Trump Ancam Blokir Penjualan Bombardier di AS: 'Bangun Pabrik di Sini atau Hengkang'
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS kembali menekan Bombardier lewat ancaman larangan penjualan di pasar domestik, menyusul sengketa tarif yang memanas dengan Kanada.
- Langkah ini berpotensi mengguncang rantai pasok penerbangan global, mengingat Bombardier mengandalkan komponen buatan AS dan melibatkan ribuan perusahaan lokal.
- Eskalasi perang dagang AS-Kananda berisiko memantik gejolak harga dan pasokan di industri penerbangan Asia, termasuk Indonesia yang bergantung pada impor pesawat.

Washington, D.C. โ Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melancarkan serangan verbal terhadap produsen pesawat asal Kanada, Bombardier. Melalui unggahan di platform Truth Social, Senin (7/9) waktu setempat, Trump mengancam akan memblokir penjualan pesawat Bombardier di pasar AS jika perusahaan tersebut tidak membangun fasilitas produksi di Amerika Serikat. Sikap ini muncul di tengah ketegangan dagang bilateral yang kian memanas, hanya sehari sebelum Kanada memberlakukan tarif balasan atas sejumlah produk AS.
Dalam unggahannya yang ditulis dengan huruf kapital, Trump menegaskan, "Tidak ada lagi penjualan Bombardier di Amerika Serikat!" Ia menambahkan bahwa jika Bombardier ingin menguasai pasar AS, perusahaan harus memproduksi di dalam negeri dan berhenti memperlakukan Amerika seperti 'celengan'. Pernyataan ini menjadi ancaman kedua dari Trump terhadap Bombardier tahun ini, setelah sebelumnya ia sempat mengancam akan mencabut sertifikasi pesawat Bombardier dan memberlakukan tarif 50 persen atas produk Kanada.
Langkah Trump ini dinilai sebagai bagian dari strategi tekanan yang lebih luas dalam negosiasi dagang yang gagal. Sebelumnya, AS telah memberlakukan tarif 50 persen atas produk Kanada senilai US$20 miliar, mulai dari stik hoki hingga semen. Kanada pun merespons dengan tarif balasan serupa yang mencakup baja, aluminium, dan produk susu. Ketegangan ini memuncak setelah Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memutuskan untuk menghentikan perundingan dagang, dengan alasan tuntutan AS yang tidak dapat diterima, termasuk pembatasan terhadap perjanjian dagang Kanada dengan negara lain.
Bombardier, yang berkantor pusat di Montreal, menegaskan bahwa pasar AS menyumbang lebih dari separuh pendapatannya. Perusahaan juga menyoroti kontribusinya terhadap perekonomian AS, dengan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja melalui rantai pasok yang melibatkan sekitar 2.800 perusahaan Amerika di 47 negara bagian. "Industri kedirgantaraan Amerika adalah pemenang yang jelas dalam perdagangan dan ekspor," demikian pernyataan resmi Bombardier. Mereka juga menyebut bahwa pesawat mereka menggunakan komponen buatan AS, seperti mesin dan avionik, serta berencana meresmikan fasilitas baru di Fort Wayne, Indiana, akhir tahun ini.
Namun, ancaman Trump kali ini menuai keraguan mengenai implementasinya. Sertifikasi pesawat di AS berada di bawah kewenangan Federal Aviation Administration (FAA), bukan Gedung Putih. Hingga saat ini, model Bombardier masih memiliki sertifikasi AS dan perusahaan dikecualikan dari tarif. Meski demikian, pernyataan Trump menandakan kelanjutan permusuhan yang dapat berdampak luas pada industri penerbangan global.
Bagi Indonesia, konflik dagang ini memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group banyak mengoperasikan pesawat buatan Bombardier, terutama untuk rute regional. Jika AS benar-benar melarang penjualan Bombardier, pasokan pesawat dan suku cadang ke Indonesia bisa terganggu, mengingat rantai pasok global yang saling terhubung. Selain itu, fluktuasi tarif dan kebijakan proteksionis dapat memicu kenaikan biaya operasional maskapai, yang pada akhirnya berimbas pada harga tiket pesawat di dalam negeri.
Analis penerbangan menilai bahwa ancaman Trump lebih merupakan taktik negosiasi daripada kebijakan yang siap dieksekusi. Namun, ketidakpastian yang ditimbulkan sudah cukup untuk membuat pelaku industri waspada. "Ini adalah sinyal bahwa AS siap menggunakan instrumen perdagangan untuk menekan mitra dagangnya, dan Bombardier hanyalah salah satu sasaran," ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Kanada akan tetap bertahan pada sikapnya atau mencari kompromi dengan AS. Jika perang dagang ini berlarut-larut, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga oleh industri penerbangan global yang selama ini mengandalkan stabilitas perdagangan lintas batas. Bagi Indonesia, langkah antisipasi dengan diversifikasi sumber pasokan pesawat dan suku cadang menjadi semakin relevan untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara.



