Ebola di Kongo: Petugas Pemakaman Jadi Garda Terdepan yang Terlupakan
Baca dalam 60 detik
- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menempatkan tim pemakaman pada risiko tinggi, bukan hanya dari virus, tetapi juga dari kemarahan warga yang kehilangan anggota keluarga.
- Keterbatasan sistem kesehatan dan konflik berkepanjangan di wilayah Ituri memperparah upaya pengendalian wabah, menjadikan petugas pemakaman sebagai titik kritis yang sering terabaikan.
- Pengalaman Kongo menjadi pelajaran penting bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam membangun protokol penanganan wabah yang humanis dan melindungi petugas lapangan.

Wabah Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) tidak hanya menguji ketahanan sistem kesehatan, tetapi juga menempatkan para petugas pemakaman sebagai garda terdepan yang harus berhadapan dengan risiko penularan dan amukan warga yang berduka. Di Provinsi Ituri, tim-tim kecil yang bertugas menguburkan jenazah harus bekerja di bawah tekanan fisik dan psikologis yang luar biasa, sementara keluarga korban kerap meluapkan kemarahan karena protokol kesehatan membatasi ritual pemakaman tradisional mereka.
Sejak wabah merebak pada pertengahan Mei, tim pemakaman seperti yang dipimpin Yuma Adolphe telah dikerahkan ke berbagai titik penyebaran. Mereka bertugas menggali kuburan, menyiapkan jenazah, dan memastikan prosesi pemakaman berlangsung aman. Dengan bayaran sekitar US$20 atau setara Rp352.000 per hari, mereka menjadi bagian dari pekerja garis depan yang berupaya menghentikan laju penularan. Namun, upaya tersebut kerap berbenturan dengan tradisi dan emosi keluarga yang ditinggalkan.
Adolphe mengungkapkan bahwa jenazah pasien Ebola harus ditangani oleh petugas terlatih karena virus masih dapat aktif setelah kematian. Akibatnya, keluarga tidak diperbolehkan menyentuh atau melakukan seluruh ritual pemakaman sesuai adat istiadat setempat. "Biasanya, jenazah diserahkan kepada pihak keluarga, yang kemudian dapat mengurusnya sesuai keinginan mereka dan adat istiadat Afrika kita," ujarnya. Larangan ini menjadi sumber kesalahpahaman yang memicu kemarahan, bahkan serangan terhadap petugas. Sejak Mei, sejumlah insiden penyerangan telah dilaporkan di wilayah pusat wabah, dan Jeanne Alasha, penasihat gubernur militer Ituri untuk urusan kesehatan dan kemanusiaan, menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat dikenai sanksi hukum.
Salah satu contoh nyata adalah pemakaman Justine Habineno, anggota paduan suara berusia 36 tahun yang meninggal akibat Ebola. Ibunya, Sofia Wanito, hanya diizinkan melihat jenazah dari jendela rumah sakit dan tidak dapat menyentuh peti mati. "Dulu, kami tidak meninggal seperti ini. Saya bahkan tidak bisa menyelimutinya sendiri dan memberikan penghormatan terakhir," tuturnya dengan pilu. Kisah ini menggambarkan dilema antara kepatuhan pada protokol kesehatan dan kebutuhan emosional keluarga yang berduka.
Di tengah konflik bersenjata, pengungsian massal, dan lemahnya sistem kesehatan, pengendalian wabah semakin rumit. Benjamin Muhindo, anggota tim pemakaman lainnya, mengaku keluarganya khawatir ia membawa virus ke rumah, tetapi ia tetap menjalankan tugas. "Kami bekerja di bawah tekanan dan terus-menerus berpacu dengan waktu. Kami tidak punya pilihan. Kami hadir di sini untuk melindungi masyarakat kami," katanya. Pernyataan ini menegaskan dedikasi para petugas di tengah keterbatasan yang ada.
Konteks Indonesia: Meskipun Ebola belum menjadi ancaman langsung di Asia Tenggara, pengalaman DRC memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya komunikasi risiko dan pendekatan budaya dalam penanganan wabah. Indonesia, yang memiliki keberagaman tradisi pemakaman dan sering menghadapi wabah seperti demam berdarah atau penyakit baru, perlu memastikan bahwa protokol kesehatan tidak mengabaikan aspek sosial dan emosional masyarakat. Pelibatan tokoh masyarakat dan edukasi sejak dini menjadi kunci untuk mencegah resistensi terhadap kebijakan kesehatan publik.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pemerintah DRC dan organisasi internasional dapat menyeimbangkan antara penegakan protokol kesehatan dan penghormatan terhadap tradisi lokal. Tanpa pendekatan yang lebih humanis, upaya pengendalian wabah berisiko terus menghadapi perlawanan dari masyarakat, yang pada akhirnya dapat memperpanjang krisis. Apakah model penanganan yang lebih partisipatif akan diadopsi? Atau justru pendekatan keamanan yang lebih ketat akan diterapkan? Jawabannya akan menentukan efektivitas respons wabah di masa mendatang.



