Gunung Anak Krakatau Erupsi, Singapore Airlines Tambah 8 Penerbangan Tambahan Jakarta–Singapura
Baca dalam 60 detik
- Maskapai asal Singapura itu mengoperasikan delapan penerbangan ekstra pada Selasa (8/9) setelah bandara utama Indonesia kembali beroperasi pasca-penutupan akibat abu vulkanik.
- Langkah ini diambil untuk mengakomodasi penumpang yang terdampak pembatalan 18 penerbangan pada Senin (7/9) dan satu penerbangan pagi ini.
- Situasi masih dinamis; jadwal penerbangan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga penumpang diminta memantau informasi resmi maskapai.

Singapore Airlines (SIA) memutuskan menambah delapan penerbangan bantuan pada Selasa (8/9) untuk rute Singapura–Jakarta, menyusul dibukanya kembali bandara utama Indonesia setelah sempat ditutup berhari-hari akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Tambahan ini terdiri dari empat penerbangan dari Singapura ke Jakarta dan empat penerbangan pulang, seperti dikonfirmasi pihak maskapai kepada CNA.
Langkah ini menjadi respons cepat atas gangguan luas yang dipicu letusan gunung yang berjarak sekitar 150 kilometer dari Jakarta pada Sabtu (6/9) lalu. Abu vulkanik dan lava yang disemburkan memaksa delapan bandara di Indonesia menghentikan operasionalnya selama akhir pekan, memicu kekacauan perjalanan udara di kawasan tersebut. Bagi pelancong yang terjebak, kehadiran penerbangan tambahan ini menjadi jalur keluar yang dinanti, meski ketersediaan kursi tetap menjadi batasan utama.
Dalam pembaruan yang dirilis tengah malam, SIA menyebut enam penerbangan yang dijadwalkan berangkat Selasa pagi telah diubah waktunya ke sore hari. Sementara itu, 18 penerbangan yang dibatalkan pada Senin (7/9) dan satu penerbangan lain yang dijadwalkan berangkat dari Jakarta pada Selasa dini hari juga ikut dibatalkan. Maskapai memastikan akan memindahkan penumpang terdampak secara bertahap ke penerbangan berikutnya yang tersedia seiring normalisasi rute.
Bagi Indonesia, erupsi ini kembali mengingatkan pada kerentanan infrastruktur penerbangan nasional terhadap bencana geologis. Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi gerbang utama internasional harus berbagi beban dengan bandara-bandara lain yang juga terdampak, menimbulkan efek domino pada konektivitas regional. Para analis menilai bahwa kejadian seperti ini menyoroti perlunya protokol tanggap darurat yang lebih solid, baik di tingkat maskapai maupun otoritas bandara, untuk meminimalkan kerugian ekonomi dan sosial.
Maskapai menegaskan bahwa situasi masih berubah-ubah, dan meminta penumpang untuk memantau laman status penerbangan mereka secara berkala. "Karena situasi masih dinamis, pelanggan sebaiknya mengunjungi halaman Flight Status untuk informasi terbaru," demikian pernyataan resmi SIA. Imbauan ini menjadi pengingat bahwa di tengah ketidakpastian, informasi yang akurat dan tepat waktu adalah kunci bagi para pelancong.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat frekuensi penerbangan dapat kembali normal sepenuhnya. Aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang sulit diprediksi membuat maskapai dan otoritas penerbangan harus tetap waspada. Apakah tambahan penerbangan ini cukup untuk mengurai penumpukan penumpang, atau akankah ada gelombang gangguan berikutnya? Semua bergantung pada perilaku gunung yang masih menyimpan potensi letusan susulan.



