Sanae Takaichi: Tidur 0-3 Jam Jadi Kebiasaan Sejak Jadi PM Jepang
Baca dalam 60 detik
- Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengaku hanya tidur 0-3 jam per malam sejak menjabat, memicu kekhawatiran akan kesehatan dan efektivitas kepemimpinan.
- Kebiasaan ini mencerminkan budaya kerja ekstrem di Jepang, yang juga berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan pemimpin.
- Di Indonesia, pola tidur serupa kerap dialami pejabat publik, menyoroti pentingnya keseimbangan kerja-istirahat dalam pengambilan keputusan.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi secara terbuka mengungkapkan bahwa sejak menjabat, ia hanya tidur antara nol hingga tiga jam per malam. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah sesi tanya jawab, mengejutkan publik dan memicu diskusi mengenai dampak kurang tidur terhadap kinerja pemimpin negara.
Takaichi, yang dikenal sebagai politisi energik, mengaku bahwa jadwal kerjanya yang padat membuat istirahat menjadi kemewahan yang sulit diraih. Dalam budaya kerja Jepang yang terkenal gila kerja, pengakuan ini bukanlah hal yang asing, namun tetap menimbulkan kekhawatiran. Sejumlah studi menunjukkan bahwa kurang tidur kronis dapat mengganggu fungsi kognitif, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, dan menurunkan kemampuan pengambilan keputusanโfaktor krusial bagi seorang kepala pemerintahan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Jepang. Di Indonesia, sejumlah mantan presiden dan pejabat tinggi juga kerap membagikan pengalaman serupa. Presiden Joko Widodo misalnya, pernah mengaku hanya tidur empat jam sehari selama masa-masa sibuk. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan kepemimpinan di berbagai negara memiliki pola yang sama, di mana tuntutan pekerjaan sering kali mengorbankan kesehatan pribadi.
Kebiasaan Takaichi juga menyoroti budaya 'karoshi' (kematian karena kerja berlebihan) di Jepang, yang telah menjadi isu nasional. Meskipun perdana menteri memiliki akses ke tim pendukung yang kuat, kurang tidur tetap berisiko. Pengamat politik Jepang, Hiroshi Tanaka, menilai bahwa pernyataan Takaichi bisa menjadi sinyal untuk reformasi gaya kerja di kalangan elit. "Seharusnya pemimpin memberi contoh tentang pentingnya istirahat, bukan sebaliknya," ujarnya.
Dari perspektif Indonesia, pola tidur pemimpin sering menjadi topik hangat. Namun, jarang ada pengakuan terbuka seperti yang dilakukan Takaichi. Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya tidur cukup untuk menjaga imunitas dan produktivitas. "Pemimpin yang sehat akan menghasilkan kebijakan yang lebih baik," katanya.
Ke depan, akankah pernyataan Takaichi memicu perubahan dalam budaya kerja pemerintahan Jepang? Atau justru dianggap sebagai bagian dari pengorbanan yang wajar? Yang jelas, kesehatan seorang pemimpin bukan hanya urusan pribadi, melainkan investasi bagi masa depan bangsa.



