Taruhannya Nyawa: Di Balik Layanan Antar Kilat Korea Selatan
Baca dalam 60 detik
- Seorang pemuda 27 tahun meninggal akibat serangan jantung setelah bekerja shift malam di gudang Coupang, memicu perdebatan nasional tentang jam kerja ekstrem.
- Korea Selatan tidak membatasi jam kerja malam, berbeda dengan negara maju lain, dan data menunjukkan peningkatan kematian akibat kelelahan di sektor logistik.
- Meski ada seruan pelarangan pengiriman malam, tingginya upah membuat pekerja enggan berhenti, menimbulkan dilema antara keselamatan dan kebutuhan ekonomi.

Jang Deok-jun, 27 tahun, ditemukan tak sadarkan diri di kamar mandi seminggu setelah ibunya memintanya berhenti bekerja. Ia meninggal karena serangan jantung, dan badan asuransi negara Korea Selatan (Comwel) menyimpulkan penyebabnya adalah kelelahan akut akibat kerja lembur. Kisahnya menjadi simbol pahit di balik kemudahan layanan antar kilat yang menjamur di negeri ginseng.
Korea Selatan dikenal dengan layanan overnight delivery yang menjamin barang sampai pukul 07.00 untuk pesanan sebelum tengah malam. Coupang, raksasa e-commerce yang mempekerjakan hampir 100.000 orang, menjadi motor utama sistem ini. Namun, di balik kecepatan dan kenyamanan, para pekerja gudang dan pengemudi harus bekerja dari pukul 21.00 hingga 07.00, lima hingga enam hari seminggu, tanpa jeda yang berarti. Jam malam dihitung 30% lebih berat dalam kalkulasi kelelahan, namun pemerintah belum membatasinya.
Laporan Comwel mencatat 46 pekerja logistik meninggal akibat stroke atau penyakit jantung yang dikategorikan sebagai kematian akibat kerja antara 2020 hingga Mei 2026. Angka itu belum termasuk kasus yang tidak dilaporkan. Kang Mo-yeol, profesor kedokteran kerja di Universitas Katolik Korea, mengingatkan bahwa kerja malam telah diklasifikasikan sebagai kemungkinan penyebab kanker oleh WHO, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes, dan gangguan mental. "Tidak hanya itu, bukti terus bertambah bahwa kerja malam berbahaya dalam jangka panjang," ujarnya.
Fenomena ini relevan dengan Indonesia, di mana e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Gojek juga mengandalkan logistik cepat. Namun, perlindungan pekerja malam masih lemah. Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, kasus kelelahan kerja di sektor logistik meningkat, tetapi regulasi khusus jam malam belum ada. Pengamat ketenagakerjaan menilai Indonesia perlu belajar dari kasus Korea sebelum budaya instant delivery menelan korban serupa.
Di sisi lain, pengemudi seperti Kimโyang meminta namanya tidak disebutโmenerima gaji hampir dua kali lipat rata-rata nasional, yaitu 7 juta won. "Saya tidak bisa melakukan ini seumur hidup, karena menggerogoti tubuh," katanya kepada BBC. Namun, ia tidak mau berhenti karena harus menghidupi keluarga. Serikat pekerja meminta larangan pengiriman malam, tetapi serikat pengemudi Coupang justru menolak karena mayoritas anggota lebih suka bekerja malam demi uang lebih.
Investigasi polisi kini membidik Coupang, menyusul tuduhan penghilangan bukti dalam kasus Jang. CEO Harold Rogers dipanggil parlemen dan mengucapkan belasungkawa, namun bungkam saat diminta bertanggung jawab. Presiden Lee Jae Myung, yang memiliki latar belakang cedera kerja, menjadikan pengurangan kematian kerja sebagai prioritas. Namun, partai berkuasa justru mengusulkan pelonggaran aturan jam malam untuk mematahkan dominasi Coupang, langkah yang dikritik keras oleh aktivis dan keluarga korban.
Ibu Jang, Park Mi-suk, kini tinggal di apartemen sewaan setelah bisnisnya bangkrut karena terus berjuang. Ia menyimpan semua barang putranya, termasuk koleksi action figure. "Saya berharap kita tidak menjadi masyarakat yang menutup mata pada pengorbanan orang lain demi sedikit kenyamanan," ujarnya. Pertanyaannya, berapa banyak lagi nyawa harus melayang sebelum kenyamanan dipertanyakan?



