Erupsi Anak Krakatau: Peta SO2 Bukan Indikator Kualitas Udara Permukaan, Begini Penjelasan Badan Geologi
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi ESDM meluruskan interpretasi peta sebaran sulfur dioksida (SO2) yang sempat memicu kecemasan publik, menegaskan bahwa warna merah pada citra satelit bukanlah konsentrasi gas di permukaan.
- Satuan yang digunakan dalam peta adalah mg/m2 yang mengukur massa gas per luas kolom udara, berbeda dengan ppm yang menjadi standar baku mutu udara ambien yang dihirup manusia.
- Masyarakat diimbau tidak panik namun tetap waspada dengan langkah mitigasi sederhana seperti memakai masker dan menghindari air hujan jika tercium bau belerang.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) angkat bicara di tengah kekhawatiran publik yang dipicu beredarnya citra satelit menunjukkan sebaran sulfur dioksida (SO2) erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Lembaga tersebut menegaskan bahwa peta yang menampilkan warna merah pekat itu tidak lantas berarti udara di permukaan telah tercemar gas beracun, melainkan hanya menggambarkan konsentrasi kolom gas di lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Penjelasan ini penting karena media sosial dalam beberapa hari terakhir diramaikan narasi yang mengaitkan warna merah pada peta dengan tingkat bahaya yang mengancam kesehatan. Padahal, menurut Badan Geologi, satuan yang dipakai dalam citra tersebut adalah miligram per meter persegi (mg/m2), yang mengukur massa gas per satuan luas kolom udara. Ini berbeda jauh dengan satuan parts per million (ppm) yang umum digunakan untuk menilai kualitas udara yang benar-benar kita hirup di permukaan.
"Bahaya SO2 itu sangat bergantung pada ketinggiannya di troposfer. Jika berada di lapisan yang lebih tinggi, gas tersebut tidak langsung terhirup oleh masyarakat," demikian pernyataan resmi Badan Geologi yang dikutip pada Selasa (8/9/2026). Dengan kata lain, konsentrasi tinggi di atmosfer atas tidak otomatis berbanding lurus dengan paparan yang dirasakan manusia di darat.
Klarifikasi ini sekaligus menjawab pertanyaan besar di masyarakat: apakah kita perlu panik? Para ahli vulkanologi menilai bahwa fenomena sebaran gas vulkanik seperti ini sebenarnya lazim terjadi saat erupsi besar. Yang membedakan adalah tingkat bahayanya yang sangat ditentukan oleh arah angin dan dinamika atmosfer. Untuk konteks Indonesia, wilayah yang berada di sekitar Selat Sunda, termasuk pesisir Banten dan Lampung, memang perlu meningkatkan kewaspadaan, tetapi tidak sampai pada level evakuasi massal.
Badan Geologi juga memberikan panduan praktis bagi warga yang mungkin mencium aroma belerang khas SO2. Masyarakat diminta untuk tetap tenang, mengenakan masker, dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Yang tak kalah penting, mereka mengingatkan agar tidak menampung atau meminum air hujan, sebab gas SO2 yang terlarut dapat membentuk asam dan berisiko merusak kesehatan tubuh.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah bagaimana pola sebaran gas ini akan berkembang seiring aktivitas vulkanik yang masih fluktuatif. Akankah Badan Geologi memperbarui peta secara berkala dan merilis data yang lebih mudah dipahami publik? Transparansi informasi semacam ini menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks dan tetap waspada dengan landasan ilmiah yang benar.



