Havertz: Pewaris Tahta 'Mr Clutch' Arsenal yang Tak Terduga
Baca dalam 60 detik
- Kai Havertz menjelma menjadi striker elite Arsenal, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Leandro Trossard sebagai pencetak gol krusial.
- Dengan etos kerja luar biasa, Havertz memimpin statistik jarak lari striker Liga Inggris musim ini, membuktikan nilai transfer ยฃ65 juta-nya.
- Kemampuan Havertz tampil di momen besar menjadi aset utama Arsenal dalam perburuan gelar, sekaligus jawaban atas kritik di awal kedatangannya.

LONDON โ Arsenal mungkin gagal mendatangkan penyerang elite pada bursa musim panas, tetapi jawaban atas kerinduan penggemar akan sosok 'pembeda' justru sudah ada di dalam skuad: Kai Havertz. Mantan pemain Chelsea itu kini dianggap sebagai pewaris peran yang ditinggalkan Leandro Trossard, yang hengkang ke Besiktas dengan julukan 'Mr Clutch'.
Sepanjang musim panas, The Gunners dikaitkan dengan sejumlah nama besar seperti Morgan Rogers, Kenan Yildiz, Julian Alvarez, hingga Vinicius Junior. Namun, semua upaya itu gagal. Satu-satunya rekrutan di lini depan hanyalah Christos Tzolis dari Club Brugge. Meski pemain asal Yunani itu tampil menjanjikan, banyak yang meragukan kemampuannya menggantikan ketajaman Trossard di momen-momen genting.
Di tengah keraguan tersebut, Havertz justru tampil sebagai kuda hitam. Bergabung pada 2023 dengan harga ยฃ65 juta, ia sempat diragukan karena performa kurang konsisten di Stamford Bridge. Namun, di bawah asuhan Mikel Arteta, pemain Jerman itu bertransformasi menjadi striker nomor sembilan yang haus gol. Ia bahkan menjadi pencetak gol terbanyak klub, mengungguli Viktor Gyokeres yang juga diburu pada musim panas.
Penampilan Havertz saat melawan Chelsea akhir pekan lalu menjadi bukti nyata. Ia mencetak gol penyeimbang yang krusial, sebuah gol yang mengubah jalannya pertandingan. Data menunjukkan, sejak Januari 2023, hanya Gabriel Magalhaes dan Mikel Merino yang memiliki persentase kontribusi gol pengubah keadaan lebih tinggi darinya di Premier League. Trossard sendiri selama ini dikenal sebagai spesialis gol-gol penting, dan Havertz perlahan mengambil alih peran tersebut.
Arteta sendiri pernah memuji keduanya memiliki kemiripan. "Dia pemain yang sangat langsung. Dia punya naluri mencetak gol. Dia sangat baik dalam menghubungkan permainan. Dia memiliki banyak kesamaan dengan Leo [Trossard]," ujar Arteta dalam sesi pramusim, seperti dikutip Football Fancast.
Etos kerja Havertz memang luar biasa. Ia menjelma menjadi 'mesin' di lini depan Arsenal. Tak hanya soal gol, ia juga aktif dalam membangun serangan. Saat melawan Chelsea, ia menciptakan tiga peluang, hanya kalah dari Martin Odegaard dan Tzolis yang masing-masing membuat empat. Kemampuannya menarik pemain bertahan dan membuka ruang bagi rekan setim menjadi nilai lebih yang tak terlihat di atas kertas.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar Arsenal di Indonesia, perkembangan ini tentu menjadi angin segar. Setelah ditinggal Trossard, banyak yang khawatir lini serang The Gunners akan tumpul. Namun, dengan performa Havertz yang konsisten, optimisme untuk meraih gelar Premier League kembali menguat. Pertanyaan besarnya, akankah Havertz mampu mempertahankan performa ini hingga akhir musim dan membawa Arsenal mengakhiri puasa gelar liga sejak 2004?
Ke depan, tantangan terbesar Havertz adalah konsistensi. Ia harus membuktikan bahwa performa gemilangnya bukan hanya sekadar kilatan sesaat. Jika mampu bertahan, bukan tidak mungkin ia akan dikenang sebagai salah satu pembelian terbaik Arsenal di era Arteta, melampaui ekspektasi yang sempat rendah di awal kedatangannya.



