus lalu, memicu kekhawatiran investor dan analis tentang dampaknya terhadap industri kesehatan secara lebih luas.
Dalam pengajuan regulasi, perusahaan mengungkapkan bahwa aktivitas tidak sah pada sistem teknologi informasi yang pertama kali terdeteksi pada 25 Agustus telah menyebabkan gangguan jaringan. Gangguan ini berdampak pada proses manufaktur, serta penundaan pemrosesan dan pengiriman pesanan pelanggan. Meski demikian, Boston Scientific memastikan bahwa pusat distribusi utama kini telah beroperasi normal, fasilitas sterilisasi kembali berfungsi, dan produksi telah dilanjutkan di sebagian besar pabrik global.
Sebelum insiden, pada Juli lalu, Boston Scientific memperkirakan laba per saham yang disesuaikan untuk 2026 berada di kisaran 3,28 hingga 3,32 dolar AS, dengan pertumbuhan penjualan 5,5 hingga 6,5 persen. Untuk kuartal ketiga, perusahaan memproyeksikan laba per saham 80 hingga 82 sen. Kini, angka-angka tersebut diragukan dapat tercapai. Perusahaan memang berharap dapat memulihkan sebagian pendapatan yang terdampak seiring pemulihan operasi dan penyelesaian tunggakan, namun dampak finansial penuh masih belum dapat dipastikan.
Analis Stifel, Rick Wise, menilai bahwa investor mulai menganggap 2026 sebagai "tahun yang hilang" bagi Boston Scientific. Fokus pasar diperkirakan akan beralih ke prospek perusahaan pada 2027. Sementara itu, analis J.P. Morgan, Robbie Marcus, menyoroti bahwa serangan siber ini mengaburkan visibilitas terhadap tren bisnis fundamental Boston Scientific, sehingga menunda kemampuan investor untuk menilai pertumbuhan dan dinamika kompetitif di lini produk utama, seperti elektrofisiologi dan perangkat jantung Watchman.
Insiden ini merupakan yang terbaru dari rentetan serangan siber yang menargetkan sektor kesehatan global. Sebelumnya, Abbott Laboratories, Stryker, Medtronic, dan raksasa farmasi Novo Nordisk juga menjadi korban. Fenomena ini menegaskan bahwa industri kesehatan, yang semakin bergantung pada konektivitas digital dan perangkat medis pintar, menjadi sasaran empuk bagi peretas. Di Indonesia, di mana adopsi teknologi kesehatan digital terus meningkat, insiden ini menjadi pengingat penting akan perlunya penguatan keamanan siber di rumah sakit, distributor alat kesehatan, dan produsen lokal.
Menanggapi insiden, Boston Scientific menyatakan bahwa dampaknya terbatas pada infrastruktur internal tertentu. Analisis kualitas produk tidak menemukan kerusakan signifikan, kecuali gangguan pada aktivasi baru platform pemantauan jarak jauh perangkat jantung. Perusahaan berencana memberikan pembaruan prospek ketika mengumumkan hasil kuartal ketiga pada 28 Oktober 2025.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana Boston Scientific akan memulihkan kepercayaan investor dan pasar. Apakah perusahaan mampu mengejar ketertinggalan produksi dan memenuhi permintaan yang tertunda? Atau akankah insiden ini memicu gelombang evaluasi ulang terhadap ketahanan siber seluruh rantai pasok alat kesehatan global, termasuk di kawasan Asia Tenggara yang menjadi basis manufaktur penting?



