95.000 Sampel Darah Terkumpul: Bank DNA Vietnam Jadi Andalan Baru Identifikasi Pahlawan Tak Dikenal
Baca dalam 60 detik
- Vietnam mengumpulkan sampel DNA dari 95.000 kerabat untuk mengidentifikasi ribuan prajurit yang gugur namun belum ditemukan jenazahnya.
- Bank gen nasional ini memanfaatkan efek jaringan DNA, di mana setiap sampel baru memperkuat kemungkinan kecocokan dengan sisa kerangka yang tidak dikenal.
- Inisiatif ini didukung database kependudukan dan proyek genom Vietnam, menjadi model potensial bagi negara lain termasuk Indonesia.

Seorang perempuan berusia 79 tahun, The Thi Yen, baru saja menyumbangkan sampel darahnya di Hanoi. Prosedur sederhana itu menjadi puncak penantian hampir enam dekade bagi keluarganya untuk menemukan jenazah kakak laki-lakinya yang gugur dalam Perang Vietnam tahun 1968. Sampel darah Yen adalah satu dari puluhan ribu yang akan memperkuat National War Martyrs' Gene Bank, sebuah database genetik yang diyakini mampu mengakhiri pencarian ribuan pahlawan tak dikenal.
Inisiatif yang dipimpin Kementerian Keamanan Publik Vietnam ini merupakan bagian dari kampanye 500 hari untuk mempercepat pencarian, pemulihan, dan identifikasi jenazah korban perang. Hingga awal Juli, sekitar 95.000 kerabat telah memberikan sampel DNA, dan lebih dari 53.000 di antaranya telah dianalisis serta masuk ke database nasional. Sistem ini telah berhasil mengidentifikasi 23 prajurit yang sebelumnya tak dikenal.
Berbeda dengan metode tradisional yang mengandalkan dokumen perang, kesaksian saksi mata, atau barang pribadiโyang mudah memudar dan hilangโbank gen ini menawarkan solusi permanen. DNA tidak memburuk seiring waktu. Sekali masuk ke dalam sistem, profil genetik dapat terus dibandingkan dengan jenazah yang baru ditemukan, bahkan puluhan tahun kemudian. Duong Ngoc Cuong, CEO perusahaan bioteknologi GeneStory yang menjadi mitra proyek, menyebut bank gen ini sebagai "ekosistem data hidup" yang semakin kuat seiring bertambahnya sampel.
"Setiap sampel DNA baru memperkaya peta hubungan genetik dan meningkatkan kemungkinan mencocokkan sisa kerangka yang sudah ada dalam sistem," kata Cuong. Prosesnya sangat ketat: setelah pengambilan, sampel diangkut dengan kondisi pengawetan, menjalani ekstraksi dan sekuensing DNA, serta dua kali verifikasi independen. Nama-nama individu dihilangkan, hanya kode batang yang digunakan untuk memastikan akurasi dan perlindungan data pribadi. Kesalahan seperti tertukarnya sampel bisa berarti gagal mempertemukan prajurit dengan keluarganya.
Bagi Indonesia, pendekatan Vietnam ini menawarkan pelajaran berharga. Negara masih memiliki ribuan korban konflik masa lalu yang belum teridentifikasi, termasuk dari peristiwa 1965 dan konflik Aceh. Keberadaan database kependudukan berbasis biometrik serta proyek genom nasional Indonesia yang mulai dirintis bisa menjadi fondasi serupa. Namun, koordinasi lintas sektor dan pendanaan massal masih menjadi tantangan. Menurut Cuong, proyek skala nasional seperti ini hampir mustahil dilakukan 10โ15 tahun lalu tanpa adanya mekanisme koordinasi antarlembaga, database kependudukan terpadu, dan selesainya Proyek Genom Vietnam pada 2021.
Keunggulan bank gen ini bukan hanya pada teknologinya, melainkan pada "efek jaringan" genetik. Karena kerabat berbagi penanda genetik yang diwariskan, setiap profil baru memperkuat peta hubungan secara keseluruhan. Sebuah keluarga yang tidak mendapat kecocokan hari ini mungkin mendapat jawaban bertahun-tahun kemudian, saat lebih banyak kerabat menyumbang sampel atau jenazah baru ditemukan. Setelah kampanye 500 hari selesai, bank gen akan tetap menjadi infrastruktur ilmiah nasional jangka panjang, yang secara otomatis membandingkan setiap sisa kerangka yang baru ditemukan dengan database yang terus bertambah.
Cuong mengingat satu momen mengharukan: timnya mendatangi rumah seorang ibu berusia 95 tahun yang terlalu lemah untuk bepergian. Setelah sampel darah diambil, ia tampak lega, seolah beban setengah abad terangkat. Beberapa jam kemudian, keluarga menelepon untuk memberi tahu bahwa sang ibu telah meninggal dengan tenang. "Jika kami datang sehari atau bahkan beberapa jam terlambat, satu-satunya hubungan genetik ibu dengan putranya yang gugur akan hilang selamanya," ungkap Cuong. Cerita itu mengingatkan bahwa waktu adalah musuh sekaligus sekutu: semakin cepat sampel dikumpulkan, semakin besar peluang kecocokan.
Bagi The Thi Yen, yang kini menjadi satu-satunya saudara yang tersisa, sampel darahnya adalah jembatan terakhir menuju kakaknya. "Saya hanya berharap masih hidup saat kakak saya pulang," ujarnya. Di laboratorium, sampelnya akan berubah menjadi catatan genetik digital, menjadi satu benang lagi dalam jaring yang terus merajut harapan. Apakah Indonesia siap membangun jaring yang sama sebelum generasi terakhir yang mengingat konflik itu tiada?



