Batas Usia Manusia: Studi Menyebut 194 Tahun, Tapi Bukan Karena Gaya Hidup
Baca dalam 60 detik
- Studi pemodelan menunjukkan bahwa jika semua faktor penuaan kecuali mutasi genetik dieliminasi, manusia dapat hidup hingga 194 tahun.
- Mutasi somatik yang terakumulasi di sel otak dan jantung menjadi penghalang utama umur panjang, sulit diatasi dengan intervensi anti-aging saat ini.
- Para ahli menegaskan bahwa hasil ini bersifat teoretis, dan kunci umur panjang tetap pada gaya hidup dasar seperti tidak merokok, diet seimbang, dan olahraga.

Seandainya manusia bisa menaklukkan semua penyakit kronis dan kerusakan akibat penuaan, berapa lama kita bisa hidup? Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal NPJ Aging memberikan angka yang mengejutkan: 146 hingga 194 tahun. Namun, angka ini bukanlah ramuan keabadian, melainkan batas teoretis yang dibentengi oleh satu musuh tak kasatmata—mutasi somatik.
Mutasi somatik adalah perubahan acak pada DNA yang terjadi di setiap sel tubuh sepanjang hidup. Berbeda dengan mutasi di sel germinal (sperma dan sel telur), perubahan ini tidak diwariskan, tetapi menumpuk seiring waktu. Setiap kali sel membelah, ada risiko kesalahan salinan. Paparan lingkungan seperti asap rokok atau sinar ultraviolet mempercepatnya, namun banyak mutasi terjadi begitu saja tanpa pemicu jelas. Menurut Jeremy Clerc, asisten profesor di NYU Grossman School of Medicine, seseorang di usia 80 tahun bisa membawa ribuan mutasi dalam satu sel biasa. “Tubuh tidak memiliki mekanisme untuk kembali dan memperbaiki kerusakan yang sudah tertulis di genom sel,” ujarnya.
Para peneliti mengembangkan model matematika untuk mengukur seberapa besar pengaruh mutasi somatik terhadap batas usia manusia. Dengan mengesampingkan semua penanda penuaan lain—seperti pemendekan telomer, disfungsi mitokondria, atau ketidakstabilan protein—mereka menemukan bahwa median umur manusia hanya akan mencapai 146–194 tahun, kira-kira dua kali lipat harapan hidup global saat ini (79 tahun). Jika mutasi somatik juga dihilangkan, median umur melonjak menjadi 1.759 tahun, dengan maksimum 29.921 tahun. Namun, karena mutasi ini tidak dapat dicegah atau diperbaiki, maka ia menjadi “bottleneck” kritis.
Yang menarik, tidak semua sel tubuh sama rentannya. Sel hati ternyata sangat tangguh—dalam model, mereka bisa beregenerasi dan bertahan selama 100.000 tahun. Sebaliknya, sel miokardium (jantung) dan neuron (otak) sangat rapuh karena tidak lagi membelah diri. Begitu fungsi mereka menurun, kematian tak terhindarkan. Tim peneliti menyebut kedua jaringan ini sebagai “critical lifespan bottlenecks.” Dengan kata lain, meskipun kita bisa menyembuhkan semua penyakit, mutasi yang menumpuk di otak dan jantung pada akhirnya akan membatasi usia.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan di tengah maraknya industri suplemen anti-aging dan klaim “biohacking” yang menjanjikan umur panjang. Egle Pavyde, peneliti kedokteran regeneratif dari Lithuania, mengingatkan bahwa studi ini hanya pemodelan matematis, bukan eksperimen nyata. “Ini ekstrapolasi teoretis yang dibangun dengan asumsi sederhana, tidak menangkap interaksi kompleks antar berbagai penanda penuaan,” katanya. Ia menambahkan bahwa cara paling efektif untuk memperpanjang hidup tetap pada hal-hal mendasar: tidak merokok, aktif bergerak, diet makanan utuh, tidur cukup, menjaga hubungan sosial, dan mencegah penyakit.
Lalu, apa implikasinya bagi mereka yang mengejar umur panjang? Clerc menekankan bahwa jika batas umur ditentukan oleh jaringan non-regeneratif, maka menjaga kesehatan jantung dan otak menjadi prioritas tertinggi. “Saran terbaik adalah sesuatu yang sudah sering Anda dengar: tidur nyenyak, makan baik, bergerak, kelola stres, dan lakukan secara konsisten,” ujarnya. Sampai suatu saat ilmuwan mampu menemukan cara untuk mengelola mutasi somatik—khususnya di sel otak dan jantung—manusia mungkin harus menerima bahwa 122 tahun adalah rekor yang sulit dipecahkan.



